
Suasana di ruangan itu menjadi tidak kondusif. Mereka mempertanyakan apa yang sedang terjadi.
Bu Silvi menatap Rara yang tersenyum aneh ke arahnya.
"Saya yakin pelakunya ada di dalam sini!"
"Dan saya selaku istri Rendy Handoko meminta rapat pemegang saham ini di tunda sampai pelaku penembakan suami saya di temukan" Ucap Rara mengangkat tangannya
Rara menunggu orang-orang mengangkat tangan sebagai persetujuan permintaannya.
William, orang kedua setelahnya yang menyetujui. Dan satu persatu tangan mulai terangkat ke atas. Rara tersenyum manis ketika melihat hampir semua yang ikut mengangkat tangan menyetujuinya.
Dan pada akhirnya rapat pemegang saham di tunda. Dan orang-orang di dalam ruangan itu mulai meninggalkan satu persatu ruangan itu.
Bu Silvi menahan Rara untuk tidak pergi, ia mengambil segelas air dan menyiramkannya kepada Rara. Bu Silvi benar-benar marah melihat sikap Rara.
Mereka yang tinggal berdua di dalam itu terlihat mulai memanas
"Kau sengaja ingin menguasai anak saya bukan?" Tanya Bu Silvi menghentakkan meja dengan tangannya
"Sengaja atau tidak, tetapi aku mempunyai hak untuk membantu suamiku"
"Saya curiga dengan Mama, apa jangan-jangan ini rencana Mama untuk membunuh anak sendiri"
"Diam mulut kau itu"
"Saya tahu ini rencana keluarga kalian"
"Aku tidak ingin membuang tenaga untuk berdebat dengan Ibu Mertuaku, sekarang kita buktikan siapa pelaku pembunuh Pak Harris dan siapa pelaku di balik penembakan suami saya"
"Dasar anak kurang ajar"
"Saya tidak ingin memaki Mama, karena bagaimana pun juga Mama sudah melahirkan suami aku"
"Sudahi perdebatan gila ini, aku permisi" Ucap Rara pergi berlalu meninggalkan Ibu Mertuanya
"Sudah aku duga" Kata Clara begitu melihat Rara keluar dengan sedikit noda air di bajunya
Dan ketika di parkiran Rara melihat wanita yang selalu membuat darahnya naik. Rara menggelengkan kepala mencoba untuk menanggapi wanita itu lagi.
"Eh berdamai, satu wanita yang tidak kunjung mendapatkan cinta Rendy dan yang kedua wanita yang berusaha menguasai harta Rendy!" Oceh Aurel wanita yang saat ini mengganggu pemandangan Rara dan Clara
"Clara" Tutur Rara tersenyum seraya menahan tangan sekretarisnya untuk tidak terjadi baku hantam,
"Kita menjauhi sampah bukan karena takut, tapi karena menjijikkan untuk di dekati" Sambung Rara dengan tawa ejeknya.
Dan ketika mereka berbalik arah ingin memasuki mobil, tangan Aurel sudah menarik rambut panjang Clara.
Dan di saat itu juga, cakar-cakaran dan jambak-jambakan terjadi.
Dan untung saja tidak ada orang disana, Rara membiarkan mereka berdua saling tarik menarik.
Seperti tidak ada yang mengalah dan mau kalah, Clara meluapkan emosinya, ia menarik Aurel sampai terjatuh ke tanah. Dan persekian detik, Clara memutar tangan Aurel. Sampai wanita itu berteriak ampun.
Sedangkan Rara muali mencoba menghentikannya, ia menarik Clara untuk melepaskan tangan Aurel.
Bibir Clara sedikit terluka, sedangkan Aurel bibir dan tangannya penuh dengan cakaran Clara.
Aurel berteriak histeris, dan Clara langsung menarik rambut Aurel
"Saya tidak akan segan-segan membunuh anda!" Ancam Clara dan ikut masuk ke dalam mobil bersama Rara
Pak Joko hanya bisa menghela nafas melihat keributan itu. Bagaimana pun juga jika perempuan sudah main jambak-jambakan, seperti sedang melihat induk singa memperebutkan makanan.
Rara memberikan tissu dan air mineral kepada Clara.
Dan Rara juga menyuruh Clara untuk pulang lebih awal agar ia bisa menenangkan diri.
Clara mengangguk setuju dan tersenyum lirih menatap Rara.
Bersambung