
Dua minggu pernikahan...
Didalam pelukan Rara, Rendy mengenang hari dimana ia mulai menyukai gadis itu. Ia terjebak oleh permainan yang ia mainkan sendiri.
Rendy berniat hanya membuat Rara mencintainya setengah mati, dan setelah itu berhasil ia akan menjauhi Rara bahkan ingin menceraikannya.
Namun, yang terjadi sebaliknya. Rendy tidak menginginkan Rara pergi, setelah setengah mati dia mencintai istrinya.
Sedikit demi sedikit Rendy menyadari Rara berbeda dengan wanita lain yang mendekatinya.
Rara tidak pernah meminta uang kepadanya, jika Rendy tidak memberi maka ia akan menggunakan uangnya sendiri yang ia dapat dari hasil kerja kerasnya.
Bahkan, dikala kesibukannya. Rara masih menyempatkan diri untuk membersihkan rumah dan merapikan baju suaminya.
Sore itu, dihari minggu dan seperti biasa Rendy selalu keluar setiap hari. Entah itu soal pekerjaan atau soal bersenang-senang.
Lebih tepatnya jam lima sore, Rendy bersama Pak Joko baru saja dari luar, Rendy merasakan aura rumah begitu sepi. Namun, setiap sudut rumah terlihat bersih dan tertata rapi.
Bahkan kamarnya juga terlihat lebih bersih dari biasanya.
Rendy penasaran dan mulai mencari keberadaan istrinya.
Pintu kamar terbuka lebar sedangkan didalamnya tidak ada orang. Rendy mengintip secara hati-hati, ia tidak ingin jika Rara melihatnya seperti ini. Gengsinya bisa rusak pikir pria itu.
"Non Rara dibelakang tuan" Ucap Pak Joko memergoki bosnya seperti maling
"Kamu saya pecat ya!" Balas Rendy kaget bercampur malu
"Tapi tuan?"
"Pergi dari sini atau...."
"Iya.. Iya.. Tuan" Sahut Pak Joko dan kembali berlari menuju kamar belakang
"Joko!" Panggil Rendy
"Iya tuan?"
"Saya menyuruh kamar ke pos sekuriti bukan kebelakang!"
"Tapi tuan..."
"CEPAT!"
Pak joko berlari seraya tersenyum kecil melihat tingkah bosnya yang terbilang tidak biasa hari ini.
Baru saja Pak Joko sampai di pos sekurity, sebuah mobil yang ia kenali meminta dibukakan gerbang. Iya, siapa lagi jika bukan Clara. Tidak tahu kenapa, tetapi Pak Joko membenci wanita itu untuk beberapa alasan.
"Joko buka" Suruh Clara sedikit berteriak
"Maaf non, Bos lagi keluar"
"Kemana? Kalau kamu bohong saya pecat!" Ancam Clara
Mendengar kebohongan Pak Joko, Clara langsung merasa kesal dan kembali pergi meninggalkan rumah itu.
Sedangkan Rendy mencari cara untuk bisa melihat apa yang dilakukan Rara dikamar belakang.
Entah sudah berapa kali ia bolak-balik mengitari kamarnya. Dan ketika ia mendapatkan ide, Rendy mempercepat langkah panjangnya menuju Rara
"Joko... Joko.. Baju kemeja putih saya dimana?" Teriaknya dan tentu saja tidak akan terdengar olah Pak Joko, mengingat tembok rumah mereka yang kedap suara
Dan keberuntungan Rendy, saat itu Rara sedang merapikan baju dikamar belakang. Ia berpura-pura mengomel dan masuk tanpa permisi.
Rara hanya diam mendengar omelan Rendy dan membiarkan Rendy mencari bajunya sendiri.
Rara tetap asyik melakukan pekerjaannya, sedangkan Rendy mencoba mencuri pandang sedikit demi sedikit.
Disaat Rara berjongkok membelakanginya seraya menyusun beberapa baju dikeranjang yang terletak dilantai, Rendy melihat wanita itu dengan tatapan pilu. Bagaimana bisa dia tidak mengeluh mengerjakan semua ini. Bahkan Rendy juga melihat dibeberapa bagian tangan Rara terkena setrikaan.
Rendy merasa bersalah, mungkin saja diluar negeri ia tidak pernah melakukan ini semua atau bisa saja pekerjaan yang ia lakukan ini dilakukan oleh seseorang asisten rumah tangganya.
Rara tidak mengeluh perihal ia capek melakukan semua ini. Hanya saja mereka sering ribut perihal sikap Rendy yang selalu pulang malam dan pergi bersama wanita lain. Rara pernah mengeluh bahwa ia lelah menghadapi sikap Rendy.
"Tidak perlu kasihan melihat ini, aku sudah terbiasa melakukannya!" Ucap Rara melihat Rendy mematung menatapnya
"Ini yang kamu cari" Sambung Rara memberikan kemeja putih Rendy. Rara juga memberikan beberapa Lipstick perempuan yang ia temui dikantong celana Rendy
Rara kembali melakukan pekerjaannya, bahkan sudah mau selesai, Rendy masih berdiri disana tanpa mengatakan apapun. Rendy hanya menggerakkan matanya mengikuti posisi Rara. Dan ketika baju terakhir, didalam keranjang ia kembali menemukan jepitan rambut wanita lain dan itu sengaja dilakukan oleh wanita-wanita yang ingin menghancurkan rumah tangga mereka.
Rara tersenyum simpul mengambil itu dan kembali memberikannya kepada Rendy
"Benar ya... Menikah itu harus karena cinta!
Karena cinta itu menerima kekurangan dengan senyuman...
Sekarang kamu lihat kita?" Ucap Rara memberanikan diri memeluk Rendy
"Menikah karena orangtua..
Dan kita tidak pernah menemukan jalan keluar...
Yang ada Saling berteriak siapa yang salah......
Saling menuding tak mau kalah..." Rendy masih mendengarkan perkataan istrinya
"Dan lagi-lagi kata benar hanya untukmu dan seluruh makian tertuju padaku. Seolah aku yang memaksa atas perjodohan ini, jika saja dulu kamu menolak mungkin kita tidak perlu bersusah payah mengalahkan ego" Sambung Rara dan melepaskan pelukannya dari Rendy
Rendy merasa ucapan Rara adalah pukulan baginya, ia menarik tubuh Rara ketika wanita itu sudah mundur beberapa langkah dari hadapannya.
Kali ini Rendy memeluk Rara, pelukannya cukup erat seperti mengatakan tetap disini bersama aku. Sedangkan Rara menepis air matanya, hatinya begitu sakit melihat pemandangan yang ia temukan. Setiap hari ia menemukan barang-barang dari wanita lain di pakain suaminya.
Rendy menyadari Rara menangis ketika ia merasakan hangatnya air mata mengenainya. Pria itu melepaskan pelukannya, menepis air mata Rara perlahan dan lembut. Dan ketika ia tergoda dengan istrinya. Dan ketika bibir Rendy mendekati bibir merah Rara. Tangan Rara sudah lebih dulu menempel didadanya dan mendorong pria itu untuk menjauh.
Bersambung