
Tidak berselang lama kepergian Rara Dan Pak Joko, Pak Adit dan Bu Shireen terlihat datang bersama.
Melihat kedatangan mereka, Clara memberitahukan kepada Pak Adit bahwa Rara sudah pergi.
Bu Shireen yang masih kesal terhadap tuduhan Bu Silvi tempo hari langsung mengajak suaminya untuk pergi.
Dan tiba-tiba saja sebuah tangan memberhentikan langkah mereka
"Maafin aku!" Pinta Bu Silvi dalam tangisnya, Bu Shireen langsung merangkul bahu Bu Silvi dan memeluknya
Bu Silvi menangis dan menyesali perbuatannya. Ia juga berterimakasih akibat bantuan Rara mereka berhasil menemukan pelaku pembunuhan suaminya.
Tidak berselang lama, terlihat juga kehadiran orang tua Aurel. Orang tua Aurel langsung berlutut dan meminta maaf kepada Bu Silvi. Bu Silvi tidak lagi mempedulikan itu. Ia mengajak keluarganya untuk meninggalkan tempat itu.
Kini yang tinggal disana hanya Clara, Bobby, dan beberapa pengacara mereka.
Clara meminta untuk di pertemukan dengan Aurel.
"Bagaimana bisa kau mengatakan mencintai anaknya tetapi menjadi seorang psikopat untuk ayahnya!" Ucap Clara ketika Aurel sudah duduk di depannya
"Lain kali kau akan menjadi target saya!" Ancam Aurel
"Tetapi sebelum itu terjadi sudah di pastikan kau akan berliburan disini untuk waktu yang belum di tentukan"
"Wanita jalang!" Ucap Aurel
"Hah!"
"Tidur yang nyenyak! Optss!" Sambung Clara dan meminta polisi untuk kembali membawa Aurel ke dalam sel
Clara mengajukan kepada pengacara Rendy untuk mengadakan sidang, ketika Rendy sudah siuman dari komanya.
Mereka menyetujui. Dan di dalam sel, Aurel berteriak, menangis, dan tertawa.
Ia hilang akal. Sedetailnya iya menyembunyikan semuanya, pada akhirnya ketahuan juga.
Aurel tidak sendiri di dalam penjara, ia bersama orang suruhannya ikut mendekam bersama.
Suasana rumah Bu Silvi kembali tegang. Bu Silvi menampar Hana sampai wanita itu menangis memohon ampun.
Hana melakukan itu demi menolong Mamanya, ia tidak berniat membunuh adiknya, hanya memberi pelajaran. Tetapi tembakan itu salah sasaran.
"Apa yang kau pikirkan?" Teriak Bu Silvi
"Ma, Hana minta maaf!"
"Hana ngelakuin ini semua hanya untuk Mama"
"Aku tidak ingin melihat Mama berdebat dengan Rendy, tapi cara aku salah Ma!" Pinta Hana berlutut di kaki Mamanya
Bu Silvi menangis dan memeluk anaknya, masalahnya datang bertubi-tubi. Ya, semua karena keegoisan Bu Silvi.
Bu Silvi tidak akan lagi mempermasalahkan siapa yang akan menjadi penerus bisnis suaminya. Selagi anaknya hidup rukun, bisnis itu akan berjalan dan mengalir seperti yang biasa di jalani Pak Harris.
Bu Silvi kembali merindukan suaminya.
Ia menangis dan berulang kali juga mengucapkan kata maaf.
Rara terlihat berhenti di supermarket dekat rumah sakit. Ia membeli beberapa kebutuhannya dan Rendy.
Tidak berapa lama mereka melanjutkan perjalanan.
Sama halnya, Rendy masih terbaring di atas ranjang tidur rumah sakit. Rara menatap suaminya seraya menepis air mata yang tak kunjung berhenti.
Ketukan pintu membuyarkan lamunan Rara,
Angga dan Raisa mengunjunginya. Melihat kedatangan Raisa, Rara memeluk sahabatnya.
"Rendy belum bangun juga, aku takut Sa!"
"Rara, kamu itu wanita hebat dan kuat, begitu juga Rendy"
"Aku yakin tidak lama lagi ia akan melihat kamu dan memeluk kamu!"
"Iya Ra" Sambung Angga
Mereka bertiga duduk di sofa ruangan itu, tak lama kemudian Angga mengeluarkan beberapa lembar kertas.
"Ini permintaan kamu, aku menyetujui untuk bergabung dengan perusahaan suami kamu" Ucap Angga, dan langsung saja Rara tersenyum bahagia
"Ini benaran?" Angga dan Raisa tersenyum lalu mengangguk bersama.
Bersambung