
Siang kali ini, sebenarnya Sakha tidak ada kesibukan apapun bersama Habibah. Tapi yang Kanaya lihat, lagi lagi keduanya berjalan berdua, mengobrol di sepanjang jalan, lalu berakhir di warnet.
Gadis itu menatap mereka sok dramatis, Kanaya betulan tidak marah. Hanya saja lucu setiap kali ia melewati warnet samping kampus, pasti ada Sakha dan habibah. Setiap kali melewati warnet kampus, ada wajah Sakha yang lelah dan wajah ayu Habibah yang nampak bingung.
Sekali lagi Kanaya terkekeh, sebelum akhirnya melangkah pergi dan menjauh dari sana.
Membiarkan Sakha dan Habibah menuntaskan urusan mereka. Juga membiarkan Sakha bertanggung jawab dengan apa yang sudah seharusnya ia lakukan dalam kondisinya yang Alhamdulillah tidak apa apa. Entah kenapa, Kanaya merasa jika pemandangan yang seperti itu seharusnya tidak terlihat aneh.
"Enggak di mata-matain lagi?"
"Nggak ah,"
"Lagi pula gue sama Sakha kan uda gede" Jawab Kanaya. Sesaat sebelum ia mengambil es krim yang Raka sodorkan.
Raka sendiri hanya tersenyum. Kembali membuka es krim miliknya dan berjalan membersamai langkah Kanaya. Sekalipun ia tidak tau, langkah itu justru akan membawa dia ke tempat yang mana.
Raka hanya terus berjalan. Menikmati satu cone renyah dari es krim vanila yang sudah di campur dengan coklat dan biskuit. Sesekali ia akan melirik pada Kanaya, tapi berbanding dengan dia, Kanaya tidak melirik ke dia sama sekali. Entah memang begitu, atau Raka yang tidak menyadari.
"Lo mau kemana kak? Kantin?"
"Lo mau ke kantin?"
"Iya nih, laper gue. Lo?"
"Kalau laper, ayo. Bareng aja" Katanya lagi.
"Lo aja deh. Gak enak gue"
"Kenapa?" Lagi lagi Kanaya bertanya. Sedikit terkekeh saat ia menemukan raut khawatir di wajah Raka. Bahkan lelaki tersebut sudah menoleh ke kana kiri entah mencari keberadaan siapa.
"Lo kenapa sih?" Kanaya jelas penasaran. Bahkan sekarang tidak ada bedanya gadis itu dengan Raka. Keduanya sama sama clingak-clinguk. Bergantian menoleh ke arah kanan dan kiri, bergantian menoleh ke arah depan dan belakang. Sampai Kanaya lelah dan ia melenguh juga mendesis.
"Auto gila gue"
"Ya lagian lo ngapain" Kata Raka. Tawanya seketika memenuhi lorong.
Kedua alis milik Kanaya seketika menukik.
"Nggak salah lo nanya begitu kak. Lu tuh yang ngapain"
"Oh, atau lo lagu nyariin pacar loh yah. Lo nggak mau gue ajak makan Karna takut ketauan kan sama cewek lo?" Lalu Sekonyong-konyongnya, Kanaya menyengol lengan Raka. Menatap lelaki tersebut dengan wajah kelewat jahil.
"Cieee yang punya pacar baru ... Kenalin sini sama gue"
"Lo tuh ... Astaga" Raka tidak tau lagi mau bersaksi seperti apa. Dari cara Kanaya memamerkan giginya. Cara Kanaya menunjuknya dengan jari telunjuk yang di tekuk berkali kali, atau dari cara ia mengerlingkan mata. Rasanya Raka ingin meraup wajah itu.
"Cewek lo yang mana sih, yang itu?"
"Sembarang" Saat Kanaya menunjuk seseorang, Raka dengan cepat menarik telunjuknya. Lantas melirik bocah tersebut dengan delikan yang sinis.
"Di kira move on dari lo tuh gampang ya, susah bos. Padal kalau di liat liat lagi, cewek sini juga banyak yang bening"
Kanaya kembali tertawa.
"Aneh sih lo. Di kasih kesempatan buat berdiri di tempat kayak gini, ditempat yang di dalamnya terdapat banyak cewek cewek bening, cewek cewek smart, cewek cewek kalem, lo malah milih cewek yang normal enggaknya masih belum pasti kayak gue"
"Itu diaaa"
Lalu dengan semena mena keduanya tergelak.
