DEAR SAKHA

DEAR SAKHA
Chapt 6



Martabak manis yang di bandrol dengan harga mulai 20 sampai 35 ribu itu nyatanya mengundang banyak pembeli di hari pertamanya.


Bergantian orang mengantri di depan gerobak Sakha dan Tama, Meski mereka akui tangannya sedikit pegal tapi bahagia yang merasa rasakan justru melampaui rasa pegal tersebut.


Jadi seperti rasanya menerima uang dari hasil kerja keras sendiri?


"Kaya kayaaa" Ujar Tama kala menerima uang dari pembelinya, saking ramainya dia jadi lupa ini uang dari pembeli yang ke berapa.


Sakha tertawa, tangannya masih sibuk menuangkan susu rasa coklat ke dalam Martabak. Dia juga tidak menyangka hari pertama jualan bisa seramai ini


"Alhamdulillah, gue bersyukur sih jualan kita bisa serame ini, rada enggak percaya juga"


"Ho' o, ternyata emang bener ya, kadang tuh kita harus bayangin sesuatu yang gak enak dulu,"


"Karna di banding menepati, Realita lebih sering menghianati ekspetasi, ya kagak?" Sambung Tama


lagi lagi Sakha hanya tertawa. Ia lanjut membuat martabak lain untuk pembeli selanjutnya. Kanaya pasti akan senang setelah dia tau Martabak yang di jual Sakha laku keras.


"Datang lagi ya mbak" Ujar Tama sambil menyerahkan satu porsi martabak yang sudah di bungkus kresek hitam tersebut pada salah satu pembelinya, wanita itu tampak mengangguk


"Alhamdulillah, lariss"


"Rejeki anak Baskoro"


"Rejeki anak Firman"


"Eh tam, martabaknya nanti sisain seporsi ya"


"Buat siapa?" Tanya Tama, pemuda itu menatap sakha sebentar, Lantas tertawa setelah menginggat Kanaya, "Definisi suami sayang istri nih"


"Gue Sama dia temen, jadi sayang gue ke dia sebagai temen bukan sebagai istri"


"Lain dulu lain sekarang, dulu mungkin temen, lha sekarang kan dia istri lu"


"Gue sama Kanaya emang bisa nyatu, tapi untuk saling mencintai, " Sakha mengedikkan kedua bahunya


"Gue rasa, impossible"


"Kadang ya Kha, Cinta itu bisa hadir tanpa kita tau, insting gue mengatakan, kalian bisa kok saling mencintai mungkin emang gak sekarang"


Sakha terdiam.


Itupun jika merasa nantinya bisa saling mencintai


tapi kalau tidak, Hubungan pernikahan ini akan Sakha bawa kemana?


Dan seberapa jauh mereka berdua bisa mempertahankan.


"Tam, kalau prediksi lo enggak akan terjadi, gue sama Kanaya harus gimana? Alasan apa yang bakalan kita gunain untuk mempertahankan pernikahan ini, sedangkan kita enggak saling mencintai"


"Lo harus punya anak lha"


uhukk


•••


Obrolannya bersama Tama tadi masih memenuhi pikiran Sakha.


apa anak satu satunya jalan keluar agar pernikahannya dengan Kanaya langgeng.


Tapi ini kemauan Sakha, bagaimana dengan Kanaya.


apa gadis itu juga menginginkan pernikahan ini menjadi pernikahan yang pertama sekaligus terakhir untuknnya.


Secara mereka di nikahkan atas kemauan orang lain, bukan kemauan mereka sendiri, juga Sakha tidak tau apa Kanaya sudah sepenuhnya ikhlas menerima ini.


Lelaki itu membuka pintu rumah, mengucapkan salam dengan pelan. Sakha pikir Kanaya sudah tidur, ternyata gadis itu menjawab salamnya.


"Lo belum tidur?"


Kanaya berdecih, pertanyaan macam apa itu! sudah jelas jelas dirinya belum tidur, Sakha juga bisa melihat kan dia sedang apa?


"Perasan besok enggak ada tugas yang harus di kumpul, lo belajar apaan"


"Itu sih elo, belajar kalau ada tugas aja, gue kan anak rajin"


Sakha mendekat, melihat bagian bab yang Kanaya kerjaan. Sepertinya bab itu sudah mereka lewati bahkan sudah di anggap tuntas


"Kayak gimana yang lo bilang rajin! kayak gini rajin!"


