
Rendy begitu gigih mencari tahu siapa dalang di balik kematian Papanya. Ia bekerja siang dan malam untuk mencari bukti.
Dan usaha Rendy tidak mengkhianati hasil.
Ajudannya berhasil menangkap satu orang pelaku. Satu orang pelaku itu di tangkap ketika ia tengah berada di luar kota.
Bobby, ketua ajudan dan orang kepercayaan Rendy. Membawa satu orang itu ke kantor Rendy.
Pria berbadan kekar itu tetap membungkam ketika Rendy menanyakan satu persatu pertanyaan.
Bahkan ketika ia mendapatkan beberapa kali pukulan pria itu masih tetap diam membisu.
Rendy juga terkenal dengan manusia tidak ada ampunnya.
"Tetap diam atau anda akan mati beberapa saat lagi!"
"Bos ini minumannya" Ucap Bobby memberikan minuman yang sudah di campur racun
"Saya tidak tahu siapa dalang di balik ini semua" Ucap pria itu membela diri
"Tidak mungkin" Teriak Rendy
"Kami hanya mengikuti perintah bos dan mendapatkan bayaran segini"
"Bos? Kasih tahu saya dimana bos anda?"
"Saat ini dia sedang berada di luar kota..."
Singkat cerita, Bobby dan semua anggotanya mencari keberadaan pria itu. Sedangkan pria yang sudah di tangkap di serahkan ke pihak kepolisian.
Siang itu, Rara mengunjungi rumah orang tuanya. Dan di tengah jalan Rara mampir dulu ke toko roti, baru saja masuk Rara melihat Aurel sedang berkumpul bersama teman-temannya disana.
Rara tidak peduli dan melanjutkan memesan beberapa roti. Namun, Aurel tersenyum jahat ketika melihat Rara. Ia berbisik dan ketawa ejek bersama temannya.
"Guys itu loh orangnya" Tunjuk Aurel kepada Rara
"Dia loh wanita matre yang menikahi Rendy karena uang!" Balas Aurel mendekati Rara
Awalnya Rara terlihat tidak peduli. Namun, ketika Aurel mendekati seraya memainkan Rambut Rara, emosi Rara mulai terpancing. Orang-orang yang sedang menikmati makan siang di tempat itu langsung tersenyum.
"Maksud kamu Aurel?" Sahut temannya
"Tahu nggak Mama Rendy sudah meminta mereka berpisah tetapi perempuan ini tidak mau"
"Tahu nggak kalian guys, dan ketika Papa mertuanya meninggal perempuan ini semakin berkuasa" Rara masih bersabar mendengar ocehan sampah Aurel
"Atau jangan-jangan dia yang membunuh Papa mertuanya" Sambung teman Aurel yang lain
"Opppts!" Ucap Aurel tersenyum licik seraya menutup bibirnya
"Atau....."
"Atau jangan-jangan anda yang membunuh Pak Harris, karena yang saya tahu anda tidak pernah di restui!" Ucap Rara yang sedari tadi memilih diam
"Tetapi memang udah kuadrat alam sih, pengganggu rumah tangga orang selalu mencari perhatian!"
Rara tersenyum dan menepuk bahu Aurel. Aurel mulai terpancing emosi. Dia mengambil gelas yang berisi air di samping meja mereka berdiri. Baru saja tangannya ingin mengayun ke wajah Rara, Rara menepis gelas itu sehingga airnya tumpah ke Aurel dan gelas itu langsung jatuh ke lantai.
Aurel berteriak histeris begitu teman-temannya ikut meninggalkan dia.
Rara tersenyum simpul dan berlalu meninggalkan Aurel. Namun, Aurel tidak tinggal diam. Dia mengejar Rara dan ingin menarik rambut Rara. Rara sudah menyadari itu, ia langsung menghindar dan langsung menyebabkan Aurel kehilangan keseimbangan sehingga ia terjatuh ke lantai. Orang-orang disana semakin tertarik melihat kejadian itu.
"Hah!"
Aurel bangkit kembali dan kini ia melempar Rara dengan sepatu yang di pakainya. Rara langsung menghindari, Rara tertawa simpul melihat usaha Aurel yang tidak berhasil. Sebelum pergi Rara menendang sepatu itu ke arah Aurel. Aurel hanya berteriak menahan kesal melihat Rara memperlakukannya seperti itu.
Bersambung