
Malam mulai berganti pagi, udara pagi mulai memasuki celah-celah ruangan yang sedikit terbuka, Rendy menarik selimut dia tersenyum manis melihat Rara tertidur dengan pulas. Rendy terus menatap Rara dengan penuh cinta, tangannya membelai pipi Rara begitu Rendy ingin mencium Rara jam welker di samping mereka berbunyi sangat keras membuat Rara terbangun dari tidurnya
"Pagi sayang" Sapa Rara melihat Rendy terus tersenyum
"Wah semalam aku benar-benar gila" Ujar Rara langsung membuat Rendy tertawa lepas dan mengangkat kedua tangannya
"Aku lapar sayang, mari kita makan"
Rara mengangguk dan bergegas ke dapur. Ia mempersiapkan kopi hangat dan beberapa lembar roti berselaikan cokelat.
Tidak berapa lama Rendy keluar dari kamar.
Ia sudah rapi dengan setelan kemeja putih dan dasi hitam.
Hari ini Rendy akan ke kantor Papanya setelah mendapatkan telepon dari Mamanya.
Rara memberikan semangat kepada suaminya,apapun yang terjadi itu sudah menjadi takdir yang harus di ambilnya.
Bluemoon Grup, kantor itu terlihat sangat mencekam. Hari ini ada rapat darurat, beberapa klien yang sangat penting di perusahaan itu ikut hadir.
Begitu juga Bu Silvi terlihat keluar dari mobilnya. Ia di kawal oleh beberapa ajudan menuju ruang rapat. Tidak berselang lama Rendy juga terlihat hadir bersama orang kepercayaannya. Sedangkan Andre sudah menunggu sedari tadi.
Ketika Bu Silvi masuk semua yang ada di ruangan itu berdiri. Bu Silvi menduduki kursi yang biasa di duduki Pak Harris.
Begitu juga ketika Rendy masuk beberapa orang berdiri kecuali yang berpihak kepada Bu Silvi.
Bu Silvi tidak ingin berbasa-basi. Setelah membicarakan untung dan rugi perusahaan setelah di tinggal suaminya. Ia kembali berdiri dan menarik perhatian tamu yang datang.
"Saham BlueMoon Grup akan jatuh kepada anak sulung saya sebagai pemegang utama, dan anak ketiga saya tidak akan mendapatkan saham sedikit pun!" Mendengar itu Rendy tersenyum, ternyata ancaman Mamanya tidak main-main
Klien penting itu mulai ribut dan bertanya kenapa? Karena dari awal Rendy yang berjasa menaikkan sebagian dari saham itu.
"Kalau begitu perusahaan saya mengundurkan diri menanamkan saham di BlueMoon Grup" Ucap Pak Robi yang sudah mempercayai Rendy
"Saya perwakilan dari Mobile Grup juga akan mengundurkan diri!" Ucap pria muda seumuran Rendy. Bahkan wajahnya terlihat baru berada disana
Ya, dia adalah William mantan Rara. Dia adalah anak dari Mobile Grup yang akan menggantikan posisi Papanya.
Andre mulai panik ketika melihat satu persatu klien penting mengundurkan diri dari perusahaannya.
"Saya selaku pemegang saham utama akan menggandeng adik Saya. Rendy Handoko untuk memajukan perusahaan yang sudah di rintis oleh Papa saya"
"Dan saya harap kepada Bapak dan Ibuk yang terhormat untuk membatalkan pencabutan saham dari perusahaan kami!"
"Saya meminta maaf atas kehebohan ini, karena Mama saya masih tergoncang atas kepergian Papa!"
Semua orang mengangguk setuju dengan usulan Andre. Dan mereka membatalkan ucapan mereka.
Setelah selesai seperti semula, para klien mulai meninggalkan tempat itu.
Kini tinggal Bu Silvi, Andre dan Rendy di dalam sana.
Lagi dan lagi Bu Silvi menampar pipi Andre, ia merasa kecewa dengan anak sulungnya.
"Dan kamu, sebelum kamu menceraikan dia jangan harap mendapatkan saham dari sini" Ucap Bu Silvi meninggalkan kedua anaknya
"Jangan dengarin omongan Mama, Lo udah berhasil dengan beberapa prestasi, maafin gue!" Ucap Andre kepada Rendy
"Iya Kak, gue tidak akan mengecewakan Papa, dan untuk tidak mendapatkan saham tidak masalah. Karena ketika istri gue ada di dekat gue sudah lebih dari cukup"
"Oke Bro!"
Mereka berdua meninggalkan meja rapat itu dan kembali ke pekerjaan masing-masing. Rendy akan kembali ke kantornya, dan ketika ia melewati koridor parkir, William sudah menunggu Rendy disana.
"Apa anda mengenal Rara Wijaya?" Tanya William
"Ya, dia istri saya!" Jawab Rendy dan langsung saja William melotot, William bingung siapa yang berbohong di antara Rendy dan Rara.
Bersambung