CEO, MY HUSBAND

CEO, MY HUSBAND
CHAPTER 41



Kembali kepada Rendy, ia masih sibuk mengelilingi kota. Sedangkan disini Mamanya dan Aurel mencoba menghancurkan hubungannya dengan Rara.


Rendy tidak pernah lepas dari pekerjaannya. Bahkan setiap detik sangat berharga baginya.


Jam delapan malam Rara pulang dari luar, sehabis dari kantor ia mengunjungi supermarket untuk membeli beberapa kebutuhannya.


Rara melihat rumahnya begitu sepi. Di luar hujan, dan orang-orang di rumah lebih tertarik menghabiskan waktu di kamar.


Baru saja satu tangga yang di injak Rara. Ia sudah jatuh kelantai.


ART yang melihatnya langsung berlari dan berteriak memanggil seisi rumah. Gerin, baru saja sampai dari kantor ketika melihat adiknya tergeletak di lantai. Ia langsung mengangkat tubuh Rara ke sofa.


Pak Adit dan Bu Shireen terlihat cemas dan berkeinginan membawa Rara ke rumah sakit.


"Ma!" Ucap Rara menangis dan menarik Mamanya ketika ia membuka mata


"Sayang apa yang sakit?" Tanya Bu Shireen


Rara hanya menggelengkan kepala. Namun, tangisannya semakin kencang. Ia seperti sedang merindukan seseorang. Tidak berapa lama Dokter langganan keluarga Pak Adit datang dan langsung memeriksa kondisi Rara.


Setelah beberapa saat ia tersenyum menatap Rara


"Selamat Pak Adit, Bapak akan menjadi seorang kakek lagi!" Ucap Dokter itu tersenyum semringah


Semua orang di rumah itu tersenyum manis kecuali Rara, seharusnya kabar bahagia ini juga di dengar Rendy. Tetapi kini ia tidak tahu kemana keberadaan pria itu.


Rara menepis air matanya dan kembali memeluk Mamanya.


Rara sudah hamil beberapa minggu dan ia sudah mulai curiga ketika ia telat datang bulan. Tetapi Rara tidak mengambil pusing soal itu. Dan hari ini ia mendengar kabar ia akan menjadi seorang ibu.


Ia berharap Rendy segera kembali.


Dan hari esok, Angga dan Raisa mulai mempersiapkan pernikahan mereka. Ia tidak perlu meminta keluarganya untuk membantu. Angga dan orang suruhannya mempersiapkan pesta semegah mungkin. Begitu juga Raisa mempersiapkan gaun pengantin yang akan di gunakannya sekali seumur hidup.


Satu hari, dua hari, dan satu minggu telah usai.


Pernikahan itu sudah di ambang mata. Angga dan Raisa mulai menyebarkan undangan mereka. Dan malam itu Raisa mengantarkan undangan ke rumah Rara seraya membawa kabar bahagia setelah satu minggu penuh kesibukan.


"Rara" Panggil Raisa dan Rara langsung menepis air matanya


"Ada apa?" Tanya Raisa memeluk sahabatnya


"Raisa"


"Iya Ra maafin aku!"


"Raisa aku butuh dia, aku butuh dia kembali, aku merindukannya" Ucap Rara mengungkapkan isi hatinya


"Iya Ra, tetapi kita harus mencarinya kemana"


"Bayi kecilku butuh dia!"


"Apa?" Tanya Raisa kaget dan memegang pipi sahabatnya


"Aku hamil!"


"Hah!" Sahut Raisa tersenyum manis


"Kamu berhasil Ra, kamu hebat!"


"Dan aku percaya dia akan kembali setelah merasa baik-baik kembali"


"Aku kesini membawa ini!" Ucap Raisa mengangkat undangan pernikahannya


"Raisa" Jawab Rara tersenyum dan menangis bahagia


"Kamu juga berhasil Raisa, kamu hebat!"


"Karena ini hari bahagia aku, hari bahagia kamu, kita tidak boleh menangis. Okey!" Ucap Raisa menyemangati sahabatnya. Rara mengangguk dan kembali memeluk sahabatnya


Undangan Raisa dan Angga sudah menyebar ke setiap orang yang mereka kenali. Papa Raisa begitu bahagia ketika melihat anaknya akan menikah, setidaknya dia tidak akan khawatir lagi memikirkan anaknya karena saat ini sudah ada yang menjaganya dan lelaki itu dapat di percaya oleh keluarga Raisa.


Bersambung