CEO, MY HUSBAND

CEO, MY HUSBAND
CHAPTER 58



Di ruangan itu hanya suasana hening yang mencekam, tidak ada yang bertanya begitu pun Clara.


Rara menghela nafasnya dan menatap beberapa orang karyawan di dalam itu.


"Mulai hari ini saya yang akan mengambil alih posisi Rendy Handoko"


"Semua laporan dan keuangan yang keluar harus melalui persetujuan dari saya!"


"Saat ini suami saya sedang di luar kota" Ucap Rara tidak ingin memberitahukan apa yang terjadi sekarang ini


"Apa ada pertanyaan?"


"Buk, proyek satu bulan yang lalu dan sudah pernah di bahas oleh Pak Rendy, belum juga di setujui oleh pihak sana"


"Batalkan!" Suruh Rara, dan semua mata menoleh ke arah Rara. Bagaimana pun itu proyeknya memiliki untung yang luar biasa


"Nggak bisa gitu Buk!" Sambung Clara


"Saya suruh batalkan ya batalkan"


"Tetapi kita belum mendapatkan klien yang baru Bu Rara"


"Hubungi Pak Angga Damawangsa ia adalah pemegang saham dari Damawang, katakan saya meminta untuk bekerja sama dalam proyek ini"


"Sebelumnya sudah pernah Buk, tetapi dia menolak!"


"Lakukan sekali lagi" Suruh Rara


Setelah satu jam lebih meeting. Rara menyudahi dan menyuruh untuk kembali bekerja ke tempat masing-masing.


Clara tersenyum kecil melihat keberanian Rara.


Clara membolak-balik buku kecilnya melihat jadwal Rendy hari ini


"Buk kita ada meeting bersama BlueMoon Grup, selaku pemegang saham utama"


"Apa?"


Rara mengangguk lesu bagaimana bisa ia menghadapi situasi disana. Di tambah dia kurang mengerti soal itu.


Clara menarik tangan Rara menuju ruang presiden direktur. Clara tersenyum melihat kegugupan bos barunya.


"Tenang aja, aku akan bantuin kamu" Ucap Clara menyemangati Rara


Pertama-tama Clara mengajari beberapa poin penting dari BM Grup. Orang-orang yang berbahaya dan orang-orang yang ada di pihak Rendy.


Termasuk salah satunya Bu Silvi. Rara terlihat mengerti ketika Clara menjelaskan dengan teliti.


Jam setengah sepuluh lewat mereka bersama Pak Joko langsung berangkat menuju gedung BM Grup.


Beberapa orang penting sudah berkumpul di dalam ruangan itu. Termasuk kedatangan Bu Silvi dan Andre yang menjadi sorotan. Bu Silvi tahu betul Rendy tidak akan datang hari ini. Mengingat anaknya yang belum sadar dari koma.


Dan ketika mereka mau memulai meeting sebuah ketukan menghentikan mereka.


Rara tersenyum simpul dan masuk ke ruangan itu. Ia melihat kursi kosong dan yang biasa di tempati Rendy. Rara berjalan lancar dan bisa mengatasi kegugupannya.


"Apa yang kau lakukan disini!" Bisik Bu Silvi ketika Rara mendekatinya. Rara hanya membalas dengan senyuman dan memilih duduk seraya menyapa Kakak Iparnya


Bu Silvi memulai meeting hari ini. Dan Rara melihat satu persatu orang yang ingin menjatuhkan Rendy dan orang-orang yang berpihak kepada Rendy.


Rara menangkap sosok yang ia kenali, ya. Disana ada William, mata mereka sama-sama bertemu dan Rara tersenyum kecil kepada William ketika melihat pria itu berada di pihak suaminya.


Senyuman Rara hilang begitu melihat keberadaan Aurel disana. Keluarga Aurel adalah penanam modal terbesar di BM Grup. Aurel menatap sinis melihat Rara, begitu juga Rara yang menyatakan bendera perang sebagai bentuk perlawanannya.


"Berhubungan Rendy tidak hadir, maka pemegang saham utama di BM Grup kita mulai" Ucap Bu Silvi seperti menyerang Rara.


Orang-orang di pihak Rendy mulai Riuh tidak menyetujui itu


"Tidak bisa, karena Rendy Handoko sedang terbaring di rumah sakit" Balas Rara langsung berdiri dari tempat duduknya.


Bersambung