CEO, MY HUSBAND

CEO, MY HUSBAND
CHAPTER 36



Mereka berdua berdiri saling berhadapan dan di tengah-tengahnya ada Rendy, saling melihat dengan tatapan penuh kebencian. Clara membenci Rara karena sudah merebut Rendy darinya. Rara membenci Clara karena dari awal Rara sudah membencinya tanpa perlu di jelaskan.


"Apa?" Tanya Clara menaikkan nada suaranya


"PENG-GANG-GU!" Balas Rara menggerakkan bibirnya, Rendy hanya bisa tersenyum menatap kecemburuan istrinya


"Saya ini sekretarisnya!"


"Saya ini istrinya!" Kata-kata Rara semakin membuat Rendy bahagia dan tersenyum manis


"Apa?" Tanya Clara mengernyit geram mendengar ucapan Rara. Namun, dia sudah menjadi budak cinta Rendy, apapun cara akan dilakukannya untuk bisa bersama Rendy. Tidak perlu menunggu persetujuan Rara, Clara langsung menggenggam tangan Rendy


"Jika kamu bicara seperti itu, maka kamu yang terlihat sedang cemburu?" Balas Rendy melihat Rara tidak bergerak. Mendengar itu Rara membesarkan matanya dan mulutnya ingin mengeluarkan umpatan kepada mereka berdua


"Dan untuk kamu Rendy, apa semua wanita menjadi mainan kamu?"


"Apa mainan kamu bilang?"


"Iya, kamu hanya bersenang-senang lalu meninggalkannya!" Ucap Rara berpangku tangan membalas tatapan penuh kemenangan Rendy yang selalu mengatakannya mendekati pria kaya


"Dan untuk kamu, butuh berapa banyak pria kaya yang sudah memiliki istri lalu kamu dekati?


Apa kamu tidak ada malu lagi?" Ejek Rara tersenyum kecil menatap Clara. Clara batuk-batuk kecil mengingat omongannya tempo lalu.


Clara merasa kesal dan bergegas meninggalkan mereka berdua. Tiba-tiba saja Rendy menahan Clara untuk tidak pergi.


Melihat Rendy menggenggam tangan wanita itu, Rara tersenyum kesal sama sikap plinplan Rendy. Dan itu hanya bagian rencana Rendy untuk meminta Rara segera pulang, tetapi malah sebaliknya


"Kamu pulang atau?" Ucap Rendy mengancam istrinya


"Atau kamu akan bersenang-senang lagi bersama dia?"


"Iya!"


Jawab Rendy begitu melihat kecemburuan diwajah istrinya. Mendengar itu Clara merasa senang dan langsung mendorong Rara dengan kasar. Rara terjatuh kelantai. Gadis itu meringis kesakitan, tatkala pantatnya langsung di sambut oleh lantai. Rendy masih diselimuti emosi karena Rara bersikeras tidak mau pulang, dan ia membiarkan Rara terduduk dilantai.


Rara benar-benar menahan sakit sehingga membuat ia susah berdiri.


"Kamu sama sekali tidak berubah?"


"Iya, dan adakalanya istri boneka diberi mainan agar dia mengerti"


"Rara" Panggil Angga sedari tadi menunggunya, karena merasa ada yang mencurigakan, Angga memutuskan untuk mencari Rara bersama Raisa


"Angga, Raisa, pantat aku sakit!" Ujar Rara semakin kesakitan. Kala Angga dan Raisa berdiri disamping Rendy. Angga semakin emosi melihat sikap Rendy tetapi dia masih menahan demi Rara. Ketika Angga mau memegang bahu Rara. Rendy langsung mendorongnya sekuat mungkin.


Merasa kesabarannya sudah tidak terbendung lagi, Angga berdiri dan langsung menghajar Rendy beberapa kali pukulan. Bahkan Rendy tidak bisa memberikan perlawanan karena sudah lebih dulu dijepit oleh kaki Angga


"Anda pria bodoh itu!" Ucap Angga semakin meluapkan kemarahannya selama ini, tidak menunggu lama Raisa langsung memisahkan mereka dan perlahan Angga menggendong Rara meninggalkan Rendy


"Awas kalian nanti saya bawa kejalur hukum" Teriak Clara seraya membantu Rendy berdiri


"Tidak perlu nanti!" Balas Raisa dan nada bicaranya juga sedikit meninggi, Raisa mengepalkan tangannya dengan tatapan marah dan kembali kearah Clara. Clara terlihat mundur dan bersembunyi dibelakang Rendy.


Dengan sekejap Raisa menampar dan memutar tangan Raisa kearah berlawan, sehingga membuat Clara berteriak meringis kesakitan.


"Sekali lagi kau menyakiti sahabat saya dengan tangan ini! Saya akan patahkan" Ancam Raisa juga mendorong Clara kelantai


"Apa anda mau memarahi saya karena perempuan jalang ini!" Tanya Raisa mengalihkan pandangannya kearah Rendy


"Apa anda tidak bisa menghargai Rara, melihat perasaan dia sebentar saja?


Dia itu lelah setiap hari harus sabar sama anda...


Dia juga lelah setiap hari melihat anda berteriak dan marah-marah.." Tutur Raisa membela sahabatnya. Rendy langsung terdiam memikirkan kata-kata Raisa, sesuatu itu tidak bisa dengan kekerasan dan kali ini cara Rendy salah untuk mendekati istrinya kembali


"Aku benci dia Ngga...


Jika dia memang membutuhkan wanita itu kenapa harus mempertahankan aku?" Rara menatap Angga dengan tatapan begitu menyedihkan


Bersambung