"Astagfirullah, sebagai guru les lo, rasanya gue pengen sleding lo sampe ke Mesir"


"Ayoo ayoo, sleding gue, gue pengen banget tau ke mesir" Heboh Kanaya. Gadis itu tersenyum lebar, membayangkan bagaimana rasanya saat dia benar benar sampai ke Mesir, pasti menyenangkan. Apalagi tidak perlu mengeluarkan biaya trasnportasi, di sleding saja sampai ke sana. Apa kaki Sakha tidak ajaib?


Sakha menaruh martabak tadi tepat di depan Kanaya, dan dia langsung pergi meninggalkan gadis itu


"Martabak?"


"Menurut lo" sahut Sakha dari dalam, yang mana Kanaya langsung tersenyum.


"Tau aja gue suka coklat, suami terbaik lu Kha"


"Sisanya itu nay"


"Aisssshh"


•••


kriiing .....


Kriiing......


Kriiing....


Alarm yang terus berbunyi tersebut akhirnya berhasil membangunkan Kanaya. Sang empu menatapnya tajam.


"Ini siapa sih yang masang Alarm di Kamar gue" Kanaya berdecak sebal. Seingatnya semalam dia tidak memasang Alarm, dan kalaupun dia memasang alarm tidak mungkin sepagi ini.


"Pasti Sakha, emang minta di ulek tuh anak"


"Sakhaaa woiii, kesini gak lo"


Kanaya menyingkirkan selimutnya, bergegas keluar dari kamar guna mencari Sakha. Gadis itu membuka pintu kamar Sakha tanpa mengetuk terlebih dahulu. Mulutnya siap untuk memarahi suaminya tersebut


"Sakha, Lo tuh kalau masang Alarm bisa ngira ngira gak sihhh, Lo tauu.. lohh, dia kemana?"


Kamarnya kosong, dalam artinya tidak ada Sakha di dalam. Lantas kemana dia?


"Uda sholat?"


Bahu Kanaya spontan naik, Terkejut dengan pertanyaan dari belakang.


"Lo.. lo dari mana?"


"Ya menurut lo gue dari mana?" Ujar Sakha membalik pertanyaan Kanaya.


"Dari masjid" cicitnya pelan.


Sakha tersenyum, itu Kanaya tau kan, jadi kenapa harus teriak teriak!


"Sholat gih, lo belum sholat kan"


"Lo lupa ya kan gue-"


"Maksimalnya orang datang bulan itu 15 hari nay, kalau darahnya masih keluar di hari ke 16 itu namanya darah istiqodo dan lo uda di perbolehkan untuk sholat, tapi lo masih harus pakai pembalut. Dan harus mandi wajib terlebih dahulu pastinya" potong Sakha menjelaskan. Sebagai suami tanggung jawabnya bukan hanya perihal masalah masalah dunia, Sakha juga harus bertanggung jawab membimbing Kanaya dalam urusan agama seperti ini. Apalagi ini berkaitan dengan ibadahnya.


"Gue hitung ini hari ke 17 lo bilang haid,"


"Lo ngehitung? serius?" Ujar Kanaya membelagakkan matanya, lagi lagi Sakha membuatnya terkejut.


Sakha mengangguk


"Sebagai suami, tanggung jawab gue tuh besar" kata Sakha. Sedang gadis itu masih mengercap, "Kita aja nih, nikah baru kemarin"


"Lo pikir gue nyuruh lo sholat cuma baru baru ini, pas sekolah juga gue sering kan nyuruh lo sholat"


"Ya juga sih"


"Tapi Kha sebenernya itu gue cuma-"


"Gue tau lo enggak beneran haid kan?"


Kanaya menghela nafasnya, kemudian mengangguk lemah, dia memang belum datang bulan.


"Lain kali enggak usa bohong"


Sakha mengusap lembut puncak kepala Kanaya, sama sekali dia tidak marah.


"Lagian kan sholat itu kewajiban lo sebagai umat Islam. Allah enggak butuh elo nay, lo ibadah buat diri lo sendiri, yang ada elo yang butuh Allah, Elo butuh tuhan kapan pun dan di mana pun lo berada"


"Dan gue minta tolong, patuhi gue sebagai suami lo, izinin gue buat bimbing lo nay"


"Lo mau?"