CEO, MY HUSBAND

CEO, MY HUSBAND
CHAPTER 39



Dua minggu sudah berlalu, Rara kini bekerja di perusahaan Papanya. Dan sepagi ini Rara sudah duduk di depan laptopnya.


Ia sedikit merindukan Rendy yang menghilang begitu saja, Rendy tidak pernah mengunjunginya lagi setelah di rumah sakit itu.


Ya Rendy mencoba bangkit dari keterpurukannya, ia sekarang berada di luar kota. Ia menyelesaikan bisnisnya disana sekalian menenangkan pikirannya.


Setiap karyawan yang melihat Rara begitu kagum, karena ia sepagi ini sudah bekerja.


Rara bukan bekerja, ia hanya menuliskan perasaannya lewat ketikan sederhana yang akan dikenangnya suatu hari nanti.


Jari jemarinya mulai menulis satu persatu huruf sehingga menghasilkan serangkain kata yang mewakili perasaanya selama ini.


Rendy Handoko pria aneh yang tidak akan mungkin aku cintai tetapi aku salah dalam menyangkal itu. Aku mencintainya. Dan untuk waktu yang pernah salah, tidak. Hanya saja aku yang salah dalam memilih waktu.


Dan untuk rasa yang pernah kecewa, yang aku paksakan untuk mendewasakan diri. Maafkan aku,


Dan sekali lagi untuk hati yang selalu aku bujuk untuk berdamai dengan logika yang tidak pernah masuk akal. Sekali lagi, aku minta maaf!


Dan terimakasih untuk bibir, yang selalu tersenyum dikala aku memaksakan yang tidak layak untuk disenyumkan. Kamu hebat,


Jika saja dulu aku tidak memaksakan diri, mungkin saja aku masih baik-baik saja. Hari itu aku kembali terluka, aku melihat dia bersama wanita lain. Dia orang yang selalu tidak baik untukku.


Bahkan dalam keadaan terburuk sekalipun.


Hah!


Jangankan berdekatan, dulu melihat aku saja dia seperti melihat sampah menjijikkan yang tidak berhak didaur ulang.


Tapi tidak masalah, karena disini keluarga aku yang memulainya. Keluarga aku berhutang untuk semuanya.


Jika saja lembaran kecil itu bisa dibuang, dibakar atau dimusnahkan dari dunia ini. Maka aku sudah melakukannya jauh-jauh hari.


Tapi nyatanya tidak seperti itu, aku menyimpannya cukup rapi dan bersih. Bahkan aku tidak membiarkan debu halus mendekatinya.


Hi, pernikahan ini berjalan beberapa bulan. Lalu kenapa? Bukankah ini soal waktu. Dan setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah. Itu yang aku pikirkan.


Bahkan, seutas senyum menari indah di bibirku. Logikaku seperti menyapa hatiku untuk siap-siap bersemangat. Karena waktu yang kita tunggu sudah didepan mata.


Aku melihat orang-orang di sekelilingku, seperti aku melihat taman- taman bunga yang sedang bermekaran indah.


Aneh bukan, dan tentu saja iya. Tapi biarkan aku mendeskripsikan perasaanku saat ini.


Aku wanita plin-plan, dan terkadang aku juga membenci diriku yang gampang luluh terhadap sesuatu. Terkadang sadar diri juga perlu, agar aku tahu. Aku tidak menarik dan tidak populer di antara sederet wanitanya.


Lagi dan lagi senyuman menakutkan itu melayukan bunga-bungaku. Waktuku seperti terhenti, dan ini tidak mungkin, sama sekali tidak mungkin. Yang aku takutkan beberapa bulan yang lalu akan terulang lagi.


Bahkan aku hanya minta hari ini.


Dan ada apa juga dengan pria yang jauh disana, aku menginginkan dia datang diwaktu seperti ini.


Tetapi itu hanya waktu terburuk. Ya, dia sudah menghancurkan hidupku dan perasaanku.


Dia, seperti mulai menyapaku. Tetapi itu hanya hayalanku.


Adakalanya aku menginginkan panas yang menemaniku bukan air mata.


Aku tertunduk diam, pikiran kosong dan badanku sangat lelah.


Aku masih membenci masa itu. Bahkan tidak menginginkan waktu itu, Ya, walau pun kenyataannya itu sudah aku lalui.


Tapi bukankah dia sudah menyia-nyiakan aku.


Setidaknya beri dia karma untuk mencintai aku.


Dan kenapa dengan kakiku seperti berat melangkah pergi meninggalkan tempat ini. Hi, Aku tidak takut. Tapi Percayalah, aku saat ini berbohong perihal itu. Aku sangat takut.


Takut untuk terluka, luka yang kemarin bahkan belum kering.


Aku takut untuk memulai, aku takut untuk bersamanya saat ini, aku takut untuk memaafkan.


Aku tidak bisa apa-apa, aku hanya gadis aneh yang dipermainkan oleh perasaanku sendiri,


Dan sudah dua minggu berlalu, aku diambang kegelisahan, jika saja dulu aku berhasil membujuk hatiku. Namun, sekarang aku seperti roda yang berputar.


Beberapa tahun aku sudah berusaha menyelamatkan hatiku. Tetapi, seperti waktu dan takdirku benar-benar kesulitan.


Hi, untuk kamu yang bernama Rendy. Banyak hal yang ingin aku katakan kepadamu.


Namun, walaupun aku mengatakannya kamu tidak akan mempercayai dan mendengarnya. Dan walaupun aku bertanya, aku tahu kamu tidak akan menjawabnya.


Dan untuk waktu, apa aku perlu berterimakasih sama keadaan ini?


Jika tidak, izinkan aku hilang ingatan dan memulai mengenalnya lagi.


Tetapi, tentu saja itu tidak berlaku. Dia adalah orang yang aku kenal bahkan dalam keadaan terburuk sekalipun.


Bersambung