
Dua orang pria saling bertatapan penuh tanda tanya. William menarik tangan kiri Rara, sedangkan Rendy menarik tangan kanan Rara.
Satu orang mantan dan satu orang suami.
Rara tersenyum simpul melihat Rendy yang sok peduli kepadanya.
"Jadi dia selingk......" Rara langsung menginjak kaki Rendy dan tersenyum jahat kepada suaminya
Rara menarik tangan Rendy dan masuk ke dalam mobil yang sudah di tunggu Pak Joko.
Sedangkan William hanya menatap terpaku sebelum meninggalkan tempat itu.
Melihat akan ada perang dunia, Pak Joko langsung keluar dari mobil.
"Tidak salah dugaan Mama dan Aurel!" Tuduh Rendy
"Saya akan mengurus perceraikan kita!"
"Apa?" Sahut Rara kaget
"Silahkan, karena tidak ada lagi yang harus di pertahanan dari rumah tangga ini!"
"Dan asal kamu tahu Rendy, itu anak kamu! Kamu nggak ingat hari dimana kamu menculik aku dari rumah sakit? Hari dimana kamu mengambil mahkota aku?"
"Aku capek! Sekarang kamu urus diri kamu sendiri!" Mendengar ucapan Rara sambil menangis Rendy terdiam dan melihat tidak ada kebohongan di mata istrinya
"Rara aku minta maaf!" Ucap Rendy begitu tulus dan merasa bersalah atas ucapannya
"Minta maaf lagi, lakuin kesalahan lagi, minta maaf lagi! Apa kamu nggak mikirin perasaan aku?"
"Rara!"
"Jangan pegang-pegang" Teriak Rara ketika Rendy menyentuh tangannya
"Tidak bisa Rara!"
"Aku terlalu banyak melakukan kesalahan dan biarkan aku memperbaiki dengan cara kamu tetap berada di sisi aku!"
"Nggak Rendy!" Ucap Rara turun dari mobil
Rara berlari ke arah mobilnya. Ia masuk dan mengunci pintu mobil dan membiarkan Rendy memanggil-manggilnya.
Rara menatap Rendy dengan air mata yang terus membasahi pipinya
Siapa kamu? Begitu berani menyakiti aku berulang kali! Tanpa jeda, kau menoreh luka di setiap relung hati ku. Kau menginginkan apa yang tidak pernah aku inginkan. Bagaimana pun mencintai kamu itu sangat menyebalkan, adakalanya aku harus membenci kamu yang selalu mempermainkan perasaan ku.
Penyesalan kini datang seperti layangan putus, yang tidak bisa di tarik ulur. Hanya terbang, tidak tahu tempat persinggahan. Atau mungkin saja menunggu badai untuk menghancurkannya.
Perihal luka yang semakin sobek dan melebar, aku bisa apa selain menangis dan menguatkan diri. Tidak ada pilihan selain menjalaninya. Kini, kembali kau torehkan memar yang semakin lebar. Pergi! Dan datang sesuka hati kamu, kamu pikir kali ini aku akan memaafkan kamu lagi? Tidak Rendy, kau tidak pernah ada di saat aku kesulitan.
Batin Rara seperti ikut mengeluarkan uneg-unegnya. Rara akan mengikuti kata hatinya. Baginya bersama Rendy telah usai setelah pria itu mengucapkan kata cerai. Rara menepis air matanya meninggalkan Rendy yang masih memanggil namanya.
Rara melajukan mobilnya dan meninggalkan kenangan itu bersama Rendy.
Ia tersenyum dan tidak ingin menoleh ke belakang lagi.
Rendy memukul kepalanya dan memasuki mobil untuk mengejar Rara, Pak Joko hanya menghela nafas ketika Rendy meninggalkannya begitu saja.
Rara sampai di rumah dan menyuruh penjaga rumahnya untuk tidak membukakan pagar. Siapapun itu termasuk Rendy.
Pak Satpam menganggukkan kepalanya dan benar saja ketika Rendy tiba, tidak ada yang membukakannya gerbang. Sekuat apapun Rendy berteriak tidak ada yang mendengarkannya.
Bu Shireen yang melihat itu hanya diam berdiri di sudut jendela. Ia tidak ingin ikut campur lagi urusan anaknya.
Bersambung