
"BELI BURUNG MERPATI CUMA BUAT BEGINIAN?" Lelaki dengan Hoodie oversize tersebut mengetuk dua kali tulisan burung merpati di buku tulis temannya.
Lalu anggukan dari beberapa orang saling bersautan
"Dari pada balon," Ujar laki laki yang juga seangkatan dengannya.
Lelaki itu menarik buku tulisannya dan ikut mengetuk tulisan Burung merpati berulang kali seperti yang Tama lakukan sebelumnya, sedikit dia mendongak untuk melihat raut dari teman temannya yang lain "Kalian tau kan, angakatan kemarin uda pake balon buat di terbangin di acara puncak, balon dua ribuan aja bisa semeriah itu, apalagi kalau angkatan kita pake burung merpati"
"HEH! LO PIKIR BURUNG MERPATI MURAH" Tama kian bersungut-sungut, pasalnya ini seperti berlebihan
"Lo kalau mau terbangin burung merpati, silahkan! tapi mikir dong, gue yang sekarang uang jajannya cuma dikit bisa apa?"
"Mending pake kertas aja deh" Celetuk anak berkaca mata yang sedari tadi diam, sementara yang lain mulai antutias melihatnya, menunggu kata apa yang akan di ucap setelah ini
"Nanti kita buat pesawat dari kertas, terus kita terbangin, Keren kan?"
"ATAU LO AJA YANG GUE TERBANGIN" Sembur laki laki yang baru menyesap rokoknya. Kesal sekaligus tidak habis pikir dengan jalan pikiran Radit.
"Kalau kata gue, mending lampion, bebas mau beli ataupun buat sendiri, yang penting bisa melayang pas di lepas nanti" Ujar Sakha.
"Tapi apa enggak enak merpati?"
"Gue setuju sama dia sih, lo mau merpati kek, rajawali, Garuda juga terserah deh" Anak yang merokok itu menyahut lagi.
Yang mana Tama langsung terkekeh "Lo mau kakak tua juga gak papa" Ujarnya diiringi tepukan di pundak anak itu, dan di susul gelak tawa dari yang lain.
"Kalian yang enggak setuju sama usulan gue, boleh speak up,"
"Gue setuju sama lo Kha, kalau beli burung merpati males banget gue lepas, mending gue kandangin"
"Yaudah lah," Laki laki yang mengusulkan untuk menerbangkan merpati akhirnya ikut yang lain, melepas lampion juga tidak begitu buruk.
•••
Ketika rapat dadakan itu selesai, orang pertama yang Sakha hampiri adalah Kanaya, gadis itu duduk dihalaman sekolah dengan mencabut rerumputan seperti tidak ada pekerjaan lain yang bisa dia kerjakan.
Alih alih mengajaknya untuk langsung pulang, Sakha malah duduk di samping gadis itu, tawanya pecah begitu melihat dua helm yang tengah Kanaya pangku
"Enggak bakalan ada yang ambil kali, ngapain lo bawa helm segala sih"
"Helm helm gue" Ketusnya sambil masih mencabuti
rumput, terdengar Sakha menghela nafas di sisi kanannya
"Yang satu emang punya lo, lha yang satu lagi punya siapa? Lo lupa kalau itu punya gue?"
"Gue cuma khawatir kalau nanti ini helm jatuh terus lecet lecet, kan lo yang sedih, baru juga beli"
Sudahlah terserah Kanaya, Akhirnya Sakha berdiri, mengambil helmnya dan melangkah ke parkiran, tapi bukannya ikut, Kanaya masih duduk di sana
"Lo enggak balik? Mau nginep di sekolah? "
"Ya kali" Katanya setelah itu beranjak, ia berlari kecil sampai berjalan berdampingan bersama Sakha "Jadinya gimana?"
"Apanya?"
"Yang tadi itu loh, yang merpati merpati"
"Enggak jadi, merpati mahal,"
"Lha teruss?"
"Kita lepas lampion, gue jamin bakal meriah"
"Wihh, bagus sih pasti kereeen"
"Woiyaa jelas"
Keduanya lantas naik ke motor, setelah ini mereka tidak langsung pulang, sebab Sakha harus belanja untuk keperluan martabak. Tapi bukan di Swalayan seperti yang sebelumnya, mereka akan ke pasar tradisional, kata om Tama, lebih baik ke pasar tradisional sebab harganya pasti murah.
