
Pada akhirnya, semua Maba yang telat pagi ini tetap mendapat hukuman, tanpa terkecuali sekalipun mereka punya bukti dibalik alasan mereka. Misalnya calon maba dijurusan teknik, yang ditanya mengapa bisa telat, dia berkata jujur bahwa motornya mogok, dua senior tadi juga betulan memeriksa motor mahasiswa itu, tapi seolah tidak ada pilihan lagi untuk mereka selain menghukumnya terlebih dahulu sebelum mengizinkannya masuk.
Hukumannya juga tidak tanggung tanggung, anak laki laki push up 100 kali dan anak perempuan skotjump 100 kali juga, tanpa ditanya apakah mereka mereka ini sudah dalam kondisi kenyang? Atau setidaknya mereka memastikan lebih dahulu, bagaimana jika energi para maba yang terlambat ini mendadak habis padahal mereka baru sampai disini?
"Oke cukup" Ucap si senior perempuan, mengulas senyum begitu hitungannya sampai pada angka 100.
Seketika para maba perempuan yang telat dan baru saja menyelesaikan 100 kali skotjump berteriak lega, Kanaya sampai tiduran diatas rerumputan yang belum jelas kotor bersihnya. Ia memandang langit lekat lekat, kedua tangannya saling bertaut dibawah kepala diiringi suara Raka yang masih sibuk menghitung sudah berapa kali anak laki laki melakukan push up.
Gadis itu jadi berpikir, apa setiap maba akan berakhir seperti ini jika dia telat, padahal ia punya alasan yang sebenarnya bisa ditoleransi.
Gadis itu menoleh sekilas saat merasa ada pergerakan dari orang lain di samping kanan ia terlentang, dan benar saja, ternyata gadis dengan pita kuning tadi.
"Ngapain lo?"
"Makan rujak. Uda tau gue tiduran"
Kanaya tertawa, kembali menatap langit dan bertanya pada gadis itu "Gue tau, Maksutnya ngapain tidur di samping gue, disana sana kan bisa"
"Enggak boleh? Kan suka suka gue" begitu jawabnya, tidak hanya terlentang, ia juga menjadikan tangannya sebagai bantal. Mungkin kalau dilihat dari atas sana, mereka ini tidak kalah dengan anak kembar pada umumnya.
"Btw nama lo siapa sih, nama gue Jani, Anjani lebih tepatnya"
Kanaya tersenyum, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan tersebut, ia juga mengulurkan tangannya pada Anjani meski masih terlentang, dan dengan begitu saja Anjani langsung menjawab uluran Kanaya
"Gue Kanaya,"
"Jurusan?"
"Sastra. Lo?"
"Psikologi"
Yang setelah itu Kanaya hanya bergumam, sama seperti Sakha, ternyata Anjani juga memilih jurusan Psikologi. Dia pikir dia bisa satu kejuruan dengan Anjani, setidaknya dia bisa menjadikan Anjani sebagai teman dekatnya setelah Tama, Sakha ataupun pak Imran, selain Bu Ani Kanaya juga ingin memiliki teman perempuan yang seumuran. Tapi seperti membeli jajan dengan hadiah kupon, alih alih mendapatkan Selamat, Kanaya malah dapat kupon dengan tulisan Anda belum beruntung, atau tulisan coba lagi misalnya.
"Gue pikir sastra juga"
"Pengen sih"
"Tapi gue lebih suka psikologi"
Anjani tertarik dengan dua jurusan itu. Dengan jurusan psikologi tentunya dia ingin menjadi psikolog. Dan membantu orang orang yang bingung harus menyelesaikan masalahnya dari mana, atau membantu orang orang yang ceritanya butuh didengar. Anjani ingin menjadi sosok yang tidak hanya bermanfaat untuk orang orang disekitarnya saja, kalau bisa dia ingin bermanfaat untuk semua orang.
Dan dengan jurusan sastra, Anjani ingin menjadi seorang penulis, yang tulisannya akan tetap hidup sekalipun nanti dia sudah mati, tapi setelah berusaha sejauh ini, Anjani mengaku menyerah, dia akhirnya lebih memilih untuk masuk ke psikolog. Anjani juga sudah mencari tau apa saja yang berkaitan dengan jurusan psikolog, ia yang awalnya menghindari matematika semakin kesini semakin semangat belajar matematika, sebab matematika juga salah satu pelajaran yang akan dia temui dalam Psikologi nanti.
Harapan gadis itu juga sama dengan para maba lainnya, semoga dia tidak salah masuk jurusan dan menyesal dikemudian hari.
Sebab Anjani ingin menjadi orang yang selalu menikmati proses.
•••
Selesai dengan hukumannya, para maba kembali berbaris, barisan yang masih persis seperti tadi, lalu mereka berhitung dari 1 sampai 30, angka yang sama nanti akan disatukan jadi satu baris, dan kira kira mereka tidak kurang dari 60 orang.
