
Rara terlihat sibuk merapikan baju yang berserakan di atas ranjang, terlihat raut wajah yang sangat bahagia beberapa hari menjelang pernikahan Gerin. Clara sulit di temukan bahkan susah di hubungi
"Clara yang putus kenapa kamu yang sedih" Tanya Rendy begitu keluar dari kamar mandi melihat istrinya mulai banyak diam
"Aku kasihan sama Clara mau menikah tapi di tinggal calonnya"
"Perempuan selalu begitu menginginkan sesuatu yang sulit untuk di raihnya dengan cara menyakiti diri sendiri"
"Maksud kamu apa bicara seperti itu" Rara melotot dan langsung membuat Rendy batuk-batuk kecil dengan perkataannya
"Sayang bukan begitu maksud aku, menurut aku Clara. mungkin menenangkan diri di sebuah tempat" Rendy tersenyum dan memeluk Rara yang mulai terlihat marah
"Tuan.. Non" panggil Pak Joko dari balik pintu kamar
"Iya" Rara membuka pintu melihat Pak Joko seperti ketakutan
"Itu non Rara di luar ada Mamanya tuan" Rendy langsung keluar mendengar Mamanya yang datang
"Rendy kenapa kamu tidak pernah lagi mengunjungi Mama? Biasanya setiap hari kamu ke rumah" Tanya Bu Silvi dengan raut wajah menyedihkan
"Aku tidak tertarik lagi dengan BM Grup Ma"
"Rendy kenapa kamu bicara seperti itu, itu perusahaan Papa kamu, dan Mama kesini mau minta maaf sama kamu dan istri kamu. Mama nggak mau kehilangan kamu" Rara keluar dari kamar melihat suasana yang mulai tegang
"Ra maafin mama" Rara membesarkan matanya dan sangat kaget dengan perubahan ibu mertuanya
"Mama akui Mama salah, Mama egois Mama kira dengan menyakiti kamu bisa membuat Rendy semakin membenci kamu ternyata salah dan malahan berbalik ke Mama dia yang membenci dan menjauh dari Mama. Mama menyesal dengan kata-kata Mama"
"Kamu adalah menantu pilihan Mama dari semua wanita yang pernah dekat dengan Rendy" Rara tersenyum manis dan mendekat ke ibu mertuanya.
"Sebelum Mama minta maaf aku udah maafin Mama, maafin aku juga belum bisa jadi menantu yang baik buat Mama tapi sebisa mungkin aku bakal jagain Rendy Ma dan tidak akan pernah meninggalkan Rendy lagi" Ibu mertuanya langsung memeluk Rara dengan erat
"Bujuk Rendy untuk mau mengurus perusahaan Papanya lagi" Rara mengangguk dan Rendy tersenyum memeluk Mamanya yang kini sudah berubah
Dua hari setelah itu tepatnya Pukul satu siang Rendy Rara dan keluarganya berangkat ke acara rumah Maurin, Rara terlihat menarik nafas panjang dan membuat Rendy menatapnya dengan aneh
"Kamu ngapain? Mau nikah lagi?"
"Rendy jika di suruh memilih antara menikah lagi atau tetap bersama kamu maka aku akan memilih kamu" Rendy tersenyum manis
"Kenapa?"
"Karena ada beberapa alasan aku memilih kamu!!
Pertama kamu cengeng
Ketiga kamu sombong
Keempat kamu kasar
Kelima.."
"Cukup" Ucap Rendy memotong pembicaraan Rara
"Kenapa? Tadi kamu yang nanya" Rara tersenyum melihat Rendy yang mulai kesal
"Kamu juga tahu kenapa aku memilih kamu di saat di luar sana kemungkinan yang lebih baik sangat banyak"
"Tahu!! Pertama aku cantik kedua aku cantik lagi ketiga kamu sangat mencintai aku keempat kamu sangat mencintai aku lagi kelima kamu nggak bisa jauh dari aku keenam.."
"Wanita ini benar-benar" Ucap Rendy dan membuat Rara tertawa lepas
Mereka sampai di rumah Maurin dan beberapa menit lagi acara pernikahan akan di mulai. Tidak sampai satu jam acara sakral itu telah selesai. Kini Gerin dan Maurin duduk berdampingan menyambut tamu yang datang.
Terlihat juga kedatangan William bersama pacarnya, tidak ketinggalan Raisa dan perut buncitnya, Oh ya juga ada Angga di samping Raisa. Tamu-tamu penting lainnya juga terlihat berdatangan. Pak Adit tersenyum bahagia melihat anaknya.
Tidak berselang lama juga terlihat kedatangan Clara bersama Bobby. Rara langsung menghampiri mereka berdua,
"Kamu kemana? Aku hubungi nggak aktif aku khawatir tau" omel Rara semakin kesal melihat Clara seperti baik-baik saja
"Udah marah-marahnya Ra. Oh iya selamat atas pernikahan Kakak kamu" Clara mengulurkan tangan dan tersenyum tulus
"Terimakasih Clara dan semoga kamu selalu bahagia" Ucap Rara membalas uluran tangan orang yang pernah menjadi musuhnya
"Clara kamu kemana aja?"
"Aku liburan sama seseorang yang kamu kenal" Bisik Clara dan langsung membuat Rara melotot melihat siapa yang datang
"Bobby?" Tanya Rara tidak percaya
"Tidak buruk kan Ra calon suami aku" Clara tersenyum merangkul tangan Bobby
"Wah Clara sungguh kamu beruntung dan sangat tidak buruk" Sahut Raisa yang muncul tiba-tiba
Mereka tertawa bersama seperti tidak ada beban.
Bersambung