Jika Kanaya bingung, maka lelaki di sampingnya jelas lebih bingung. Mencari cari hakikat cinta yang katanya bisa memilih. Kalau di tanya mengapa Raka memilih untuk mencintai Kanaya, maka alasan yang ia punya tidak banyak. Pertama sebab gadis itu selalu apa adanya. Sungguh Raka sedang tidak membual saat mengatakan itu. Kanaya memang gadis yang apa adanya. Gadis itu selalu berdiri dan melangkah ke lorong demi lorong dengan tampilan yang memang biasa saja. Tidak ada gaya berjalan layaknya seleb, tidak ada pakaian tren yang di pakai kebanyakan orang, atau tas tas mewah yang juga bisa mendukung gayanya. Sedang rambutnya kadang ia Cepol, kadang ia biarkan terurai. Masalah sepatu, gadis itu selalu memakai snikers. Ya, Raka memperhatikan Kanaya sampai sebegitu-nya.
"Lo tipe cewek yang suka ngikutin tren nggak sih Nay?"
Di tengah tengah kegiatannya menikmati secangkir es teh, Kanaya lantas tergelak.
"Emang kenapa?" Tanyanya, setelah ia menaruh gelas es teh.
"Ya gue penasaran aja" Jawab Raka. Lelaki tersebut memutar mutar sedotan di gelas sembari menatap Kanaya lekat. Sebenarnya jawabanya sudah jelas, tapi mengetahui jawaban tapi tidak dengan alasannya, rasanya tentu kurang.
"Emmm, gimana ya jawabnya"
"Kadang mungkin terkesan iya, kadang enggak"
"Gini deh" gadis itu akhirnya menyingkirkan gelas es teh tadi untuk lebih ke samping. Dan bertompang dagu, sembari terlihat berpikir diatas mejanya.
"Seumpama baju nih, seumpama gue suka, gue ngrasa baju itu bakalan cocok dan ngebuat gue nyaman saat gue make, ya gue bakalan beli. Tapi balik lagi, kan kalau mau beli sesuatu kudu make duit. Kalau nggak ada duitnya ya nggak papa, nabung aja dulu, sekalipun gue baru bisa beli pas baju itu uda nggak tren lagi, kenapa enggak selagi gue masih pengen, selagi gue masih suka"
Cara dia ngomong.
Cara dia melihat sesuatu.
Berawal dari first impression, namun semakin ke sini setelah semakin ia tau Kanaya, justru ia semakin mencintai gadis itu.
Definisi apa adanya bisa Raka lihat dari bagaimana gadis itu.
"Nah itu Sakha tuh"
"Iya, terus?"
Tapi bukannya meladeni Kanaya, begitu Sakha sampai di hadapan mereka, Raka malah mengajak Sakha TOS. Sakha sendiri bingung dengan maksud Raka, tapi ia tetap mengikuti kemauan tersebut.
Sementara Kanaya sudah memijit pelipisnya tidak mengerti.
"Jadinya gimana dah, lo laper atau enggak? Kalau laper ayo ke kantin bareng bareng"
Astagfirullah ini anak. Raka jelas membatin. Di pandanginya Sakha dengan sungkan. Tapi justru lelaki tersebut tergelak.
"Santai kak. Gue uda kenal lo, gue tau lo orangnya gimana" lantas ia merangkul pundak Raka dan mengajaknya untuk makan. Bersama ia, bersama Kanaya juga.
Raka itu tipe cowok yang suka Gonta ganti pacar memang. Tapi bukan berarti ia juga gemar merebut milik orang lain. Ia masih tau batasan. Ia masih tau rasanya di rebut itu bagaimana, ia masih paham bahkan ingat rasa sakit yang seperti itu.
"Thanks uda percaya sama gue" Hingga begitu ketiganya sudah sampai di kantin, Raka berujar dengan nada yang begitu tulus. Ia pandangi lamat lamar wajah Sakha juga Kanaya.
"Gue nggak tau lo berdua mandang gue dari sisi bagian mana. Pada intinya, makasih uda percaya sama gue"
Makasih untuk mereka yang bisa menyamarkan kebrandalan Raka. Terimakasih karna sudah percaya jika adanya Raka di sini hanya untuk mencintai Kanaya, lebih dari itu mungkin Raka hanya ingin menjaga dia. Dan kepada Sakha, terimakasih untuk tidak marah, terimakasih untuk pemahamannya. Dan Terimakasih sebab mau mengerti, jika berhenti untuk mencintai juga butuh waktu yang panjang.
...••••...
Buat yang nanya
"Why Him?"
"Alasannya apa kakak pake visual dia sebagai Sakha?"
Karna menurut saya dia pantas. Uda titik sampai di sana.
"Kalau Kanaya?"
masih nyari euy. Follow dulu aja Instagram saya, Klw udh ketemu bakalan saya upload nanti