CEO, MY HUSBAND

CEO, MY HUSBAND
CHAPTER 9



Malam itu juga tamu-tamu mulai menertawakan tingkah Rara. Bahkan ada yang mengambil beberapa vidio dan foto.


Dan seorang pelayan mendekat ke arah Rara, dengan sengaja ia menginjak gaun Rara ketika Rara ingin berdiri.


Gaun yang tadi sudah sedikit sobek, terlihat semakin menganga dan memperlihatkan punggung mulus Rara.


Pak Adit dan Bu Shireen semakin geram dengan suasana yang mereka lihat. Dan di saat kaki mereka ingin melangkah menghampiri Rara. Rendy sudah lebih dulu mendekati istrinya. Rendy membuka jas dan langsung menutupi bahu Rara.


Rendy melihat raut kesakitan dan kesedihan di wajah istrinya.


Ia mengangkat tubuh Rara dan meninggalkan pesta itu.


Bu Silvi tidak habis pikir dengan apa yang di lakukan Rendy saat ini.


Rara sudah lelah, dan ia tertidur di pangkuan Rendy. Sesampai di kamar. Rendy menghapus sisa air mata di pipi istrinya dan juga mengobati luka di tangan Rara.


Ia tidak mengerti bagaimana bisa ia melakukan hal yang seharusnya tidak di lakukan.


Dan sebelum orang-orang meninggalkan acara tersebut. Pak Harris bersama orang suruhannya. Meminta dan memeriksa ponsel semua tamu. Dan menyuruh untuk menghapus apa yang sudah mereka rekam.


Pak Harris sedari tadi menahan emosi dan amarah. Dan ketika para tamu sudah meninggalkan rumah Rendy. Pak Harris berteriak memanggil anaknya.


Di depan dua keluarga, Pak Harris menampar Rendy berulang kali.


"Papa udah!" Tutur Bu Silvi mencoba menahan suaminya


"Anak tidak tahu diri!" Teriak Pak Harris


Pak Adit dan keluarganya hanya terdiam. Mereka pun juga kecewa atas perbuatan Rendy.


Tidak berselang lama Pak Harris dan Pak Adit meninggalkan rumah mewah Rendy.


Kini, hanya Rendy yang terduduk diam. Meratapi nasib. Niat hati ingin menyakiti Rara, tetapi itu semua berbalik kepadanya.


Rara tertidur semalaman. Dan ketika pagi mulai menyapa ia terbangun dan sedikit merasakan pusing. Ia melihat tangan sudah di perban. Dan tidak ada siapa-siapa di rumah mewah itu.


Tidak ada siapa-siapa. Rumah itu sepi, bahkan rintikan air saja tidak terdengar.


Bekas pesta semalam sudah bersih. Rara menuruni anak tangga mencari keberadaan Rendy.


Di halaman rumah masih terparkir mobil Rendy. Tetapi benar-benar tidak ada orang. Rara beberapa kali memanggil Pak Joko dan Rendy. Namun, tetap saja tidak ada yang menyahut.


Rara semakin penasaran. Ia membuka beberapa kamar, dan ketika ia melewati kamar tamu. Rara melihat beberapa pakain dan koper.


Rara memasuki kamar itu, dan semakin yakin jika ia akan tidur di kamar ini.


Satu jam, dua jam, bahkan sudah beberapa jam. Penghuni rumah itu belum juga kembali. Rara duduk terdiam di sofa ruang tamu. Matanya terus melihat ke arah pintu masuk. Berharap ada yang masuk dan membawakan makanan.


Dan jam tiga sore, Rendy muncul bersama seorang perempuan.


Perempuan itu juga ikut keluar dari mobil. Rara membesarkan mata. Baru saja menikah, Rendy sudah bermain di belakangnya.


"Astaga!" Teriak Rendy, ketika membuka pintu dan ia mendapati Rara berdiri di balik pintu dengan rambut panjang acak-acakan.


"Perempuan sialan!"


"Iya, setelah bertemu dengan kamu!" Ujar Rara


"Semalam ulah kamu bukan?" Tanya Rara seraya mengikuti Rendy ke arah meja makan


"Permainan kamu hebat juga tapi bikin malu diri sendiri" Oceh Rara seraya menggigit jari telunjuknya


"Saya cuma mau bilang....."


"Diam dan Lupakan!" Tutur Rendy, seperti tidak ingin mengingat kejadian semalam. Di tambah tamparan Papanya masih membekas di pipi. Dan rasanya hari ini juga Rendy ingin membalaskan kepada Rara. Namun, tertahan ketika melihat Rara tersenyum kecil.


Aku lapar Batin Rara langsung terdiam


Bersambung