CEO, MY HUSBAND

CEO, MY HUSBAND
CHAPTER 70



Clara berjalan di keheningan malam dengan beban yang semakin berat. Sesekali ia tersenyum memandangi kendaraan yang berlalu lalang. Setiap pejalan kaki yang di temuinya, Clara selalu tersenyum dan mengedipkan mata. Namun, tidak ada yang peduli.


Kaki yang sudah lelah membuat Clara duduk di bahu jalan. Entah berapa menit lamanya dia tersenyum menyedihkan di sana.


Malam yang semakin dalam, dan orang-orang terlihat bahagia bersama pasangan mereka.


Clara, melanjutkan perjalanannya seperti orang kebingungan.


Ya. Beberapa hari yang lalu Clara memergoki pacarnya berselingkuh dengan seorang Dokter juga. Clara berfikir tidak ada yang berhasil dalam dunia percintaannya. Ia semakin galau mengingat ia akan menikah.


Buggghhh.....


Seorang pria dari arah yang berlawanan sengaja menabrak Clara.


Badannya yang sudah lelah membuat Clara terduduk di aspal.


Clara tersenyum seraya menatap pria itu,tidak lama berselang pria itu membantu Clara berdiri dan mengucapkan kata maaf.


"Pak aku butuh bantuan?" Pinta Clara kepada pria yang masih terlihat muda itu


"Kamu seorang peramal?" Sahut pria itu berbasa-basi, tidak lupa senyuman nakal terlihat jelas di wajahnya


"Kamu mau menikahi aku?" Pinta Clara tanpa curiga sedikit pun


"Apa kita akan merayakan hari itu sekarang?"


Clara menganggukkan kepalanya dan terlihat jelas raut wajah polosnya. Namun, terselip sedikit ketakutan yang berusaha di tepisnya. Beberapa jam yang lalu Clara juga menghabiskan beberapa gelas alkohol sehingga ia mulai lepas kendali.


Pria tinggi itu langsung menggenggam tangan Clara dan membawa gadis itu ke jalan yang baru saja di lewati Clara.


Pria hidung belang itu mengajak Clara menyeberangi jalan, dan di depan mereka sudah ada hotel terdekat.


"Pak boleh lihat identitasnya?" Pinta Clara seraya mengikuti langkah kaki pria yang menggenggam tangannya


"Tentu, nanti disana ya" Mendengar itu Clara tersenyum lebar. Pada akhirnya dia menemukan jimat keberuntungan pikirnya tanpa sadar, mereka memasuki lobbi hotel yang terlihat sepi dan Clara menunggu pria itu di sofa yang di sediakan disana


"Ayo" Ajak pria itu seraya memegang bahu Clara untuk berdiri dari duduknya


Clara mengangguk seperti seseorang yang penurut. Pria itu mencoba senatural mungkin ketika mereka menunggu lift terbuka.


Jantungnya yang mulai tidak karuan, membuat Clara memandangi lantai menepis semua ketakutannya yang tiba-tiba saja muncul. Namun, otaknya belum berjalan lancar.


"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya pria yang mulai tidak asing lagi bagi Clara


Iya, dia adalah Bobby,manusia yang selalu berbicara seenaknya saja. Clara mengalihkan pandangannya dan melihat Bobby yang baru keluar dari lift seorang diri


"Pak ini bukan kantor, dan kamu juga bukan bos saya"


"Apa kau..."


"Permisi, kami mau merayakan hari jadian dulu" Ucap Clara memotong pembicaraan Bobby


"Hari jadian?"


"Iya, kami baru jadian beberapa menit yang lalu, maksudnya menikah"


Bobby yang mendengar itu langsung tertawa simpul. Sedangkan pria itu terlihat kesal melihat kepolosan Clara.


Bagaimana pun juga dia tidak akan rugi malam ini, sebelum Clara berbicara hal yang aneh-aneh pria itu menarik Clara masuk ke dalam lift. Namun, dengan cepat kaki Bobby menghalangi pintu lift


"Satu lantai naik, saya pastikan nyawa anda taruhan" Ucap Bobby menarik tangan Clara keluar


Mendengar ancaman seperti itu pria berbadan tinggi itu langsung berlari ke luar hotel.


Karena dia tahu dari penampilan Bobby, sudah pasti dia akan melakukannya.


Melihat pria itu keluar, Clara menarik tangannya yang di genggam kasar oleh Bobby.


Beberapa kali Clara memberontak sampai pada akhirnya di lepaskan Bobby, setelah melihat pria itu nenghilang. Clara dengan keinginannya mengejar pria itu. Bagaimana pun juga pernikahannya tinggal hitungan minggu.


Clara mencari pria itu di sekeliling hotel, tetap saja dia tidak di temukan.


Melihat Bobby keluar, Clara yang sudah emosi langsung mengepalkan tangannya dan berjalan menemui pria menyebalkan itu


"Ini bukan kantor dan tidak perlu ikut campur urusan aku" Omel Clara


"Apa kau tidak waras, mengencani pria yang tidak jelas"


"Itu bukan urusan kamu, mau aku tidak waras, mau aku apa, sekali lagi bukan urusan kamu"


"Hi, kau itu sudah saya selamatkan"


"Sial.... Jimat ku" Ucap Clara berbalik arah meninggalkan Bobby yang belum selesai bicara


Bukan hanya saja kecewa tetapi Clara juga membenci Bobby.


Bersambung