Didepannya Sakha menyungingkan senyum, dia juga belum pernah, Tapi kata Tama, Belanja di pasar tradisional harus sabar, karna disana jelas akan berdesak desakan
"Gue juga belum,"
Lantas dengan begitu saja Kanaya tergelak,
"Terus kita gimana hah? lo aja belum pernah ke pasar tradisional"
"Gimana apanya, yang tinggal belanja, jangan heran kalau jalan aja kudu desak desakan"
•••
Sesampainya di pasar tradisional
Kanaya menghela nafas di depan lorong pasar tersebut, terlihat sekali bagaimana orang orang yang berjalan memenuhi lorong itu. Ada ibu ibu yang membawa belanjaan di kanan dan kirinya hingga memenuhi lorong sebab lorongnya kecil, ada bapak bapak yang mengangkat karung dipundaknya hingga menyusahkan pria lain di belakang dan di depannya, ada beberapa anak kecil yang memegang erat ujung baju ibu mereka sebab takut terpisah, juga ada orang tua yang keberatan dengan belanjaanya hingga berjalan begitu pelan.
Apa ini yang mereka sebut dengan Pasar tradisional?
"Kha, kata gue mending kita balik"
Saat Kanaya hendak berbalik, tangan Sakha mencegah pergerakan gadis itu
"Enggak separah kayak yang lo pikir, Uda ayo masuk" dan ia langsung mengandeng tangan Kanaya, membuat Kanaya geming dan ketakutannya akan sesak nafas saat berjalan di lorong itu sirna berganti dengan ketakutan yang lain. Kanaya takut jantungnya keluar dan dia mati di pasar ini.
"Kha, lepasin, gue bisa jalan sendiri kali"
"Udaah, nanti lo kepisah sama gue kan gak lucu, apalagi pasarnya serame ini"
Dan benar juga, Siaaal, jadi ini siapa yang salah?
Sakha, jantung Kanaya atau pasar ini Karna terlalu ramai.
Sampai di ujung lorong, dua anak muda itu menemukan tiga persimpangan, dan jelas sekali dari wajah mereka jika mereka sama sama bingung akan kemana
"Harusnya si Tama sialan itu ikutt" Desis Kiana, dia jelas tau dimana letak penjual yang akan Sakha beli jualannya. Kalau begini kan bukan hanya repot, tapi bingung juga. Lama lama Kanaya depresi setelah pulang dari sini
Lama terdiam, tiba tiba tangan Sakha menggandengnya lagi, mengajak Kanaya ke persimpangan paling Utara
"Kalau kita tersesat, terus enggak bisa pulang gimana, lo kira ini pasar kecil"
"Lebai, enggak mungkin tersesat" Ujar Sakha, mata lelaki tersebut menjelajah ke sembarang arah, yang akan mereka cari pertama kali adalah penjual tepung.
"Itu apaan tuh yang di taruh ke timbangan, tepung bukan?"
"Yang mana"
"Ituu" Seru Kanaya menunjuk ke toko bahan bahan roti, membuat Sakha menghela nafasnya "Iya kali, orang itu ada tulisannya toko bahan bahan roti, ayo ke sana"
"Buk, ini kurangnya yang kemarin"
Ibu ibu berkerudung itu nampak menyerahkan uang 200 perak pada ibu ibu yang tengah menimbang terigu, dan langsung di terima di sertai seulas senyum
"Waduh, terimakasih loh"
"Loh kok malah terimakasih, ya harusnya saya yang minta maaf,"
"200 perak mungkin enggak berarti buat sebagian orang, tapi buat pedagang kecil seperti saya, ini juga termasuk laba mbak, jadi saya seneng kalau ada orang yang punya utang ke saya meskipun cuma 200 perak tapi tetap akan di kembalikan, sebab ada juga yang menyepelekan"
Kanaya yang mendengarnya ikut tersenyum, ia jadi ingat percakapannya dengan Bang Rizal beberapa bulan yang lalu, Saat Kanaya baru saja pulang dengan es marimas di tangannya, dia menghitung beberapa uang perak yang baru dia dapat dari ibu penjual es, tidak sengaja satu dari beberapa uang perak itu jatuh, menggelinding sampai terhenti di depan kaki bang Rizal
"Uang lo?"
"Ambil aja, lagian cuma seratus perak" Kata Kanaya yang langsung ingin masuk, tapi Rizal segera menyusul adiknya itu dan menyerahkan uang perak tadi
"Uang sejuta kalau enggak ada ini juga enggak jadi sejuta"
"Lo tau enggak seberapa penting perannya uang perak di mata orang lain, pedagang kecil misal, kayak pedagang jajan rentengan gitu, labanya lo pikir besar, cuma 500 perak nay, dan seumpama dapat tambahan meskipun cuma seratus perak itu mereka uda seneng, Naah lo, uang malah di buang buang, lo pikir papa dapat Ini dari got"