
William tersenyum kesal ketika mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Rendy.
Dan ketika Rendy ingin meninggalkannya, William
"Rara berkata dia belum menikah!"
"Tetapi takdir mengatakan dia sudah menikah"
Rendy meninggalkan koridor parkiran itu. Rendy sedikit kesal ketika Rara tidak mengakui pernikahan mereka.
Beberapa menit kemudian Rendy sampai di kantornya, di dalam ruangannya sudah ada Aurel tengah menunggunya.
"Rendy!" Ujar Aurel ketika melihat pria itu masuk
"Ini kantor bukan rumah mainan kamu!" Sahut Rendy menatap kesal
"Aku akan membantu kamu untuk bicara sama Mama kamu perihal saham itu, asal kamu menceraikan istri kamu"
"Hah, kalaupun aku bercerai dengan Rara, aku tidak akan kembali dengan kamu Aurel"
"Clara masuk!" Ucap Rendy ketika menelepon Clara
Tok.... Tok...
"Clara kenapa kamu izinkan dia masuk!" Tanya Rendy ketika Clara baru saja membuka pintu
Clara kini sudah berubah, ia tidak lagi menyukai Rendy. Setelah beberapa hal yang ia lakukan tidak pernah berhasil. Bahkan Clara juga trauma ketika mengetahui Rara sudah meninggal walaupun itu semua hanya kebohongan belaka.
Dan saat ini Clara tengah dekat dengan seorang Dokter. Ia tidak lagi bucin kepada Rendy.
Clara tersenyum ejek menatap Aurel, entah kapan perempuan itu masuk pikir Aurel
"Maaf Pak, tetapi kayaknya Cleaning service lupa membuang sampah pagi ini"
"Mau saya buang dengan paksa atau keluar sendiri?" Ucap Clara mendekati Aurel
"APA? kau..."
"Kenapa?"
Aurel merasa kesal dan pergi keluar, sedangkan Clara menyusul wanita itu. Ketika Aurel melewati meja Clara, Clara menahan tangan Aurel
"Lepas!"
"Itu hak saya"
"Dan aku juga kasihan dengan diri anda Clara, dari dulu tidak pernah mendapatkan cinta Rendy, sekarang anda minggir dan biarkan saya mengambil hak saya kembali"
"Saya lebih kasihan dengan anda, sudah di tolak mentah-mentah tetapi masih saja menjadi pecundang" Ucap Clara, dan ketika tangan Aurel ingin menampar pipi Clara, Clara dengan cepat menepisnya dan mendorong Aurel hingga jatuh ke lantai
"KELUAR!" Usir Clara tersenyum penuh kemenangan
Sedangkan Raisa merasa tidak enak badan akhir-akhir ini. Dan hari ini Angga memutuskan untuk tidak berangkat ke kantor.
Mendengar kabar Raisa sakit, Rara menyambangi kediaman sahabatnya.
Raisa terbaring lemah di tempat tidur
"Rara!" Ucap Raisa antusias ketika melihat kedatangan sahabatnya
"Kamu kenapa?"
"Jangan-jangan kamu hamil" Ucap Rara, angga dan Raisa langsung saling berpandangan
Dan saat itu juga mereka bertiga langsung menuju rumah sakit. Raisa dari kemarin tidak ingin ke rumah sakit, pertama karena ia takut jarum suntik dan kedua Raisa tidak suka bau khas rumah sakit.
"Selamat ibuk Raisa hamil sudah dua minggu berjalan" Kata Dokter ketika mereka berada di ruangan kandungan
Raisa dan Angga tersenyum bahagia, sedangkan Rara juga ikut tersenyum tetapi matanya berkaca-kaca mengingat ia yang pernah keguguran.
Dan ketika malam menghampiri, di saat Rendy pulang dari kantor. Rara membuka pintu dan langsung berlari memeluk suaminya. Rara menangis di pelukan Rendy, sampai pria itu kebingungan melihat Rara seperti ini.
Pak Joko yang baru datang bersama Rendy juga ikut menangis melihat Rara menangis. Walaupun ia tidak mengerti arti dari tangisan Rara.
"Kamu kenapa?" Tanya Rendy kebingungan
"Raisa hamil!" Ucap Rara sambil sesegukan
"Ya bagus dong sayang"
"Tapi...." Rendy langsung mengangkat tubuh Rara menuju kamar. Sedangkan Pak Joko memberhentikan tangisannya ketika mendengar itu
"Mari kita lakukan!" Ucap Rendy tersenyum lebar dan langsung mendapatkan anggukan dari Rara.
Bersambung