
Hujan semakin deras, mata Rara tidak berkedip melihat rintikan hujan yang jatuh membasahi jalanan.
Mereka berdua sama-sama tidak mengetahui keberadaannya. Clara juga masih sibuk menghubungi Rendy. Sedangkan Rara hanya menyenderkan tubuhnya ketembok halte seraya menunggu hujan berhenti.
Clara tidak sia-sia menghubungi Rendy, akhirnya Rendy menyetujui untuk menjemputnya.
Rendy tidak melupakan Rara, ia masih melihat sekeliling mencari keberadaan istrinya.
Lima belas menit sudah berlalu, Rara sekilas melihat mobil Rendy, dan semakin mendekat ke arahnya, benar itu mobil Rendy. Rara tersenyum dan terlalu yakin jika Rendy akan menjemputnya. Rara berdiri dari tempat duduknya begitu juga Clara berdiri dari tempat duduknya.
Dan mereka berdua sama-sama menoleh dan menyadari keberadaan mereka saat ini.
Rendy dari dalam mobilnya melihat kedua wanita itu. Ia menatap Rara sedang melipat kedua tangannya di dada. Rara kedinginan karena dari tadi sudah terjebak hujan.
Dan saat ini gengsi Rendy terlalu tinggi kepada Rara, Rendy bersama payungnya keluar dari dalam mobil.
Rendy melihat keadaan Rara semakin kedinginan sedangkan Clara tersenyum dan melambaikan tangan kearahnya.
Perlahan kaki Rendy melangkah kearah istrinya, Rara tersenyum kecil dan senyum itu langsung hilang ketika Rendy memutar langkahnya kearah wanita lain.
Rendy merangkul bahu Clara, bahkan ia juga mendekatkan tubuh Clara mendekatinya. Rendy membawa Clara memasuki mobil bahkan pria itu membukakan pintu untuk wanita lain didepan istrinya.
Rara menepis air matanya, dan mengalihkan pandangannya ke arah yang berbeda sampai mobil Rendy meninggalkan tempat itu, kecewanya terlalu berlebihan. Ia tidak mengerti dengan keadaan saat ini.
Sakit, tetapi Rara tidak mengerti perihal rasa itu sebenarnya. Dadanya begitu sesak bahkan lebih sesak dari sebelumnya.
Rendy meninggalkan Rara seorang diri. Dia melupakan kekhawatirannya demi membuat Rara cemburu.
Clara merasa menang diperlakukan seperti itu, ia merasa dirinya lebih berharga dari pada Rara.
Sepanjang perjalanan mengantarkan Clara, Rendy memilih diam dan menyesali perbuatannya telah meninggalkan istrinya.
Rara mengangguk dan menaiki Taxi itu, mereka meninggalkan halte dan menuju kerumah Rendy.
Beberapa kali juga Rara menepis air matanya, hanya butuh lima belas menit mereka sampai dirumah suaminya.
Setelah membayar Rara mempercepat langkahnya. Ia tidak ingin melihat Rendy, Selagi menunggu Pak Joko membukakan pagar rumah, Rendy juga datang bersama mobil putihnya. Tanpa aba-aba Rendy keluar dari mobil dan langsung memeluk Rara cukup erat.
Rara terdiam dan kaget melihat apa yang dilakukan Seorang Rendy Handoko terhadapnya.
Rendy merasakan tubuh Rara begitu dingin sehingga ia semakin mempererat pelukannya.
Persekian menit Rendy tersadar atas apa yang dilakukannya, ia melepaskan pelukannya dan bersikap seperti tidak terjadi apa-apa
"Apa ini?" Tanya Rara mengernyitkan keningnya
"Oh Joko!" Ucap Rendy juga memeluk Pak Joko, hal yang sama yang dirasakan Pak Joko, kaget bukan main.
Melihat sikap aneh Rendy, Rara memilih meninggalkan mereka yang masih berpelukan.
Hujan deras beberapa menit yang lalu masih meninggalkan bekasnya. Awan hitam pekat menggantung diatas sana tanpa ada bulan dan bintang yang menemaninya.
Rendy melepaskan pelukannya dari Pak Joko, ia juga terlihat kikuk untuk beberapa saat dan langsung saja ia memukul-mukul bahu sopirnya yang sudah bekerja cukup lama dengannya.
Rendy juga menyuruh Pak Joko untuk segera memasukkan mobil
Dengan langkah hati-hati Rendy membuka pintu dan melihat Rara sedang duduk dimeja makan bersama segelas air putih.
Pria itu merasa kikuk sendiri setelah memeluk Rara tanpa mengerti.
Bersambung