CEO, MY HUSBAND

CEO, MY HUSBAND
CHAPTER 4



Kebohongan apa lagi?


Dan sialnya aku terjebak lagi


Rara menyentuh kepala yang terasa berat. Nafas memburu tatkala mendengar ucapan itu.


Rara ingin segera menghilang dari sana. Susasana macam apa ini, pikir Rara seraya bergantian melihat keluarganya.


"Kenapa kalian selalu menyakiti aku?" Tanya Rara menatap kesal, seakan mereka bukan keluarga yang baik


"Ra, bukan seperti itu nak!" Sahut Bu Shireen melihat raut kekecewaan dari wajah anaknya


"Kalian belum puas menghancurkan aku? Apa delapan tahun itu masih kurang? Kalian tahu lelah di perjalanan aja belum hilang"


"KENAPA?" Teriak Rara, spontan semuanya menatap Rara.


Rara sudah banyak berubah, bahkan ia sudah berani melawan untuk hal yang ia tidak suka


"Rara kenapa kamu berteriak?" Tanya Bu Shireen tidak percaya apa yang di lihat


"Ra, keluarga kita terancam gulung tikar, perusahaan Papa sudah di ambang kehancuran. Tolong bantu kami!" Pinta Bu Shireen memohon seraya berlutut di kaki anak gadisnya.


Melihat Mamanya begitu, Rara mundur beberapa langkah. Namun, tiba-tiba saja, Pak Adit, Reni dan Gerin mengikuti Bu Shireen. Mereka memohon kepada Rara.


Rara tidak habis pikir demi harta, keluarganya rela seperti ini. Bahkan Pak Adit orang yang selalu gengsi sekalipun melakukan itu.


Rara tersenyum simpul, menggelengkan kepala melihat drama ini lagi.


"Lakukan sesuka kalian, jika memang itu yang membuat kalian bahagia lagi! Kebahagiaan aku tidak perlu di pikirkan" Ujar Rara menarik koper dan meninggalkan keluarganya


"Rara benar-benar ya sekarang" Omel Reni ketika adiknya sudah memasuki kamar.


"Kak kita yang terlalu jahat sama dia!" Timpal Gerin


Rara membuka pintu kamar secara kasar. Kamar yang sudah ia lupakan selama delapan tahun. dan hari ini kamar itu terlihat baru di bersihkan.


Foto-foto di masa lalu bersama sahabatnya masih tersusun rapi di dinding bercat krem itu.


Laki-laki tampan yang selalu menami itu bernama Angga, sedangkan wanita mungil yang di sampingnya adalah Raisa. Teman baik.


Rara menggeser roal gorden dan membuka jendela kamar. Ia kembali menghirup udara di kompleks perumahan itu,segar dan menenangkan . Bau dedaunan kering sedikit tercium olehnya. Dan ketika Rara mengalihkan pandangan ke sudut jalan. Ia melihat pemandangan yang menarik, ya itu Angga terlihat akan pergi bersama mobilnya.


Rara sedikit tersenyum melihat pria itu kembali, ia benar-benar semakin mengagumi Angga. Angga semakin dewasa dan ketampanannya tidak pernah memudar.


Rara kembali memasang raut wajah kecewa dan kesal .


"Ra....."


"Nanti malam kamu akan di jemput calon suami kamu!"


"Ya" Sahut Rara tidak berniat lagi melanjutkan pembicaraan dengan Bu Shireen


Bu Shireen menganggukkan kepala dan berlalu meninggalkan kamar Rara. Ia menuruni anak tangga setapak demi setapak. Bu Shireen tahu persis anaknya kecewa. Bu Shireen menemui suami dan Reni di ruang tamu. Ia melihat senyuman kebahagiaan dari suaminya.


"Pa, mari kita batalkan perjodohan Rara!" Ujar Bu Shireen tidak ingin lagi membuat Rara membenci dirinya


"Kamu sudah hilang akal?" Jawab Pak Adit menatap kesal


"Jika anak perempuan Pak Harris belum menikah maka ia akan aku jodohkan dengan Gerin, setidaknya Gerin lebih berguna dari pada Rara"


"Pa, Rara juga berguna bagi kita!" Bela Gerin terhadap adiknya


"Kita sekolahkan dia jauh-jauh tetapi malah menjadi anak pembangkang"


"Ini semua salah kita Pa, kita jarang menemuinya!"


"Memuakkan, tidak perlu belas kasih jika tidak ingin hidup menderita"


Pak Adit meninggalkan keluarganya. Sedangkan Bu Shireen hanya menggelengkan kepala melihat keras kepala Pak Adit.


Seharian Rara hanya tidur melepas penat. Dan ketika senja mulai menghampiri. Ia di suruh untuk bersiap-siap menemui calon suaminya.


Rara hanya memoles wajah dengan beberapa make-up. Ia tidak antusias menemui pria itu.


Rara mengenakan gaun biru tua. Dan membiarkan rambut terurai bebas.


Kira-kira setelah satu jam menunggu, orang yang di nanti datang menjemput.


Rara melotot melihat siapa pria itu. Rara tidak habis pikir kenapa keluarganya menjodohkan ia dengan pria tua seperti itu.


Astaga drama apa lagi ini?


Bersambung