
Raisa mendengar kabar bahwa Rara sudah kembali mengingat semuanya. Ia pun bergegas menuju ke rumah sakit dan sepanjang perjalanan kesana Raisa mengingat hari dimana ia sama-sama menangis bersama Rara.
Seutas senyum menari indah di bibirnya, sedangkan kenangan itu juga menari indah di ingatannya.
Tidak seperti biasa Raisa mendatangi rumah Rara selarut ini,Raisa terlihat menunggu Rara harap-harap cemas. Ia memilih menunggu Rara dihalaman belakang rumah sahabatnya. Kolam renang di halaman belakang terlihat lebih gelap dari biasanya, dan kursi santai disana juga terlihat basah oleh derasnya hujan. Tetapi itu tidak mengurangi niat Raisa untuk menunggu kedatangan sahabatnya.
"Masuk yuk?" Ajak Rara ketika melihat sahabatnya kedinginan
"Ra.... Aku mencintai Angga" Ucap Raisa tidak ingin berbasa basi dan takut keduluan basi
"Aku menyukai Angga sudah lama, bahkan ketika kamu sudah menghilang dari kota ini"
Mereka berdua sama-sama berdiri dari kejauhan, Rara tersenyum kecil dan mendekat kearah sahabatnya. Ia melihat tidak ada kebohongan disana.
Bahkan Raisa juga menepis air matanya, jujur Raisa begitu malu untuk mengungkapkannya. Namun, apa boleh buat. Hatinya tidak bisa menunggu lagi.
"Aku menyukai dia seperti kamu menyukai Rendy!"
"Raisa..."
"Rara tidak perlu berbohong! Kita ini sama-sama perempuan" Ucap Raisa menebak isi hati sahabatnya
"Melihat kalian berdua semakin dekat membuat luka aku kian memar, aku sudah beranjak dari zona itu, tetapi hati dan logikaku tidak sejalan" Mendengar ucapan Raisa, Rara merasa bersalah. Bagaimana bisa ia tidak mengetahui perasaan sahabatnya sendiri. Sedangkan mereka sudah berpacaran tetapi Rara selalu melibatkan Angga dalam masalahnya. Sedangkan Raisa selalu berbuat baik kepadanya, dan wajar juga jika Raisa cemburu.
Rara langsung memeluk Raisa, ia ikut menangis bersama sahabatnya. Bahkan tangisan Rara yang lebih kencang daripada Raisa.
Raisa melepaskan pelukannya dan menatap Rara cukup lama
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Raisa ikut merasa bersalah, Rara menggelengkan kepala dan kembali memperkuat tangisannya
"Rendy mencintai wanita lain!" Tutur Rara dalam tangisannya
"Apa perempuan itu?"
"Tidak! Dia tidak mengatakan siapa perempuan itu"
Raisa kembali memeluk sahabatnya, kini mereka berdua sama-sama menangis. Mencintai seseorang yang tidak pernah melihat perasaan mereka. Bahkan tangisan mereka semakin kencang dan membuat Pak Adit bertanya-tanya siapa yang menangis ditengah hujan seperti ini.
Pak Adit menggeser kaca yang menjadi pembatas antara ruang samping dan taman. Ia melihat dua orang wanita yang begitu menyedihkan. Pak Adit menggelengkan kepala melihat tingkah laku anaknya.
"Apa kalian ingin mengalahkan derasnya hujan malam ini?" Tanya Pak Adit. Spontan saja kedua wanita itu memeluk Pak Adit. Raisa dan Rara membutuhkan sandaran seorang pria saat ini
"Apa ini?" Tanya Pak Adit dalam kebingungan
Mereka tidak menjawab pertanyaan Pak Adit, yang mereka lakukan hanya menangis. Setelah cukup puas, Raisa dan Rara melepaskan pelukannya dan langsung mengambil langkah cepat menjauhi Pak Adit sebelum mereka diwawancarai.
Merasa lega setelah menahan sesak dihati, Raisa berpamitan untuk pulang. Namun, diluar masih hujan deras. Dan Raisa tetap memutuskan untuk pulang.
Baru saja keluar dari gerbang rumah Rara, Raisa melihat Angga turun dari mobilnya, ia tersenyum manis menatap pria itu.
Tin.. Tin.. Tin..
Raisa memutuskan untuk menyapa Angga dari balik kaca mobilnya.
Pria itu tersenyum seraya melambaikan tangan.
"Baru pulang bos?" Tanya Raisa sedikit penasaran darimana Angga selarut ini
"Siapa?" Tanya Mama Angga ketika mendengar suara perempuan
"Oh Raisa masuk dulu" Ajak Mama Angga dari depan pintu rumah mereka.
Mama Angga menyuruh satpamnya untuk membukakan gerbang rumahnya,dan tidak lupa juga Mama Angga menyuruh anaknya untuk memberikan payung kepada Raisa.
Perasaan senang Raisa tidak bisa dijelaskan, untuk pertama kalinya Raisa masuk kedalam rumah Angga setelah mereka putus.
Dan malu-malu Raisa ikut makan malam bersama keluarga Angga, Angga memiliki tiga saudara dan itu berjenis laki-laki semua. Angga anak sulung dari keluarga itu terlihat menyayangi adik-adiknya.
"Kapan kalian akan menikah seperti Rara?" Tanya Mama Angga dan spontan saja Raisa memberhentikan suapannya seraya menatap Angga yang sedang menikmati makanan didepannya.
Bersambung