"Oke, silahkan baris dengan orang yang dapat angka sama dengan kalian, urut dari nomor satu dibarisan paling kanan lalu disusul dengan nomor nomor yang lain"
Para maba tersebut langsung mengubah barisan, yang mendapat angka satu berbaris dengan angka satu, angka dua dengan angka dua, dan begitu sampai seterusnya.
Setelah dirasa cukup, Raka mengangguk pelan, lantas mengambil satu kardus Aqua yang memang sudah disiapkan oleh panitia lain, membagi dengan masing masing barisan akan mendapat satu gelas Aqua untuk 2 orang sekaligus.
Sebenarnya Kanaya tidak mempermasalahkan jika satu gelas Aqua tersebut untuk dua atau tiga orang, Asal jenis kelamin mereka sama. Tapi kalau begini?
Lelaki yang baru saja menyodorkan Aqua pada Kanaya tersebut mengerutkan dahi bingung, masalahnya mereka sama sama selesai dihukum, sama sama haus juga pastinya, tapi kenapa gadis didepannya ini menolak.
"Lo jijik ya bekas gue, lo enggak haus gitu?"
"Haus lah, haus banget" Kanaya bahkan melenguh panjang sebelum akhirnya berujar lagi
"Tapi dalam Islam tuh yang begini lebih baik dihindari, takutnya memicu syahwat apalagi lo bukan mahram gue" tutur gadis itu, matanya menatap nanar pada gelas Aqua yang sudah ditengak hingga tinggal menyisahkan setengah.
Ibarat orang yang sudah hampir mati karna lelah dan kepanasan setelah cukup jauh berjalan di luasnya padang pasir, meski pada akhirnya Kanaya menemukan air ditengah tengah perjalanannya, gadis itu tidak punya hak untuk mengambil karna air tersebut bukanlah miliknya, dan yang bisa Kanaya lakukan hanyalah memandangi air itu dengan wajah nelangsa.
Sementara dari tempatnya berdiri, Sakha samar samar mendengar ocehan Kanaya, ia tersenyum sebelum akhirnya menyerahkan Aqua yang belum dia buka itu pada gadis berkerudung yang berdiri tepat dibelakangnya
"Habisin, lo haus kan?"
Gadis itu jelas terkejut, pasalnya dia betulan haus, tapi bukan waktu yang tepat untuk menjadi egois. Dia tau lelaki didepannya juga tak kalah haus.
"Mending kamu yang habisin," begitu katanya, membiarkan tangan Sakha melayang sebab Aqua itu tak kunjung dia ambil.
Sakha terkekeh, sebelum kesal dan mendesis setelah itu
"Lo tau enggak gue tadi habis push up"
"Iya" Kata perempuan tadi yang langsung menjawab
"Tangan gue pegel, makin pegel lagi kalau terus terulur kayak gini, apa perlu gue bukain terus gue pegangin lo minum?"
"Pepet terosss, enggak dinikahin aja sekalian" Gerutu Naya, ia jelas mendengar obrolan dua orang itu, awalnya dia senang sebab Sakha juga tidak mau minum dengan orang lain dengan gelas yang sama, tapi makin kesini Kanaya semakin ingin menempeleng kepala Sakha.
"Kamu enggak minum"
"Eh,"
"Kaget ya?" Tanya Raka, ia terkekeh sebelum memberi Kanaya satu gelas Aqua, yang pastinya berhasil membuat Kanaya terkejut
"Saya juga Islam, saya tau alasan kamu enggak mau minum bekas laki laki ini, Cepet ambil"
"Ini beneran kak"
"Enggak mungkin juga kan saya bohong,"
Meksi ragu ragu Kanaya tetap mengambilnya, membuat Raka geleng geleng lantas pergi meninggalkan gadis itu. Ia kembali berkeliling dibarisan para maba dan menyodorkan Aqua pada maba maba yang belum minum, dan dengan suka rela memberikan Aqua tadi pada rekannya. Ia kagum dengan maba yang seperti itu, sekalipun ada yang mengaku jijik tapi mereka tidak membiarkan diri mereka menjadi egois. Dan disini Raka juga ingin menyampaikan, Senior itu bukanlah Tuhan yang setiap perkataannya harus kita benarkan, Senior juga bukanlah Tuhan yang setiap perintahnya harus dijalankan.
•
•
•
Raka itu idaman sebenarnya, cuma rada gimana gitu😂
Dia disini bakalan jadi senior yang bijak, enggak kalah bijak kok sama suaminya Naya😂😂
btw gais, Terimakasih buat yang uda baca, like dan komen cerita ini. Sama seperti cerita pada umumnya, cerita ini jg akan ada konflik, berat atau ringan yang pasti bakalan ada.
Jadi ikuti terus yaaa...
Sampai jumpa di chapter selanjutnya