
Rara mengingat penyebab dia tinggal di negara orang. Tepat sepuluh tahun yang lalu. Ketika Rara menginjak bangku SMP, ia selalu di perlakukan buruk oleh orang tuanya. Rara selalu di banding-bandingkan dengan Reni yang memiliki otak lebih darinya. Bahkan tak jarang Mamanya pilih kasih dalam berbagai hal.
Dan ketika Rara sudah menginjak bangku kelas tiga Sekolah Menengah Pertama . Pak Adit mengusulkan untuk Rara sekolah di luar negeri.
Di saat itu Rara mulai ketakutan, ia yang tidak biasa jauh dari rumah. Kini harus keluar negeri dan hidup seorang diri.
Berbeda budaya dan bahasa juga di takutkan Rara.
Dan hari kelulusan itu tiba, Rara di antar oleh kedua orangtuanya menemui Om Harry adik dari Bu Shireen.
Ia di sekolahkan di sekolah yang ada asrama. Dan lagi-lagi ketakutan itu menghantui. Ia tinggal di asrama selama tiga tahun. Orang tua tidak pernah mengunjungi. Hanya Om Harry yang setiap minggu mengajak untuk pulang ke rumah mereka yang sederhana.
Dan di saat kuliah, Rara mencoba untuk menyewa apartemen yang tidak terlalu jauh dari kampus. Di saat itu, ia sudah mulai di dewasakan oleh keadaan. Bekerja paruh waktu untuk mencukupi kehidupan sehari-hari. Dan untung saja Rara mendapatkan beasiswa dari kampus, sedikit membuat ia lega.
Orang tuanya hanya mengunjungi sesekali. Dan mereka selalu memberikan alasan sibuk jika Rara menyuruh datang menemuinya.
Tetapi itu tidak membuat Rara patah.
Rara tidak akan menangis lagi, Rara tidak akan menyalahkan diri sendiri lagi. Rasanya terlalu lelah menyalahkan diri sendiri. Nikmati sampai hal itu menjadi hal yang menyenangkan. Dan ketika hidup mulai tenang. Keluarganya kembali mengusik dirinya.
Seminggu sudah berlalu ketika ia mendapatkan pesan itu. Pak Adit tidak kehilangan akal, kali ini. Ia benar-benar mencelakakan diri sendiri. Pak Adit menabrakkan mobil ke arah tembok yang tidak bersalah.
Pak Adit di rawat di rumah sakit dengan luka yang tidak terlalu parah.
Bu Shireen mengirimkan beberapa foto Pak Adit terbaring di rumah sakit kepada Rara.
Ekspresi kaget tidak terlihat di wajah Rara, ia hanya menghela nafas dan tersenyum manis ketika melihat kedatangan Om Harry.
Singkat cerita, entah bagaimana Om Harry meyakinkan Rara. Rara bersedia untuk pulang dan segera kembali ke negara LA.
Namun, ketika Pak Adit mengetahui Rara sudah kembali. Ia menyuruh sekretarisnya untuk membekukan Paspor dan Visa Rara agar anaknya tidak bisa kembali lagi ke negara itu.
Tidak ingin berlarut-larut, Rara memejamkan mata dan tertidur untuk melupakan kesedihan.
Dan setelah beberapa jam lamanya di atas sana, Rara mendarat kembali ke kota kelahiran.
Ia menarik koper yang tidak terlalu besar. Ia keluar dari bandara mencari keberadaan Mamanya yang berjanji akan menjemput.
Deg!
Jantung Rara berdetak kencang, ketika Mama dan Reni melambaikan tangan ke arahnya.
Entah itu kecewa atau rindu, hanya saja Rara menepis air mata. Sudah tiga tahun ia tidak melihat Mamanya secara langsung.
Rara langsung mendapatkan pelukan hangat dari Mamanya. Namun, di dalam pelukan itu begitu banyak tanda tanya.
"Terimakasih Ra sudah kembali" Ucap Bu Shireen
Persekian menit di perjalanan. Mereka sampai di rumah, Rara semakin heran, kenapa Mamanya membawa ia ke rumah bukan rumah sakit.
Dan ketika Rara sampai di gerbang rumah. Seorang pria yang ia lihat terbaring lemah di rumah sakit kini tengah berdiri di depan pintu. Bahkan Pak Adit terlihat sehat dengan senyuman aneh yang mengambang di bibir.
"Papa bukannya....?" Tanya Rara ketika ia sudah di depan Pak Adit
"Itu tidak penting!" Jawab Pak Adit
"Maksud Papa?"
"Ada yang lebih penting, kamu akan menikah!" Ucap Pak Adit tertawa lepas. Sedangkan Rara terlihat mundur dari tempat berdiri ketika mendengar kata menikah.Situasi dimana kamu ingin menghilang tapi itu tidak akan terjadi.
Permainan apa lagi ini?