
Sidang pertama Aurel di mulai. Di ruangan sidang, ada keluarga Rendy dan orang tua Rara, bahkan keluarga Aurel juga ada disana.
Aurel mengenakan baju tahanan terlihat keluar bersama dua orang polisi wanita.
Aurel tersenyum manis mentap Rendy yang sudah pulih kembali.
Entah apa yang membuat Aurel tersenyum. Namun, itu mampu membuat ia menepis ketakutannya.
Pengacara Rendy dan Aurel terlihat sudah bersiap-siap, begitu juga para saksi sudah ada disana.
Hakim memukul palu petanda sidang akan di mulai.
Satu persatu kesalahan Aurel di beberkan. Aurel hanya memandangi lantai menyesali perbuatannya.
"Saudara Aurel apa anda sengaja merencanakan pembunuhan ini?" Tanya hakim
"Ya!"
Satu persatu pertanyaan demi pertanyaan di jawab Aurel. Aurel selalu mengatakan Iya.
Mamanya yang mendengar itu, menangis tidak percaya anaknya berubah menjadi seorang psikopat. Yang begitu ganas.
Dua jam persidangan itu berjalan, dengan berbagai perdebatan. Kemarahan dan teriakkan.
Bahkan seorang pengacara Aurel mengundurkan diri ketika mengetahui kegilaan yang di lakukan Aurel.
Dan penutupan sidang hakim memutuskan dan hasil diskusi keluarga Rendy. Aurel hanya di hukum selama 20 tahun penjara. Entah apa yang membuat keluarga Rendy berbaik hati. Namun, itu membuat Aurel tersenyum lega dan menepis air matanya.
Aurel menatap Mamanya dan mengatakan lewat tatapan mata, bahwa di dalam sana ia baik-baik saja.
Aurel di bawa lagi oleh beberapa orang polisi begitu juga orang suruhan Aurel. Dan seperti janji Rara untuk membantu orang yang menembak suaminya.
Rendy menyetujui untuk melepaskan pria itu.
Ketika sidang telah berakhir, rendy sengaja mengajak Rara untuk menghindari keluarganya.
Hana berlutut di kaki adiknya dan mengucapkan kata maaf. Ia menyesali perbuatannya. Melihat itu Rendy memeluk Kakaknya
"Tidak apa!"
Hana terdiam begitu mendengar kata itu, tidak seperti Rendy yang biasanya keras dan kasar. Jika tadi Hana berfikir Rendy akan memenjarakannya, tetapi tidak, Rendy memperlakukannya dengan lembut. Hana tidak berhenti mengucapkan terimakasih begitu suami Hana yang merasa bersalah kepada adik iparnya.
Semua seperti telah usai, hanya saja Bu Silvi tidak menemui anak dan menantunya. Bu Silvi tidak memiliki keberanian setelah beberapa kali tuduhan yang di layangkan kepada Rara.
Bu Silvi langsung menuju rumahnya, sedangkan Andre menemui adiknya dan meminta ia untuk kembali lagi bekerja sama.
Dan di saat yang bersamaan, Pak Adit dan Bu Shireen mengajak anak dan menantunya ke rumah untuk menikmati makan malam bersama.
Rara dan Rendy menyetujui itu. Menjelang sore mereka menghabiskan waktu bercerita.
Dan sedikit pertanyaan yang membuat Rara terdiam
"Ra kapan punya anak?" Tanya Reni
"Usahakan buat liburan berdua dulu, lagian masalahnya udah selesai" Suruh Bu Shireen, ia seperti memberikan kode kepada mereka berdua
Rendy dan Pak Adit hanya senyum-senyum kecil.
Dan makan malam itu berjalan sesuai rencana. Meja makan berukuran sedang itu sudah di penuhi oleh beberapa makanan pembuka dan penutup.
Semua keluarga Pak Adit menikmati makan bersama, tidak lupa Pak Adit juga menyuruh Pak Joko untuk ikut makan bersama mereka.
Tidak ada suara, hanya sendok dan piring yang saling beradu.
Setelah selesai makan Bu Shireen menyiapkan beberapa menu lauk untuk di bawa pulang.
Sekitar jam sepuluh malam mereka meninggalkan rumah Pak Adit. Rendy dan Rara meninggalkan rumah itu dengan senyuman yang mengambang. Perut sudah kenyang terisi dan otak terasa lega.
Bersambung