CEO, MY HUSBAND

CEO, MY HUSBAND
CHAPTER 49



Rabu pagi, Angga dan Raisa terlihat keluar dari bandara. Ia, mereka telah menyelesaikan bulan madu. Raisa terlihat senyuman semringah begitu juga Angga.


Dan di pintu keluar sopir Angga sudah menunggu mereka.


Raisa tidak sabar ingin bertemu sahabatnya, membagikan kebahagiaannya tanpa ia tahu penderitaan Rara sekarang.


Berbeda dengan Rara, ia terlihat mempersibukan dirinya dengan berbagai pekerjaan. Di saat seisi rumah belum bangun. Ia sudah membersihkan beberapa sudut ruangan di rumahnya.


Bahkan Bi Sur meminta ia untuk tidak melakukannya, Rara hanya diam dan sibuk melakukan apa yang ingin di lakukannya.


Jam enam pagi Bu Shireen melihat anaknya menyiram halaman belakang, Bu Shireen menghampiri anaknya dan tersenyum manis menatap Rara.


"Sepertinya kita tidak perlu lagi menyewa pembantu di rumah ini!" Ucap Bu Shireen kembali tersenyum


"Rara tidak ada rumah tangga yang adem ayem nak, Papa sama Mama aja sering berantem"


"Kita berumah tangga harus banyak memaafkan Ra, tidak baik menyalah keadaan terus! Belajar menerima kekurangan perihal kecewa tentu ada, jangan pernah bohongin hati kamu nak!"


"Ma!" Sahut Rara


"Kasihan Rendy semalaman tidur di gerbang rumah kita!"


"Apa Mama juga nggak perlu satpam di rumah ini lagi?"


"Mama!"


"Kamu bersihin rumah, dia jagain rumah!"


Rara mendengus malas mendengar ucapan Mamanya, Rara mengisi air seember dan membawanya keluar. Ternyata semalam Rendy tidak jadi ikut Pak Joko. Ia lebih memilih menunggu Rara dan meminta maaf. Rara tersenyum geli melihat seorang pengusaha tampan tidur di luar seperti gembel. Rara masih kesal dan langsung menyiram seember air ke tubuh Rendy.


Kaget dan langsung berdiri hal yang di lakukan Rendy.


Rendy menggelengkan kepala, seumur hidup hanya Rara yang memperlakukannya seperti ini.


"Disini tidak menerima tamu!" Ucap Rara


"Tidak mungkin!" Ucap Rendy dan tiba-tiba air mata pria itu menetes di pipinya


Melihat Rendy menangis Rara hanya menatap diam. Rara berpikir ini adalah sebagian dari rencana Rendy.


Rendy tidak berkata-kata apa lagi, ia berbalik badan dan meninggalkan Rara. Ia berjalan seperti orang linglung sedangkan badannya sudah basah.


Rara tidak peduli. Ia membiarkan Rendy pergi dan kembali masuk ke dalam rumahnya.


"Rara mertua kamu kecelakaan dan meninggal, ayo kita kesana!" Teriak Pak Adit dari ruang tamu


Mendengar itu, Rara keluar dan berlari mengejar Rendy. Namun, pria itu sudah menghilang. Rara berteriak tetapi tidak ada jawaban.


"Cepat naik!" Suruh Pak Adit dan membiarkan Rara mengenakan piyama hitam panjang


Ketika mereka sampai di rumah Pak Harris, orang-orang sudah ramai. Pak Harris terbaring kaku. Ia mengalami kecelakaan dan tidak bisa di selamatkan. Bu Silvi dan anak-anaknya menangis di samping jenazah yang sudah kaku.


Sedangkan Rendy, terdiam memandangi Papanya. Bajunya masih basah.


Rara berjalan dan mendekati Rendy. Rara langsung memeluk suaminya, dan saat itu juga Rendy menangis di dalam pelukan istrinya.


"Semalam mereka menghubungi aku, tetapi aku mengabaikannya"


"Benar kata kamu, aku tidak pernah ada di saat orang-orang yang aku sayangi membutuhkan aku!"


Rara ikut menangis ketika mendengar ucapan Rendy, jika saja ia tidak egois mungkin Rendy bisa berbicara dengan Papanya sebelum semua terlambat.


Rara tidak menyangka Pak Harris pergi secepat itu. Pak Harris selalu membelanya dalam keadaan apapun. Kini tidak ada lagi di keluarga mertuanya yang akan berpihak kepadanya.


"Maafin aku!" Ucap Rara


Bersambung