
Malam itu hujan semakin deras, darah yang keluar dari bagian tubuh Rara sudah bercampur dengan air. Jalanan macet total. Sebagian orang tidak ada yang berani keluar dari mobil mereka. Dan sebagian lagi mencoba menghubungi polisi dan ambulans.
Sedikit demi sedikit mata Rara mulai tertutup,
Dan beberapa menit kemudian polisi dan ambulans mulai berdatangan. Rara dan sopir truk itu langsung di evakuasi ke rumah sakit.
Rara langsung di bawa ke ruang operasi begitu juga sopir truk itu.
Kabar kecelakaan itu langsung tersebar luas terutama di televisi.
Bu Shireen yang saat itu sedang menonton bersama cucunya. Langsung jatuh pingsan ketika melihat kecelakaan itu dan tepat wajah Rara yang di sorot kamera.
Reni berteriak dan satu rumah langsung panik.
Pak Adit dan Gerin yang baru kembali dari kantor. Bahkan belum sempat mereka memasuki rumah. Ia sudah melihat Bu Shireen di gotong oleh ART di rumah itu.
"Mama kenapa?" Tanya Pak Adit
"Rara Pa!..."
"Rara kenapa?" Tanya Pak Adit merasa bingung, sedangkan Gerin mengangkat Mamanya ke mobil
"Rara kecelakaan!" Ucap Reni dan seketika kaki Pak Adit langsung lemah, ia terjatuh ke lantai
Setelah melewati beberapa drama, Bu Shireen dan Pak Adit kembali sadar. Mereka satu keluarga langsung ke rumah sakit.
Tiga jam sudah berlalu. Rara belum juga keluar dari ruang operasi. Sedangkan Pak Harris yang sudah mendapatkan kabar langsung bersama istrinya ke rumah sakit.
Pak Harris merasa geram, ketika ia tidak mengetahui Rendy pergi keluar kota.
Dan di saat keadaan darurat, Rendy juga tidak bisa di hubungi.
Lima jam sudah berlalu. Akhirnya lampu operasi telah mati. Rara dalam kondisi kritis. Dan setelah dokter memberitahukan itu semua. Pak Adit terduduk lemah melihat anak bungsunya di penuhi selang infus.
Sedangkan Pak Harris semakin geram kepada Rendy yang belum juga bisa di hubungi.
"Pak Harris silahkan ambil beberapa saham anda kembali, dan tolong kembalikan anak gadis saya!" Ucap Pak Adit menitikkan air mata merasa bersalah telah menjual kebahagiaan anaknya.
"Tidak Pak Adit saya yang meminta maaf, saya akan memberikan pelajaran kepada anak saya!"
"Tentunya, jangan sampai saya membunuhnya dan jangan pernah dia menampakkan wujudnya di depan adik saya" Ucap Gerin mengingat tempo dulu dia memergoki Rendy bersama wanita lain
"Beberapa waktu yang lalu, saya sempat menghajarnya karena dia bersama wanita lain" Sambung Gerin
"APA?" Sahut Bu Silvi tidak terima anaknya di pukul
"Kamu diam!" Ucap Pak Harris menatap istrinya
"Saya akan memberikan pelajaran kepada Rendy dan sementara biarkan Rara bersembunyi di rumah sakit ini sampai ia pulih kembali, saya akan memberikan pengawalan yang ketat" Ucap Pak Harris dan langsung di setujui oleh pihak keluarga
Sedangakan di ruangan sebelah, sopir truk itu tidak bisa di tolong. Ia menghembuskan nafas terakhirnya sebelum operasi selesai.
Pak Harris dan Pak Adit tidak tinggal diam, mereka memberikan santunan kepada keluarga dengan nominal yang tidak main-main. Bahkan mereka juga mengurus pemakaman sopir truk itu.
Dan setelah merundingkan sesuatu bersama pihak keluarga, keluarga sopir truk itu bersedia untuk tidak memberikan batu nisan beberapa hari.
Semua berjalan dengan semestinya, dan dua hari telah berlalu setelah kecelakaan itu. Rendy belum juga bisa di hubungi. Dan tanah pemakaman itu masih basah. Sedangkan Rara belum juga sadar dari komanya.
Tepat hari ketiga, pagi itu Rendy pulang bersama Clara. Dan di saat di bandara Pak Joko tidak menjemputnya. Rendy merasa geram dan akhirnya pulang menaiki taxi.
Bersambung