CEO, MY HUSBAND

CEO, MY HUSBAND
CHAPTER 55



Di lain tempat, lebih tepatnya di rumah keluarga Rara. Bu Silvi mendatangi rumah Bu Shireen. Dan di saat itu juga Pak Adit sedang di luar kota.


Bu Silvi marah-marah dan menuduh keluarga Rara yang membunuh suaminya. Bahkan Bu Silvi juga meminta keluarga Rara untuk menyetujui perceraian antara Rendy dan Rara.


"Kalau masuk rumah orang yang sopan!" Sahut Bu Shireen merasa terganggu dengan kedatangan Bu Silvi


"Sopan?"


"Kalian keluarga pembunuh!" Tuduh Bu Silvi menunjuk Mama Rara


"Keluar dari rumah saya sebelum saya patahkan tangan anda!" Balas Bu Shireen cukup kejam


"Dan jangan pernah sentuh anak saya apa lagi menyakitinya"


"Keluarga tidak tahu malu!"


"Tante!" Sahut Rara ketika ia berdiri di depan pintu masuk


"Oh sudah rencana kalian menyerang saya?"


"Tante yang menyerang kami"


"Dan keluarga saya bukan pembunuh, jika suami saya bisa membuktikan siapa pembunuhnya, tante harus minta maaf kepada Mama dan saya"


"Tidak akan!"


"Keluar dari rumah saya!" Tarik Bu Shireen yang semakin geram


Bu Silvi menarik tangannya, menghentakkan kakinya dan pergi meninggalkan rumah Rara. Bu Shireen memeluk Rara, ia sangat menyesal pernah menjodohkan anaknya. Dan bagaimana bisa juga Rara bertahan dari mertua seperti itu.


"Maafkan Mama nak!" Tutur Bu Shireen


"Ma tidak ada yang salah"


"Oh ya Ra, rencananya, Kakak kamu mau menikah bulan ini"


"Benaran Ma?"


"Calon Istrinya akan segera kembali dari Australia"


Ya Rara mengingat, Calon kakak iparnya adalah wanita baik dan pengertian. Sebelum dia berangkat kesana, dan di saat Rara di penuhi masalah, Calon kakak iparnya memberikan ia kata-kata yang bisa membuat Rara tersenyum manis dan pilu.


Calon kakak iparnya tinggal di kota Brisbane dan salah satu kota tertua di Australia dan merupakan rumah bagi penduduk asli Australia selama ribuan tahun.


Dibangun di sekitar Sungai Brisbane, kota ini memiliki kawasan pejalan kaki, pulau, dan pantai.


Kota Brisbane juga terkenal dengan pencinta musiknya, bersepeda, dan aktivitas di luar ruangan, seperti itu Maurin menceritakan kotanya kepada Rara.


Wanita cantik tersenyum manis ke arahnya seperti mengatakan kamu baik-baik saja.


Kehidupan yang menyedihkan baru saja ia lewati.


Cobaan demi cobaan selalu menghampiri Rara. Di mulai dari Rendy yang kasar.


Dan Rendy yang tidak peduli dengannya.


Dan Rara yang berusaha bangkit sendiri.


Pilu,


Namun, itu berhasil membuat ia tersenyum tatkala melihat Maurin memeluk dan menguatkannya. 


Bahkan masih membekas di ingatan Rara tatkala Calon Kakak iparnya berkata seraya berlari kesana-kesini


"Kotoran.. Akh kotoran lagi"


"Apa kotoran lagi?"


"Astaga masih juga kotoran!" Teriak Maurin seraya tersenyum kecil


"Rara masalah itu seperti kotoran, bau, menjijikkan dan bahkan tidak ingin rasanya mendekati"


"Tetapi apa, terkadang kita menginjaknya tanpa sengaja"


"Dan cara paling ampuh membersihkannya adalah di cuci dengan air yang mengalir bukan membiarkannya, begitu juga masalah, kamu hanya perlu melewatinya dan memastikan ia mengalir dengan tepat"


"Masalah itu di bersihkan bukan didiamkan dan di pelototi"


Kata-kata Maurin itu seolah memberi semangat.


Ia adalah wanita cerewet dan manja. Namun, perihal peduli ia adalah definisi malaikat.


Rara berdiri dari duduknya, ia membentangkan kedua tangannya dan menerima pelukan kembali dari kakak iparnya.


"Ini hanya masalah waktu, kebahagiaan itu kadang tertunda tetapi ia tidak akan salah dalam memilih rumah" Ucap Maurin tersenyum manis seraya melepaskan pelukannya.


Ia menepis air mata adik iparnya.


Seakan mengerti apa yang dirasakan Rara saat ini.


Sentuhan Bu Shireen membuat Rara tersadar dari lamunannya. Rara akan kuat demi keluarga dan suaminya. Sekali pun tidak di sukai mertuanya.


Bersambung