CEO, MY HUSBAND

CEO, MY HUSBAND
CHAPTER 6



Rara tersenyum simpul mendengar ucapan Rendy. Awal pertemuan mereka sudah mengibarkan bendera perang. Rendy melihat Rara tersenyum, ia langsung menyimpulkan bahwa Rara wanita yang tidak baik.


Rendy langsung meninggalkan Rara begitu saja. Namun, Rara tidak hilang akal. Ia mengejar Rendy dan ikut masuk ke dalam lift tersebut.


"Sial" Ucap Rendy merasa gagal mempermainkan wanita aneh menurut pandangannya


"Tepat, keluarga saya sih juga bilang begitu!" Balas Rara tersenyum ke arah Rendy


Rendy hanya mengernyitkan kening, melihat tingkah tidak waras wanita di sampingnya. Dan niat Rendy menggebu-gebu ingin segera menikahi Rara dan menghancurkan hidup wanita itu.


Dan ketika pintu lift terbuka, Rara mempercepat langkah kaki menuju parkiran mobil yang sudah di tunggu oleh Pak Joko


"Anda mau kemana?" Tanya Rendy ketika Rara ikut masuk ke dalam mobil


"Pulang!"


"Kenapa harus dengan mobil saya?"


"Anda lupa? Anda yang merencanakan makan malam aneh ini"


"Jika anda idak bisa menjaga ucapan, saya akan menarik semua aset yang sudah saya berikan ke keluarga Adit Wijaya"


"Opttsss sorry!" Sahut Rara menutup mulut seraya mengedipkan mata sebelah kanan


"Keluar!"


"Tidak!"


"KELUAR!" teriak Rendy


"Ya udah, biar Bapak yang keluar" Ucap Pak Joko melihat mereka ribut sedari tadi


"Jangan!" Jawab Rendy dan Rara secara bersamaan


"Ya!" Sahut Pak Joko tersenyum manis dan mulai mengemudikan mobil meninggalkan hotel itu.


Sepanjang perjalanan pulang mereka di temani oleh keheningan. Sesekali Rendy menoleh menatap Rara yang memejamkan mata. Banyak Hal aneh yang membuat Rendy tertarik. mulai dari kelancangan dan hal yang tidak biasa di lakukan wanita lain kepada dirinya.


Setelah setengah jam perjalanan, mereka sampai di rumah Rara. Rara turun dan tidak mengucapkan apa-apa lagi.


Sedikit tidak tau terima kasih bagi Rendy. Namun, ia juga segera meninggalkan rumah Rara.


Rara menghela nafas yang memburu ketika satpam rumah membukakan gerbang.


"Hah! Berpura-pura gila ternyata juga perlu" Keluh Rara


Hatinya terluka mendapatkan perlakuan seperti tadi. Tetapi ia harus kuat, Rara tidak ingin memperlihatkan kelemahan di depan orang lain. Termasuk keluarganya sendiri.


Rara menoleh dan mendapati pria tinggi dan juga rupawan. Pria itu tengah tersenyum manis ke arahnya. Rara juga ikut tersenyum dan tanpa menunggu apa-apa lagi. Rara berlari ke arah pria itu dan memeluk cukup erat.


Bau khas pria tidak pernah berubah.


"Angga" Tutur Rara masih memeluk orang yang menurutnya bisa di andalkan


"Kenapa kamu tidak bilang kalau sudah pulang?" Tanya Angga membalas pelukan Rara


"Suprise!" Ucap Rara dan suaranya mulai parau, ia menangis di pelukan Angga. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia seperti mendapatkan sandaran setelah sekian lama.


"Ra, kamu kenapa?" Tanya Angga mencoba melepaskan peluka. Namun, Rara menahannya agar tidak lepas


"Angga!" Teriak suara dari kejauhan, suara wanita itu semakin mendekat dan langsung menarik Rara


"Raisa?" Ucap Rara begitu melihat sahabatnya


"Kamu jahat ya Ra?"


"Maksud kamu?"


"Kamu pulang hanya untuk merebut Angga dari aku?"


"Aku tahu kalian saling mencintai, tetapi Angga sudah milik aku!" Teriak Raisa,Rara benar-benar kaget mendengar ucapan Raisa


"Delapan tahun kamu ninggalin dia, bukan delapan bulan. Dan ketika dia sudah melupakan kamu, kamu datang lagi"


"Raisa!" Seru Angga menahan tangan Raisa yang sudah tidak terkendali lagi


"Sa aku nggak ada maksud apa-apa!"


"Dan aku juga tidak ingin menghancurkan hubungan kalian, aku butuh kalian saat ini"


"Butuh kami, setelah kamu pergi tanpa pamit? Menghilang entah kemana? Sahabat macam apa kamu?"


Dan Rendy memutar mobilnya kembali, setelah menyadari dompet dan ponsel Rara tertinggal di mobil. Ia bersama Pak Joko melihat keributan itu. Dan untuk pertama juga Rendy melihat Rara menangis. Ia masih memperhatikan dari dalam mobil seraya tersenyum aneh.


"Sayang dengarkan penjelasan Rara dulu" Ucap Angga menenangkan Raisa


"Nggak ada yang perlu di jelaskan setelah 8 tahun berlalu!"


"Ada apa?" Tanya Rendy dan sudah berdiri di samping Rara. Rara yang tidak menyadari sedari tadi, ketika melihat Rendy ia langsung menghapus air mata.


Bersambung