
Ketika langit terlihat semakin gelap, dalam hatinya Kanaya hanya bisa menghitung mundur bahwa hujan akan turun. Lalu pada awan awan yang bergerak, Kanaya menatap mereka nanar.
"Hujan tuh berat nggak sih? Kalau iya turunin aja, nggak papa kok gue basah kuyup, lagi pula gue kuat, jadi kalau kehujanan sekali doang mah santuy"
"Tapi gue nggak mau lo sakit"
Tepat saat hujan betulan turun, pundak Kanaya tiba tiba di tarik, menuju dekap hangat juga menuju wangi colonge yang menenangkan.
Lalu ketika ia mendongak, awan awan yang bergerak tadi tidak ada, atau lebih tepatnya tertutup oleh payung yang seseorang bawa. Dan ketika Kanaya menoleh, ia malah mendapati Sakha dengan tatapan datar yang menyimpan kekhawatiran. Tatapan yang selalu berhasil membuat Kanaya terdiam juga menjadikan hatinya ikut menghangatkan. Sekalipun hujan tengah turun, tapi selagi dia sedekat ini dengan Sakha, hujan tidak ada apa apanya bagi gadis itu.
"Lain kali nggak usa nunggu gue" Kata lelaki itu. Ia menyimpan payungnya di tangan kiri, lantas tangan yang kanan bergerak guna merapikan rambut Kanaya. Juga memastikan bagaimana kondisi rambut Kanaya. Sakha tidak peduli jika gadis itu jarang keramas, ia juga tidak memastikan Kanaya sudah keramas atau belum. Ia mengusap rambut tersebut sebab ingin tau, apa ada helai yang basah?
Tapi selanjutnya Sakha tersenyum, merasa dia lebih dulu menarik Kanaya di banding hujan yang turun.
"Pegangin nay"
"Gue?"
"Bentar doang"
Gadis itu berkedip tidak paham saat Sakha tiba tiba menyuruhnya membawa payung.
Please, yang tadi uda romantis banget samsekk.
Rasanya Kanaya ingin menangis saja kalau begini.
"Coba tangan lo di rentangin satu"
"Gue kan bawa payung, kalau payungnya jatuh ntar lo nyalahin gue lagi"
Sakha tergelak, meski rasanya cenat cenut sebab Kanaya yang tidak paham akan maksudnya melepas jaket. Dan lagi, sejak kapan memegang payung harus dengan dua tangan sekaligus?
"Lo punya berapa tangan sih, dua kan?"
"Iyalah" Kanaya jelas bersulut sulut, kontras dengan Sakha yang semakin tertawa.
"Pegang payung kan bisa pake tangan satu, lagi pula payung gue enggak seberat itu kali"
"Ya juga sih"
"Yaudah mana tangan lo"
Kanaya tentu terkesiap, berbeda dengan Sakha yang sibuk merapikan jaket di tubuhnya. Dan begitu selesai, Sakha mengambil lagi payung di tangan Kanaya, merangkul lagi gadis itu.
Sekalipun yang lelaki tidak bersuara, dan yang perempuan sibuk terdiam, tapi begitu Sakha melangkah, hebatnya Kanaya yang masih menatap Sakha juga ikut melangkah. Bahkan langkah mereka terlihat beriringan.
Dan semua itu lagi lagi bergerak lambat dalam kepala Kanaya. Hujan yang jatuh, mereka yang berjalan, atau kendaraan yang melintas.
Di bawah naungan payung, Kanaya terus memandangi Sakha, berbalik dengan Sakha yang fokus menatap depan, dan di bawah naungan payung, Kanaya berharap kepada hujan untuk tidak berhenti dulu. Ia ingin menyimpan semua ini dalam durasi yang lebih lama. Ia ingin memperjelas lagi apa saja yang ikut dalam cerita mereka. Selain hujan, mungkin ada tanah yang tergenang, atau pohon pohon yang ikut basah, klakson yang saling bersautan, bahkan jeritan anak kecil sebab mereka begitu bahagia. Lantaran bisa menyatu dan menari di bawah hujan yang cukup deras ini.
Kanaya terkekeh. Kali ini dia tidak lagi memandangi Sakha, malah anak anak tadi
"Lo kenapa? Pengen punya anak?"
"Sembarang" Kanaya tentu mengeblak bahu Sakha, juga melotot bukan main. Membuat suaminya itu kembali tertawa. Tapi sayangnya, tawa itu sepenuhnya bukan tawa. Ada kegamangan yang tidak bisa Kanaya baca di sana.
Sakha bukan laki laki yang senang terburu buru, apalagi ia tau, menikah bersama Kanaya artinya ia juga akan melangkah bersama gadis itu. Kemana pun jika ia mulai berjalan, maka Kanaya harus ikut. Sakha tidak papa jika Kanaya berjalan pelan, sebab di banding buru buru, berjalan dengan pelan kadang lebih baik. Ia juga tidak menginginkan anak seandainya Kanaya belum siap, hanya saja Sakha takut, Sakha takut Kanaya pergi sebab ia tidak punya alasan untuk bertahan. Juga sebab ia yang tidak mampu menahan dia untuk tidak pergi
Sebab, jangan pergi menurut Sakha terlalu egois, terlebih jika sebelumnya ia melakukan sesuatu yang begitu menyakitkan untuk gadis itu.
Dan secinta apa Sakha kepada Kanaya, gadis tersebut punya hak atas dirinya sendiri.
"Uda makan?" Hingga pada akhirnya Sakha berhenti memikirkan bagaimana nanti dan bertanya seperti apa yang dia tanyakan biasanya. Kanaya sendiri sudah menunggu pertanyaan itu, sebab pertama kali setelah Sakha keluar kelas atau Kanaya yang keluar kelas, maka pertanyaan Sakha tidak lain adalah "Uda makan?"
"Sebenarnya uda, tadi malakin bang Rizal soalnya, tapi laper lagi"
"Bang Rizal ke sini?"
Gadis itu mengangguk, bersamaan dengan Sakha yang langsung mengernyit. Pasalnya ada apa sampai bang Rizal menemui Kanaya di kampus.
"Bukan masalah penting" kata Kanaya, yang seolah tau apa yang Sakha pikirkan.
"Dia cuma nganterin Hair dryer sih, itu pun gara gara gue yang ngebet"
"Kebiasaan"
"Ya selain itu juga gue kangen tau sama dia"
Yang sama sekali tidak Sakha percaya. Sebab sangat tidak Kanaya sekali.