CEO, MY HUSBAND

CEO, MY HUSBAND
CHAPTER 73



Hari berganti,waktu berdetak cukup cepat,minggu ke minggu berlalu meninggalkan setiap kenangan sudah beberapa minggu Rendy berangkat pagi pulang malam, dan saat di rumah Rendy sibuk dengan pekerjaannya. Rara hanya bisa menghela nafas panjang melihat Rendy yang lebih menyukai Laptop dan beberapa tumpukan kertas dari pada dirinya.


Seperti pagi biasa Rendy sarapan dan laptop masih di depannya, Rara keluar kamar dengan pakain yang sudah rapi seraya membawa kopernya


"Mau kemana" Tanya Rendy dan matanya tidak beralih menatap menatap layar laptop


"Aku mau kerumah Mama" Rara semakin kesal dengan pertanyaan Rendy.


Rendy melirik ke arah Rara yang sedang berdiri cemberut.


"Oh ya udah hati-hati ya sayang titip salam buat mama" Ucap Rendy tersenyum manis


"Aku bakal aduin ke Papa"


"Aku akan menjemput dan memeluk kamu lalu Papa kamu nggak jadi marah"


"Di luar hujan, aku akan hujan-hujan?"


"Aku akan melindungi kamu dari hujan"


"Aku pergi"


"Iya"


"Rendy kamu nggak mau menahan aku, supaya aku tidak pergi"


"Nggak"


"Kenapa?"


"Inikan bukan kali pertama kamu seperti ini, kamu juga tahu aku akan datang menjemput dan memohon untuk kamu pulang"


"Sayang kamu dan juga sayang pekerjaan aku" Rendy mendekati Rara dan langsung memeluk Rara yang masih memendam marah


"Kamu tahu menurut artikel yang aku baca, pelukan suami mampu menenangkan istri yang lagi marah-marah. Dan maafin aku beberapa minggu ini selalu sibuk, kamu tahu perusahaan Papa lagi ada masalah dan aku juga harus membantu perusahaan papa. Maafin aku sayang" Rara tersenyum dan membalas pelukan suaminya yang begitu hangat


"Aku janji sabtu ini kita pergi honeymoon sesuai permintaan mama kamu,aku sudah mempersiapkan semuanya"


"Janji sama aku,kalau kamu bohong tidur di luar" Rendy mengangguk meyakinkan Rara


Rendy mulai sibuk dengan aktivitasnya lagi sedangkan Rara menikmati hidup jadi Ibu rumah tangga seorang diri.


Hari berganti waktu honeymoon sesuai perjanjian Rendy telah datang. Rara melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul 4 sore. Bayangan Rendy belum kelihatan,


Beberapa menit kemudian Rendy sampai di rumah dia melihat Rara sudah berdiam diri menunggunya


"Sayang maafin aku telat!! Ayo kita berangkat sebelum telat" ajak Rendy, Rara hanya mengangguk kesal


Matahari mulai menyembunyikan diri, jalanan mulai macet, orang-orang bergegas keluar kantor untuk mengistirahatkan diri dari penatnya bekerja. Tidak ada yang mau mengalah dari kemacetan ini. Rara terlihat tidak tenang ketika mobilnya tidak bergerak sama sekali. Dan sedari tadi juga Rara mengomeli Pak Joko untuk menyuruh cepat-cepat.


Satu jam menghadapi macet di perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di bandara. Namun sia-sia, pesawat yang akan membawa mereka sudah terbang 15 menit yang lalu. Rara menatap Rendy dengan raut wajah yang mulai marah. Rendy tersenyum menatap istrinya dan mengejar Rara ke dalam mobil. Rara mengunci setiap pintu, dan Rendy berusaha memanggil tetapi tidak di hiraukan, lima menit. Akhirnya Pak Joko dan Rendy memilih untuk duduk diam di samping mobil. Rara masih kesal dan membiarkan mereka duduk disana.


Dua puluh menit sudah berlalu. Rara membukakan pintu dan menyuruh mereka masuk.


"Ternyata wanita marah lebih bahaya dari singa ya tuan" Ucap Pak Joko seperti menghidupkan kembali api yang sudah padam


"Sssst!" Rendy langsung memukul Pak Joko dan Rara melotot melihat Rendy dan Pak Joko secara bergantian.


Bersambung