DEAR SAKHA

DEAR SAKHA
Chapt 45



Jakarta tanpa macet, ibaratnya mungkin masakan tanpa garam. Sekalipun menjelang jam Dua belas malam, bukannya merenggang jalanan ibu kota malah semakin padat. Dan yang membuat Kanaya kesal, dia dan Sakha sudah lebih dari tiga kali terjebak dalam lampu merah. Di lampu merah yang pertama, Kanaya menghabiskan waktu dengan bernyanyi ria, sebab ia masih semangat, begitu pula di lampu merah yang kedua, tapi di lampu merah selanjutnya, bukan nyanyian, gadis itu malah mendengus. Tidak ada lagi yang namanya semangat, bahkan sepercik pun tidak ada. Energinya untuk hari ini benar benar terkuras


"Lo uda makan kan Nay?" Tanya Sakha


"Coba tebak?" Kata Kanaya, tentu saja setelah ia memeluk Sakha dan merapatkan tangannya, sebab suasana semakin dingin.


Sakha sendiri juga tidak keberatan, malah yang lelaki itu lakukan, terus menepuk nepuk lutut Kanaya, dengan sentuhan halus hingga Kanaya dapat menangkap ketenangan dari tangan itu.


"Kha,"


"Hm"


"Lo denger gue nggak sih?"


"Denger"


"Terus?"


"Males nebak"


Harapan Sakha, setelah ini ia akan mendengar dengusan Kanaya, tapi nyatanya Kanaya malah tergelak, dia juga masih memeluk Sakha, bahkan tidak kalah erat dari tadi.


"Kenapa nggak mau coba, tinggal nebak doang"


"Gue mau marah sama lo Nay, cuma nggak jadi"


"Marah? Kenapa?"


Sakha tidak langsung menjawab, ia melirik ke arah lampu tiga warna tersebut, lantas melepas tangannya yang semula di lutut Kanaya dan mulai menancap gas, meninggalkan jalanan yang sempat mereka buat singgah bersama kendaraan lain.


"Emang gue ada salah?"


"Nggak, lo mana pernah salah sih Nay"


"Serius ih"


"Kalau sewaktu waktu lo kumpul kumpul lagi bareng temen temen lo, jangan sampe lupa waktu, apalagi kalau pas malam, Inget rumah, Inget juga kalau di rumah itu, pasti ada orang yang khawatir sama lo"


Kanaya lagi lagi tergelak, tapi terharu juga dalam waktu yang bersamaan. Ia bisa menangkap aura khawatir itu di wajah Sakha, bahkan sejak Sakha datang menemuinya tadi, hingga saat ini Sakha masih menampakkan raut tersebut.


"Kha,"


"Makasih ya uda mau jemput gue, maaf juga karna gue nggak pulang pulang"


"Harusnya lo samperin langsung aja tadi, biar lo juga bisa cepet istirahat"


"Gue nggak mau ganggu acara kumpul kumpul lo Nay, btw juga sorry kalau gue berlebihan"


"Tadi gimana?" Tanya Sakha, sengaja merubah topik sebab dia tidak mau Kanaya merasa bersalah. Kali ini ia juga menumpukkan satu tangannya di atas kedua tangan Kanaya yang masih bertaut, membiarkan hening singgah meski setelah itu Kanaya kembali mengoceh, menceritakan bagaimana serunya di Festival tadi, sembari menghabiskan sisa perjalanan mereka.


"Kata Laras, lo kayak bapak gue Kha, yang setiap gue buat masalah, pasti akan ada lo yang bantu nyelesein masalah itu"


"Iya, gue juga ngrasa begitu sih waktu dulu, cuma gimana ya, nggak gue tolong entar di bilang temen tapi nggak mau di ajak susah, aslinya mah males"


Harusnya Kanaya meminta maaf lagi, untuk apa? Tentunya untuk segala hal yang terjadi pada dia dan melibatkan Sakha, lantas membuat lelaki tersebut ikut repot. Tapi bukan Kanaya kalau di sindir langsung sadar, di tengah Jakarta yang semakin padat, tawa Kanaya justru membaur dengan bunyi bunyi klakson di antara keduanya, di tengah pengendara yang saling membalap, justru kanaya dan Sakha terlihat begitu menikmati perjalanan mereka. Sesekali mereka akan bercerita tentang masa lalu, membahas masa depan, bahkan menyanyikan lagu yang berbeda. Jika Sakha dengan lagu, I Will the rain, Kanaya justru menyanyikan lagu lagu klasik kesukaannya.


Terkadang gadis itu juga merentangkan tangan setelah melihat dari spion di belakangnya masih sepi atau ramai, kadang juga ia menyenderkan kepalanya di punggung Sakha. Sementara Sakha, ia melirik spion bukan untuk melihat ada kendaraan atau tidak di belakangnya, sebab spion sebelah kiri, sengaja ia arahkan untuk melihat wajah Naya, tawa Naya, juga mata gadis itu yang terkadang di pejamkan.


"Nay, dingin nggak?"


"Rada, tapi nggak papa kok"


"Makan dulu atau langsung pulang?"


"Pecel lele enak deh kayak nya"


Sakha tertawa, lantas membelokkan motornya ke warung pecel lele begitu ia menemukan warung tersebut.


Tidak sampai di sana, Sakha juga melepaskan helm milik Kanaya, membuat beberapa pengunjung yang menikmati pecel lele di luar, spontan melihat ke arah mereka.


"Gue bisa sendiri,"


"Udah diem"


"Kita kayak pasangan alay nggak sih kalau begini?" Sementara Sakha yang masih melepas kaitan helm, Kanaya justru semakin banyak tanya


"Itu ibu ibu yang make baju merah matanya sampe melotot gitu loh liatin kita"


"Perasaan lo aja" Kata Sakha, lalu dengan entengnya ia mengandeng tangan Kanaya, mengajaknya masuk dan langsung memesan pecel lele.


"Nay"


"Ha"


"Lo takut gue ngambil nasi lo atau gimana sih?" Tanya Sakha, yang lebih terkesan heran setelah melihat Kanaya makan dengan begitu lahap, bahkan di saat milik Sakha baru termakan separuh, milik Kanaya sepertinya sudah mau habis. Sakha bukannya malu dengan cara makan Kanaya yang seperti itu, hanya saja was was jika Kanaya keselek.


Lelaki tersebut mengambil setengah lele nya, lalu menaruh lele itu di piring Kanaya


"Pelan pelan aja Nay, santai, sambil di nikmati, kalau lo makanya begitu, lo cuma dapat kenyang, nikmatnya enggak"


"Gue laper tau"


"Iya, tapi tetep pelan pelan"