CEO, MY HUSBAND

CEO, MY HUSBAND
CHAPTER 12



Rendy dari balik kaca restoran itu terlihat tersenyum jahat. Ia tidak menyukai siapa pun yang menyentuhnya tanpa izin.


Beberapa saat kemudian Rendy dan Clara kedatangan rekan bisnis mereka.


Mereka mulai membahas beberapa produk yang akan di impor keluar kota. Dan salah satu dampaknya, Rendy juga harus ikut untuk kesana sebagai pihak pertama dalam kerja sama itu.


Rendy hanya mengangguk sedangkan Clara merencanakan niat jahatnya. Ia akan membuat Rendy terlena akan dirinya.


Setelah beberapa jam berlalu dan meeting telah usai. Rendy kembali di antar Clara untuk pulang. Dan ketika di parkiran Gerin melihat adik iparnya bersama wanita lain. Sedangkan mereka baru saja menikah.


Gerin yang diam-diam menyayangi Rara, langsung menghajar Rendy tanpa mempedulikan kekayaan Rendy. Clara langsung berteriak sehingga para ajudan Rendy, memukul Gerin sepuasnya.


"Hentikan!" Ucap Rendy dan ia juga berkeinginan memukul Gerin. Namun, ketika menyadari siapa pria itu. Rendy menahannya dan tersenyum kecil


"Saya tidak peduli anda tidak mencintai adik saya, tetapi jaga kelakuan anda ketika sedang di luar!" Balas Gerin dan berlalu meninggalkan mereka


Rendy merasa emosi dan alam bawah sadarnya kembali ingin membalaskan semuanya kepada Rara.


Sepanjang perjalanan pulang dan sebanyak apapun Clara bicara Rendy hanya terdiam.


Begitu sampai di rumahnya, Rendy bergegas mencari dan memanggil Rara.


Tetapi tidak ada sahutan sama sekali dari gadis itu.


Lihatlah, Rara membiarkan angin malam membelai kulit putihnya. Ia berdiri di depan jendela kamar. Hidupnya bagaikan burung dalam sangkar.


Semuanya terasa asing bagi Rara. Dan kini seluruh negeri membicarakan kebodohannya.


Beberapa kali Rara menghela nafas beratnya. Setiap kali mengingat Angga dan Raisa hatinya terasa sakit.


Ya!


Tetapi, semua tidak berjalan sesuai keinginan. Angga sudah di miliki orang, dan orang itu adalah sahabatnya sendiri. Dan kini pun, ia sudah terikat pernikahan oleh pria yang tidak di cintainya. Bahkan setiap kata yang keluar dari mulut Rendy adalah kata yang menyakitkan.


"Rara......" Teriak Rendy berulang kali


Rendy sudah habis kesabaran. Ia mendobrak pintu kamar Rara. Tiga kali hentakan badannya. Pintu itu terbuka. Rara masih bersama beban beratnya. Ia tidak menyadari Rendy sudah merusak pintu kamarnya.


Rendy terdiam ketika Rara tidak melihat bahkan mengomelinya saat ini.


"Apa begitu cara keluarga kau berterimakasih kepada orang yang telah menolongnya?" Tanya Rendy, dan lagi-lagi tidak ada respons dari Rara


"RARA!" teriak Rendy seraya menarik bahu istrinya


"Lepasin tangan kotor kamu dari tubuh saya!" Balas Rara berteriak


"Kenapa? Kenapa harus aku yang kamu permalukan?"


"Yang menggunakan uang kamu orang tua aku, bukan aku!" Ucap Rara menitikkan air mata, ia sudah tidak sanggup lagi menghadapi Rendy dengan lunak


"Aku tidak mengenal kamu dan biarkan kita hidup sendiri-sendiri"


"Kamu bilang aku sandera kamu? Ya, kurung dan ikat aku dalam rumah kamu" Ucap Rara menatap Rendy dan tangannya sibuk menepis air matanya


Rara melihat gelas kaca tepat di meja riasnya. Ia mengambil dan langsung memecahkan kaca itu. Tidak ada keraguan, Rara mengambil serpihan kaca itu dan memberikannya kepada Rendy. Darah dari telapak tangannya sudah menetas ke lantai.


"Tidak cukup hari kemarin kamu menyakiti? Ulangi sekarang" Ujar Rara dan Rendy langsung merebut serpihan kaca itu dari tangan istrinya. Rendy melemparkan serpihan kaca itu keluar jendela lalu menahan luka di tangan Rara dengan tangannya.


Bersambung