
Dan ketika malam sudah menghampiri. Rara pulang ke rumah agak sedikit telat. Ketika ia sampai Rendy sudah berada di rumah. Rara tersenyum melihat suaminya yang begitu tampan terlihat sibuk di depan laptop. Rara berlari ke arah suaminya dan memeluk Rendy.
Ia tidak berhenti mencium pipi Rendy. Rendy membalas mencium Rara dan menatap istrinya.
"Ada apa?" Tanya Rara melihat Rendy akhir-akhir ini kurang tidur
"Banyak hal yang aku pikirkan!"
"Apa?"
"Bagaimana aku bisa mencintai kamu sayang?" Jawab Rendy tersenyum manis
"Nggak lucu!"
"Menurut kamu apa aku bisa mencari pelakunya dalam minggu ini?"
"Tentu sayang"
"Karena, suami aku adalah orang yang hebat, pekerja keras dan tidak gampang menyerah"
"Aku yakin kamu bisa menangkap pelakunya"
"Terimakasih istriku"
"Sayang aku ada kado untuk kamu" Ucap Rendy memperlihatkan kotak yang di bungkus dengan warna pink
"Yeey!"
"Pejamkan mata kamu!"
Rara langsung memejamkan matanya, ia tidak sabar apa yang di berikan Rendy.
Dan ketika Rendy menyuruh membuka matanya. Rara langsung cemberut melihat isi kado itu. Jauh dari dugaan Rara.
Kotak itu berisi boneka kodok dan kuda putih
"Ini buat kamu sayang?" Ucap Rendy menyodorkan kedua benda itu ke wajah Rara
"Ini apa?" Tanya Rara sedikit kesal
"Yang akan melindungi kamu"
"Boneka Katak sama kuda?"
"Serius? Terimakasih sayang.. Ini sangat imut" Balas Rara tersenyum lebar
"Tunggu!"
"Kamu mau kemana sampai...."
"Tidak akan kemana-mana!" Ucap Rendy memotong pembicaraan Rara dan langsung merangkul istrinya
"Aku lapar!"
"Aku tidak masak, bagaimana kalau kita makan diluar" Ajak Rara
Rendy langsung mengiyakan, mereka pun tidak menunda waktu. Tidak perlu mengganti baju dan berdandan berlebihan. Memakai baju kaos sudah membuat mereka tampan dan cantik.
Rara melupakan tasnya, ia pun berlari ke arah kamar sekalian mengambil dompet Rendy.
Dan ketika Rara baru keluar dari pintu kamar, suara ledakan keras terdengar begitu nyaring di telinganya.
Rara berlari keluar, dan tempat di pintu rumahnya, Rendy tergeletak bersimbah darah. Baru saja seseorang menembak Rendy dari kejauhan.
Satpam dan Pak Joko terlihat tidak ada di markas mereka.
Rara berteriak histeris begitu melihat suaminya sudah tidak sadarkan diri.
Berteriak, tidak ada yang mendengar. Kompleks perumahan itu cukup sunyi ketika malam hari.
Entah apa di balik motif penembakan itu, Rara menangis sambil menutup luka yang terus menganga dan mengeluarkan darah. Rara menghidupkan mobilnya, mencoba menarik Rendy untuk masuk ke dalam mobil. Namun, tenaga Rara tidak sekuat itu. Rara tidak berhenti menangis. Otaknya terasa buntu untuk memikirkan yang lain saat ini.
Rara berteriak dan menangis sampai Pak Joko dan satpam di rumah itu datang dari luar.
"Tuan!" Teriak mereka berdua ketika melihat Rendy
"Cepat angkat!" Suruh Rara
Lima belas menit kemudian mereka sampai di rumah sakit. Rendy langsung di bawa ke ruang operasi. Peluru itu menembus terlalu dalam. Rara berdoa dan tidak berpindah tempat dari tadi. Ia berdiri di pintu ruang operasi.
Beberapa menit yang lalu juga Pak Joko menghubungi keluarga Rendy dan Rara. Kedua keluarga itu terlihat datang satu persatu.
Bu Silvi menangis dan langsung menarik rambut Rara. Rara hanya diam ketika Bu Silvi semakin menyakitinya. Sakit yang di berikan Bu Silvi belum sesakit apa yang dilihatnya tadi.
Bersambung