
Hari demi hari setelah pernikahan Rara dan Rendy selalu berantem untuk hal kecil sampai besar. Begitu juga Rendy. Pria itu selalu pulang malam untuk menghindari Rara.
Berbagai cara di lakukan keluarga Pak Harris untuk mempertahankan pernikahan anaknya. Namun, itu seperti jalan buntu, Rara dan Rendy sendiri yang membuat semua semakin rumit.
Rara sudah memberitahu kepada keluarganya akan keputusannya. Pak Adit dan Bu Shireen tidak mengkhawatirkan itu. Jika itu yang terbaik buat anaknya, lagi pula Rara dan Rendy tidak saling mencintai dan tidak ada yang perlu di cemaskan. Pak Adit akan menjadikan ini pelajaran bagi dirinya dan anaknya.
Malam itu Rara berkeinginan untuk keluar menemui Raisa, dan ketika berpapasan di sebuah restoran dimana ada Rendy dan Clara juga disana. Rara langsung membuang muka dan bergegas berjalan menuju sahabatnya.
Pakainnya yang sedikit ketat memperlihatkan lekukan tubuhnya yang ramping.
Sepanjang meja restoran ada beberapa pria yang sedang berkumpul dan kaum adam itu mulai merayu Rara.
Rendy yang dari tadi memperhatikannya, terlihat beberapa kali batuk-batuk kecil. Tentu saja itu membuat Clara kesal.
Pria berambut hitam legam itu berdiri mempercepat langkah kakinya menuju ke arah Rara
"Kau cari perhatian?" Tanya Rendy begitu mereka saling berdekatan
"Ada yang salah?"
"Rendy"
Suara tiba-tiba itu membuat mereka berdua menoleh. Siapa lagi kalau bukan Clara yang sedang cemburu melihat mereka berduaan
"Apa kamu benar-benar tidak tau malu?" Tanya Clara dengan kesal
"Sini aku bisikin. Rendy itu suami aku" Ucap Rara berbisik di telinga Clara. Spontan gadis itu berteriak histeris mendengar itu. Orang-orang yang berada di restoran itu langsung memandangi mereka dengan tatapan aneh
"Dasar wanita gila" Teriak Clara seraya menunjuk Rara
"Oooooo" Balas Rara membulatkan bibirnya dan pergi menjauh dari mereka
Clara menarik tangan Rendy ke arah taman. Clara membenci omong kosong Rara, dan begitu juga Rendy yang selalu mempermainkan Clara, hubungan mereka tidak ada kejelasan.
"Kapan kamu akan menceraikan dia?" Tanya Clara dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Rendy menggeleng lesu. Dia tidak ingin lagi membohongi perempuan ini.
Kaki Clara langsung lemah. Badannya ikut terduduk. Air matanya mengalir begitu saja. Rendy sudah mengecewakannya.
Bahkan ia sangat malu ke dirinya sendiri. Jika pun iya berdekatan dengan Rendy.
Semua itu akan menjadi sia-sia. Keluarga Rendy sudah pasti tidak akan setuju.
Dan dia juga akan di cap sebagai perempuan penggoda.
"Kamu hanya memanfaatkan aku Rendy di saat kesepian!" Ucap Clara memukul dada Rendy
"Aku tidak mencintainya"
"Itu tidak akan mengubah semuanya jika kamu tidak menceraikannya"
"Aku kecewa sama kamu, aku benar-benar kecewa"
Dan saat Rara dan Raisa sudah selesai menikmati makanan, mereka berdua memutuskan untuk kembali pulang, Raisa menuju ke arah mobilnya begitu juga Rara. Tiba-tiba saja Rendy menarik Rara dengan keras dan membuat gadis itu terjungkal ke depan. Dengan paksa Rara di tarik menuju sudut restoran itu.
Rara berusaha lepas dari tarikan Rendy. Namun, sia-sia, lelaki berbadan kekar itu cukup kuat. Raut wajahnya seperti menahan marah. Rendy mendorong Rara sampai terjatuh ke tanah yang kering.
Kini tangan mungil gadis itu tergores. Percikan darah terlihat.
"Apa ini rencana kau?" Teriak Rendy. Rara masih terduduk menatap tangannya
"Apa dia sepenting itu?"
"Iya, bahkan sangat penting" Balas Rendy masih dengan teriakan
"Baiklah"
Raisa merasa ada yang tidak beres. Langsung mencari sahabatnya. Betapa terkejutnya Raisa melihat Rara terduduk di tanah dengan tangan yang sudah berdarah.
Tanpa menunggu lama, tangan kasar Raisa mendarat ke pipi Rendy.
"Wajah tampan kamu sungguh tidak berguna!" Ucap Raisa emosi melihat sahabatnya di perlakukan seperti itu
"Jika kamu berani menyakiti Rara, maka aku juga berani menyakiti kamu"
Rendy terdiam beberapa saat setelah di tampar. Tamparan itu benar-benar menyadarkannya.
Ia yang tadi terbawa emosi, langsung melihat Rara terduduk lesu.
"Maafin aku" Pinta Rendy merangkul bahu Rara. Rara tersenyum simpul dan membuang tangan Rendy yang menyentuh tubuhnya.
Raisa membantu Rara berdiri sedangakan Rendy menatap Rara dengan tatapan bersalah.
"Kamu boleh pulang dulu Sa" Suruh Rara kepada sahabatnya. Raisa mengangguk setuju.
"Maafin aku"
"Aku harap setelah perceraian, kita tidak akan saling mengenal lagi!"
"Apa itu tidak terlalu kejam?"
"Iya"
Rara meninggalkan Rendy yang masih terdiam, ia ingin menangis. Namun, dengan cepat di tepis. Rara tidak ingin lagi menangisi hal bodoh.
Dan sekali lagi Rara memberhentikan tangisannya. Ia menutup jendela kamarnya dan melihat Rendy mulai meninggalkan rumahnya, kenangan bersama Rendy itu semakin membuat dia membenci Rendy.
Bersambung