
Satu minggu setelah pernikahahan.
Senja yang indah perlahan pergi meninggalkan bumi. Rara melihat jam tangannya sudah menunjukan pukul enam petang. Rara masih duduk dihalte seorang diri, tidak tahu kemana tujuannya hari ini.
Langkahnya terhenti. Pikirannya mulai kemana-mana. Rara mencoba menahan air matanya supaya tidak keluar. Rasanya dia ingin menyerah dengan takdir yang tidak menguntungkan dirinya.
Tapi Rara yakin semua akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu.
Tadi pagi ia kembali ribut dengan Rendy perihal hutang keluarganya. Dan Rara juga memutuskan diri untuk mencari pekerjaan. Dan hari ini ia belum memiliki hasil untuk itu, ternyata mencari pekerjaan di negeri sendiri cukup sulit.
Pada akhirnya Rara memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya. Ia sedikit ingin berbagi keluh kesah dengan keluarganya.
Sesampai digerbang rumah bercat putih itu Rara menarik nafas dalam-dalam. Berharap orang tuanya menerima dirinya.
"Rara ngapain kamu berdiri di sana?" Tanya Gerin melihat adiknya berdiri didepan gerbang seperti orang asing
"Kak Gerin buka dulu" Pinta Rara tersenyum lirih
Begitu Rara masuk dia melihat orang tuanya sedang bermain bersama ponakaannya. Bahkan mereka masih bisa tertawa lebar. Setelah menjual anaknya kepengusaha yang sombong dan kasar. Orang tuanya tidak peduli atas penderitaan anaknya. Bahkan mereka tidak pernah menanyakan kabar Rara setelah menikah.
"Kamu kenapa pulang?" Tanya Bu Shireen seakan-akan gadis itu orang asing
"Aku ribut sama Rendy" Balas Rara langsung berjalan kearah kamarnya, karena ia juga lelah setelah Rendy memperlakukannya bak pembantu di rumah itu
"Rara" panggil Pak Adit membuat langkah kakinya terhenti
"Kamu pulang ke rumah suami kamu sekarang...
Memohon dan minta maaf sama dia...
Sebelum dia menceraikan kamu,
Kamu harus pikirkan nasib keluarga kita, jangan egois kamu yang di ikuti" Ujar Pak Adit membuat Rara tersenyum sumbang
Bisa nggak sekali aja, Papa melihat penderitaan aku?" Tutur Rara meluapkan emosinya yang sudah lama dipendamnya. Rasanya hari ini ia ingin mengumpat tapi itu tidak akan dilakukannya, anggota keluarganya terdiam mendengar perkataan Rara.
"Aku tidak di terima disini? Tidak masalah. Aku akan keluar dari sini" Sambung Rara bergegas keluar dari rumah itu
Sedangkan di rumah Rendy. Dia terlihat gelisah. Matanya terus memandangi keluar, dia sedikit menyesal setelah kejadian tadi pagi.
Langit yang tadi mendung. Langsung memuntahkan airnya kebumi dengan sangat lebatnya. Ditambah angin yang ikut menggoyangkan pepohonan dijalanan
"Joko" Teriaknya sekeras mungkin
"Iya tuan"
"Kamu cari dia ke rumah orang tuanya" Suruh Rendy membuat sopirnya sedikit tersenyum lega
Setelah satu jam. Pak Joko kembali lagi sendirian, dia sedikit berlari tergopoh-gopoh ke tuan mudanya yang terlihat begitu khawatir
"Tuan non Rara nggak ada disana!"
Mendengar itu. Pria yang berbadan kekar itu masuk kedalam kamarnya lalu keluar lagi dan bergegas pergi ke garasi mobil
Rara sedikit berlari kearah halte setelah menuruni taxi, ia berlawanan arah dengan Pak Joko sehingga pria itu tidak menemukannya. Rok yang sedikit pendek dan baju yang dikenakanya sedikit tipis membuat gadis malang itu mulai kedinginan.
Dia ingin kabur ke LA tapi keuangan tidak memadai. Rara tersenyum melihat isi dompetnya. Lalu menoleh, di sekelilingnya mulai sepi. Sebulir air mata jatuh dengan bebas dipipinya, tangan Rara dengan cepat menepisnya. Bodohnya dia selalu tertipu oleh orang tuanya, seandainya dia tahu akan menikahi orang yang kejam. Tentu Rara tidak akan pulang. Sekarang sudah terlambat dia cuma bisa menyerahkan semuanya kepada sang waktu.
Malam semakin gelap. Hujan semakin deras membuat Rendy memperlambat laju mobilnya. Dia melihat kesisi kanan dan kiri jalanan berharap bertemu istri yang selalu dikasarinya. Ditengah riuhnya hujan, Rendy mulai terlihat sangat khawatir
Mata Rara mulai mengantuk. Ia melambaikan tangan kearah taxi yang lewat. Namun, di pertengahan jalan menuju kerumah Rendy. Mobil itu mogok dan kembali membuat Rara harus turun ditengah-tengah pusat kota. Rara berlari kesebuah halte yang penuh diisi oleh karyawan perusahaan didepan jalan itu. Rara mengibaskan roknya nan sedikit basah, satu persatu mereka meninggalkan halte itu. Tanpa disadari Clara juga berada disana saat itu, Clara berusaha menghubungi Rendy untuk menjemputnya.
Bersambung