
Gadis itu melihat jam tangannya waktu sudah menunjukkan untuk kembali pulang, setelah hiruk pikuk dari pekerjaan kini ia bisa mengistirahatkan tubuh dan otaknya, ia melangkah dengan semangat menuju apartemennya yang tidak terlalu jauh dari tempat ia bekerja, begitu sampai di rumah ia tersenyum simpul tatkala melihat isi pesan yang ia dapati lagi.
Satu kali, dua kali, tiga kali. Tidak. Bahkan sudah ratusan kali ia mendapatkan pesan itu.
Ia menghentakkan kaki, meremas kertas putih yang di genggam. Lagi dan lagi. Orang tuanya menyuruh kembali untuk alasan yang sama.
Tadi pagi, kulit putih pucat itu sedikit tergores. Tepat di sebelah lengan kiri. Meninggalkan bekas yang cukup membuat ia berteriak sial.
Gara-gara ponsel yang terus berdering, ia berlari dari ruang tamu menuju kamar. Tanpa menyadari ada sebuah runcingan kayu yang menempel di sudut pintu kamar.
Rara Wijaya, wanita berpostur tinggi, rambut panjang dan memiliki kulit putih serta berhidung mancung. Baginya tidak ada yang spesial dari dirinya. Ia hanya tinggal di salah satu apartemen sudut kota Los Angeles, Amerika Serikat.
Kota yang menjadi pusat perhatian dunia. Dan tak asing lagi jika para penduduk negara lain mengunjungi.
Rara bukan asli keturun Amerika, ia hanya perantau yang bermetamorfosa menjadi bagian penduduk negara itu.
Rara sudah menamatkan sekolah dari SMA sampai kuliah di negara yang jarang di turuni salju .
Dan kini, ia hanya seperti wanita lain. Menghabiskan waktu untuk bekerja agar bisa bertahan hidup.
Kira-kira sudah delapan tahun Rara tidak mengunjungi keluarga yang jauh darinya.
Sebut saja, Pak Adit Wijaya. Beliau salah satu pengusaha sukses di kota metropolitan, Indonesia. Baginya uang adalah segalanya dan keluarga adalah nomor dua.
Dan perkenalkan juga, Bu Shireen Wijaya. Wanita yang sudah menemani Pak Adit selama 26 tahun.
Seperti hal suami, ia juga kerap kali membantu bisnis suaminya dan juga membantu menghabiskan uang suaminya.
Rara bukan anak tunggal dari keluarga Wijaya, ia memiliki dua kakak. Yang bertaut dua tahun dan tiga tahun.
Si sulung dari keluarga itu bernama Reni Wijaya. Wanita berusia 25 tahun itu sudah memiliki tiga orang anak.
Dan si tengah dari keluarga itu, baru saja melamar tambatan hati.
Kini keluarga mereka tengah di hadapi kesulitan perihal keuangan. Bisnis Pak Adit tidak berjalan sesuai rencana. Ia yang kerap kali menghabiskan uang untuk bisnis yang tidak menguntungkan. Dan beberapa bulan ini untuk menutupi kerugian ia terpaksa harus berhutang ke beberapa perusahaan besar yang selalu berkerja sama dengannya.
Dan seperti rencana Pak Adit sebelumnya. Untuk menguatkan untung dari pinjaman. Ia harus mempunyai menantu dari anak konglomerat juga.
"Bagaimana Rara sudah membalas pesannya?" Tanya Pak Adit seraya menoleh ke arah Reni, ketika si sulung mencoba kembali menghubungi Rara. Namun, lagi-lagi tidak ada jawaban.
Reni hanya menggelengkan kepala dan mulai merasa geram kepada adik bungsunya. Adiknya seperti menghindari semuanya sudah berbagai cara yang ia lakukan tetepi tetap saja tidak membuahkan hasil
Pak Adit memijat pangkal hidungnya sambil memikirkan cara apa lagi supaya Rara mengangkat teleponnya "Tidak ada cara lain, bilang Papa masuk rumah sakit!"
Semua anggota keluarga langsung menoleh ke arah Pak Adit "Pa!" Sahut Bu Shireen yang merasa ide itu tidak baik untuk di lakukan
"Mama mau hidup di jalanan?"
"Tidak!"
"Yaudah, lakukan!" Suruh Pak Adit berapi-api
Ra kamu tahu saat ini Papa sedang sakit? Apa kamu juga tidak mau pulang?Sudahilah rasa egois kamu itu kamu bukan anak kecil lagi,Papa sakit karena merindukan kamu dan ini sudah bertahun-tahun kamu tidak pulang! Apa lagi yang kamu cari?
Ekspresi Rara ketika membaca pesan itu hanya tersenyum kecil, katanya rindu tetapi tidak pernah menganggapnya ada ucapan mereka tidak sesuai dengan kenyataan. Rara menghela nafas kasar lalu Ia membuka jendela kamar, tak lupa seraya menyeduh kopi hangat, matanya memandangi bintang-bintang menawan yang menggantung di langit hitam pekat di atas sana.
Entah kenapa, hati Rara tidak tergerak untuk kembali ke kota dimana ia di lahirkan. Bahkan, ia juga tak lagi merindukan keluarganya,tidak ada yang di rindukan lagi setelah apa yang mereka perbuat. Terkadang hidup sendiri dan jauh dari orang yang tidak mengenal kita terasa lebih di hargai dan di terima.
Rara bahagia tinggal di kota ini, mengenal orang-orang yang memperlakukan dirinya dengan baik, Rara bahagia bekerja di salah satu perusahaan swasta yang bisa membuat ia bertahan hidup dari bulan ke bulan. Rara sudah bahagia dengan kesendirian ini.
Rara menghempaskan pantat di kursi kecil itu, seraya menghela nafas berat. Ia meraih laptopnya Jari-jemari lentiknya kembali membuka beberapa file yang cukup mengingatkan ia kepada masa lalu.
Rara terdiam tatkala melihat foto-foto dari masa lalu. Menyakitkan, tetapi itu berhak untuk di kenang.