CEO, MY HUSBAND

CEO, MY HUSBAND
CHAPTER 17



Tepatnya setengah sembilan mereka berdua sampai dirumah Om Raffi. Semua keluarga Rendy sudah berkumpul disana. Rara mencoba mendekatkan diri dengan cara bergabung bersama Kakak perempuan Rendy dan sepupunya.


Sedikit canggung. Namun, Rara tetap mencoba menjawab satu persatu pertanyaan yang diajukan keluarga iparnya.


Disaat semua berkumpul menikmati makam malam dibawah langit yang dihiasi bintang dan bulan, suasana mulai kembali canggung ketika semua keluarga mereka membahas soal anak. Rara merasa tidak nyaman atas pembicaraan mereka dan beberapa kali juga Rendy memperhatikan sikap istrinya.


"Rara gimana?" Tanya Bu Wulan istri dari Pak Raffi. Sebelum menjawab, Rara mengalihkan pandangannya kearah Rendy yang terlihat asyik menikmati makanan


"Lagi berusaha Tante!"


"Cepat dong, kalau merasa kurang subur periksa kedokter" Sambung Tante Diana Kakak dari Mama Rendy


"Iya Tan"


"Keluarga kami sehat-sehat semua kok!"


Mendengar ucapan Tante Diana, Rara langsung menghentikan makannya, ia meletakkan sendok yang tadi digenggamnya. Rara merasa diintimidasi oleh keluarga Rendy, yang jelas-jelas anaknya sendiri memperlakukan Rara tidak baik.


Rendy tidak pernah mau tidur bersama istrinya, setiap malam Rara hanya tidur sendiri. Sedangkan anak mereka sibuk pulang malam dan berganti-gantian pergi bersama wanita lain.


Setelah menanyakan itu, mereka berpura-pura tidak mengerti perasaan orang lain. Mereka sibuk membicarakan anak dan cucunya.


"Kenapa kalian menyalahkan dia?" Tanya Rendy dan langsung semua mata menoleh kearahnya


"Rendy..."


"Ma, Pa, Om dan Tante...


Saya yang tidak bisa memberikan keturunan kepada dia, salahkan saya bukan dia" Ucap Rendy berdiri dari tempat duduknya dan langsung menarik tangan Rara meninggalkan acara keluarganya


Rara hanya mengekor mengikuti Rendy, perlahan. Air mata mulai membasahi pipinya. Ia kecewa sama dirinya sendiri, ia kecewa atas pertanyaan yang melukai perasaannya.


Rara menghentikan langkahnya ketika mereka sampai dihalaman rumah Om Raffi. Disana hanya ada mereka berdua, Rendy juga menyadari saat ini Rara sedang menangis. Ia melepaskan genggamannya dan membiarkan Rara menangis beberapa saat.


"Sudah saya katakan tidak perlu ikut!" Ujar Rendy berdiri didepan Rara,


"Kamu sendirikan yang kecewa?" Sambung Rendy, Rara membiarkan air matanya terjatuh bebas dan beberapa menit kemudian ia menatap Rendy. Bola mata gadis itu tidak bisa berbohong, saat ini hatinya benar-benar terluka.


Tidak ada kata menunggu lagi, Rendy menarik tangan Rara dan membawa gadis itu kedalam pelukannya. Tangisan Rara semakin menjadi ketika ia merasakan hangatnya tubuh Rendy. Ia seperti dilema, antara membenci atau ingin mengungkapkan perasaannya.


"Aku tidak bisa melakukannya bersama wanita yang tidak saya cintai!" Batin Rendy dan ia semakin erat memeluk tubuh Rara.


Pada akhirnya mereka berdua memilih meninggalkan acara itu, dan sebelum pulang Rendy membelikan Rara beberapa roti dan secup susu hangat. karena ia tahu Rara tidak sempat makan. Rara tersenyum kecil ketika mendapatkan itu semua.


Melihat Rara begitu lahap memakannya, Rendy mengalihkan pandangannya keluar jendela lalu tersenyum kecil.


Rendy juga beberapa kali mencuri pandang menatap Rara yang masih senyum-senyum sendiri.


"Terimakasih"


"Untuk Apa?"


"Aku kira kamu akan menyudutkan aku juga"


"Hmmm!"


"Kamu mau?" Tanya Rara menyodorkan bekas gigitan roti ke arah Rendy. Rendy langsung menggelengkan dan mempercepat laju mobilnya.


Bersambung