CEO, MY HUSBAND

CEO, MY HUSBAND
CHAPTER 35



Beberapa minggu setelah pernikahan.


Dimana hari itu mereka memutuskan untuk berpisah rumah. Rara semakin geram ketika Rendy selalu membawa perempuan lain masuk ke dalam rumah mereka. Rendy sengaja untuk membuat Rara cemburu dan setelah perdebatan panjang dan urat-urat terasa keluar semua. Rara memutuskan untuk kabur ke rumah orang tuanya. Dan di saat ia kabur Rara mendapatkan dukungan dari Ayah mertuanya karena agar anaknya sadar dan berubah. Dan karena itu juga keluarga Rara terpaksa menerima kehadiran anaknya. Rara yang pengangguran hanya menghabiskan waktu dengan tidur seharian dan keluar bila di ajak Angga dan Raisa.


Dan kala itu di sela-sela jam makan siang Angga, Raisa dan Rara bertemu untuk menikmati junk food yang tidak terlalu jauh dari kantor Angga.


Seperti biasa Raisa suka melihat kesekeliling tempat itu untuk mencari pemandangan indah.


Namun, matanya malah menemukan sesosok pria tampan tetapi berhati susah ditebak.


Beberapa saat Raisa menyenggol Rara dan menunjuk kesebuah meja paling ujung, Rara menoleh kearah mereka. Dia melihat Rendy sedang bersama Clara dan beberapa karyawan lain sedang menikmati makan siang bersama. Clara merekomendasikan tempat makan disana, karena perusahaan mereka sudah mendapatkan target penjualan bahkan lebih, dan Rendy hanya bisa mengikuti kemauan karyawannya.


Setelah setengah jam disana. Awalnya Rara ingin cepat kembali kerumah. Karena moodnya sudah berantakan melihat Rendy bersama Clara. Namun,  ketika ia mau beranjak pergi, tiba-tiba saja perutnya sakit dan mengharuskan ia untuk menghampiri toilet terlebih dahulu.


Rara mengurungkan niatnya untuk mengajak Raisa. Dengan cepat Rara berlari kearah toilet restoran itu,


Persekian menit Rara keluar sambil merapikan baju dan rambutnya. Perutnya terasa lega, Rara juga menepuk-nepuk perutnya.


"Bagaimana sudah menemukan pria kaya lainnya?" Tanya Rendy kala ia melewati lorong restoran itu dan melihat Rara sedang berjalan seorang diri. Rara kesal, tetapi ia akan bersabar


"Mulai sekarang kamu tidak perlu sok akrab, lakukan seperti diawal pernikahan"


"Sok akrab?"


"Jika kamu terus menanyakan hal yang sama, kamu seperti orang yang sedang cemburu Rendy!"


"Saya cemburu, jangan berharap!"


"Hmmm" Belum selesai bicara, Rendy sudah menarik tangan Rara yang masih senyum-senyum sendiri seperti sedang mengejeknya


"Kenapa?" Tanya Rara menatap Rendy


"Kamu semakin berani sama saya asal kamu tahu ke.."


Rendy mendekat ke arah Rara dan langsung memeluk gadis itu. Rara membesarkan mata, kaget dan tidak percaya dengan pelukan Rendy ditempat umum. Hal yang mustahil dan hal yang tidak biasa.


"Kamu... "


"Diam saya lagi capek!"


"Aku ini bukan kasur"


"Iya,sekecil ini mana mungkin menjadi kasur"


Rendy tersenyum tatkala merasakan sedikit rindu dan bebannya berkurang, begitu juga Rara dia merasakan sedikit kehangatan.


Mereka sama-sama saling merindu, tetapi ada keegoisan yang harus dikesampingkan


"Pulang ya!" Suruh Rendy seraya mengacak rambut panjang gadis itu.


Rara memayunkan bibir dan menggelengkan kepala?.


Sedangkan Rendy memberikan anggukan seraya meyakinkan istrinya yang sedari tadi menatapnya.


Baru saja Rara menikmati ketampanan Rendy setelah beberapa hari tidak bertemu, suara panggilan dari ujung toilet membuyarkan lamunannya.


Rara mengalihkan pandangannya kearah suara itu, dia tidak kaget lagi hanya saja merasa kesal melihat sesosok wanita yang tidak pernah diundang kehadirannya.


"Apa dunia hanya sepetak?


Dimana-mana selalu ada hama!" Tanya Rara melihat Clara tersenyum aneh kearah mereka. Rendy tersenyum kecil kala mendengar keluhan istrinya.


Bersambung