CEO, MY HUSBAND

CEO, MY HUSBAND
CHAPTER 44



Pada akhirnya Rendy membatalkan untuk kembali ke ibu kota. Ia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya yang tinggal beberapa hari lagi.


Sedangkan Rara sudah mulai membaik kembali.


Walaupun ia masih bersedih soal janinnya yang hilang tetapi Rara tetap semangat.


Beberapa minggu Rendy sudah menghilang dari hidupnya. Rara seperti sudah biasa. Karena dari awal Rendy selalu berkata pernikahan ini hanya permainan. Dan hari ini Rara merasakan itu semua.


Ia berjuang sendiri tanpa harus ada Rendy.


Tidak masalah karena ini sudah biasa bagi Rara.


Begitu juga Angga dan Raisa sedang menikmati bulan madu mereka di kota romantis, Paris.


Kehidupan Raisa berbanding terbalik dengan kehidupan Rara, Raisa hidupnya sedang bewarna sedangkan Rara hidupnya seperti mendung yang tak kunjung hujan.


Hubungannya sedangkan di gantungkan Rendy.


Bu Silvi sedang menikmati kebahagiaan atas keguguran Rara. Ia tidak pernah menyukai Rara. Bahkan ia juga berniat menyatukan Aurel Dan Rendy kembali.


Aurel terlalu bersemangat karena mendapatkan dukungan dari Bu Silvi. Setiap hari Aurel mengunjungi kediaman Rendy, berharap pria itu sudah kembali.


Dan pagi itu, di hari selasa. Sebelum berangkat ke kantor. Rara mengunjungi kediaman Rendy untuk mengambil barang-barangnya.


Rumah besar itu hanya tertinggal keheningan. Rara tidak ingin berlama-lama, ia membereskan semua barangnya.


Dan ketika ingin meninggalkan rumah itu, Rara terdiam di depan pintu kamarnya. Pria yang menyakitinya berulang kali kini tengah berdiri di depannya.


Ya, Rendy sudah kembali. Ia terlihat lelah dan lesu. Tidak ada senyuman di wajah tampannya.


Rara tersenyum simpul dan menarik kopernya. Namun, terhenti ketika Rendy menahan tangannya untuk tidak pergi. Rendy menatap Rara yang menoleh ke arah pintu keluar. Matanya sudah berkaca-kaca, rasanya ingin sekali Rara menceritakan keluh kesahnya kepada pria itu


"Jangan tinggalin aku!" Pinta Rendy


"Kenapa lelaki seperti itu, ia tidak ingin di tinggalkan tetapi selalu meninggalkan"


"Kamu tahu penderitaan aku?" Tanya Rara menatap pria dengan mata sayu itu


"Kamu menghilang tanpa kabar lalu kembali dan meminta aku untuk tinggal?"


"Ra kamu yang meminta aku untuk pergi dan menghilang dari kamu!"


"Ya, sekarang aku minta kamu jangan pernah muncul lagi di hidupku!"


"Rara tidak bisa!"


"Kenapa tidak bisa? Kemarin kamu melakukannya dengan mulus dan hari ini kamu juga bisa melakukan itu kembali!"


"Kamu tahu menderitanya aku?"


"Nggak Rendy! Aku nggak tahu semenderita apa kamu!" Ucap Rara berteriak kesal, seolah-olah hanya Rendy yang menderita


"RARA!"


"KENAPA?"


"bisa kamu...


Bisa kamu menghilang lalu meminta aku untuk tinggal!"


Tidak berselang lama di antara perdebatan mereka. Aurel, muncul dari balik pintu. Aurel tersenyum kecil melihat Rara sedang bersama Rendy. Gadis itu berlari ke arah Rendy dan langsung saja memeluknya. Tidak ada perlawanan dari Rendy karena dari awal Rendy butuh sandaran untuk melepaskan beban di kepalanya.


Rara menarik tangannya yang masih di genggam Rendy. Tetapi ia tidak sekuat itu. Rendy tidak membiarkan Rara pergi selangkah pun.


"Kamu baik-baik aja?" Tanya Aurel melepaskan pelukannya


"Rendy aku merindukan kamu!"


"Kalian berdua pembunuh!" Ucap Rara menatap Aurel dan Rendy bergantian


Mendengar itu Rendy langsung menatap Rara, ia tidak mengerti dengan ucapan Rara yang juga mengatakan Aurel seorang pembunuh. Aurel langsung mundur beberapa langkah, ia takut jika Rendy mengetahui kebenarannya.


"Kamu menghancurkan hidup aku Rendy! Dan kamu perempuan pembunuh telah membunuh anak aku yang tidak bersalah!" Ucap Rara


Bersambung