CEO, MY HUSBAND

CEO, MY HUSBAND
CHAPTER 64



Konon katanya tidak ada kisah romantis melebihi dua sejoli yang menghabiskan waktu berdua menatap senja.


Senja adalah nikmat di kala sore menjelang malam. Menenangkan dan bermakna. Senja bukan hanya fenomena yang berlangsung begitu saja tanpa ada makna yang ia berikan.


Senja merupakan bentuk keromantisan Sang Pencipta. Ya, Sang Pencipta menghadirkan senja dengan segala keteduhannya. Bias-bias cahaya yang lambat laun akan menghilang mengisyaratkan seorang kekasih yang akan pergi menjadi malam dan menghadirkan keistimewaan malam dengan bintang bulannya untuk sang kekasih karena senja merupakan keadaan yang harus terlewatkan dengan tidak begitu lama demi malam.


Senja mengingatkan kita kepada Rendy dan Rara kembali. di balik senja hanya ada bayangan hitam yang terlihat dari kejauhan. Melihat diri berbingkai senja membuat mereka mengetahui jati diri yang sebenarnya sama, kesamaan itu berlukiskan bayangan senja yang menyerupai potret asli diri yang hitam polos dan hampir sama semua.


Disaat mereka sudah berdamai, mereka menghabiskan waktu berdua di alam bebas. Rendy meninggalkan pekerjaannya. Rara melupakan bayangan yang tidak menyenangkan.


Mereka menatap langit yang sama. Duduk di bibir pantai, menikmati hidup sebagai pasangan suami istri. Tanpa ada teriakan, orang lain dan hal-hal aneh lainnya.


"Aku tidak tahu kapan itu, tetapi aku mencintai kamu" Kata Rendy memeluk istrinya


"Di jodohkan atau tidak aku akan tetap menemukan mu"


"Heol!" Sahut Rara tersenyum manis


Senja sudah berlalu, riuh angin pantai menerbangkan rambut Rara. Udara pantai semakin dingin, satu persatu orang mulai meninggalkan keindahannya. Ada juga yang memuli menghidupkan api unggun.


Tidak begitu dengan Rendy dan Rara, mereka menikmati angin pantai, berpelukan dan sesekali Rendy mencium bibir Rara.


Pak Joko nan semakin tua badannya semakin kedinginan, sedari tadi ia duduk di samping mobil. Mengabadikan momen kebahagiaan Rendy dan Rara.


Karena Pak Joko jarang melihat momen seperti itu.


Senyuman Rendy hilang begitu melihat raut wajah menyedihkan sopirnya itu.


"Pak Joko kenapa?" Tanya Rara


"Tuan mari kita pulang!" Ajak Pak Joko menggigil kedinginan


"Makanya saya bilang jangan ikut" Jawab Rendy


Tadi siang sebelum mereka memutuskan ke pantai, Rendy dan Rara ribut kembali. Dan Rendy menyuruh Pak Joko untuk tinggal. Namun, Pak Joko tidak ingin terjadi apa-apa dengan Rara, ia memutuskan untuk tetap ikut. Bahkan ketika Rendy menyuruh ia turun dari mobil. Pak Joko menahan dirinya sekuat mungkin sehingga Rendy menyerah dan akhirnya membawa Pak Joko sampai kesini.


Dan sekarang Pak Joko sendiri yang menyesal, jika dia tahu akan berakhir seperti ini. Pak Joko akan memilih untuk tidur di rumah. Rara tertawa melihat ekspresi sopirnya itu. Dan Rara juga mengangguk untuk mengajak Rendy pulang


"Maaf tuan!"


"Makanya cari istri"


"Tuan kejam sekali, Bapak menghabiskan waktu mengantarkan tuan kemana-mana sampai bapak melupakan untuk menikah dan tidak sadar sekarang sudah tua" Keluh Pak Joko menyesali hidupnya


Rendy dan Rara tertawa bersama. Rendy merangkul bahu Pak Joko dan mengajaknya untuk pulang.


Mereka bertiga meninggalkan pantai. Sepanjang perjalanan Rara memilih tidur karena kelelahan. Rendy membawa tubuh Rara untuk bersandar ke dirinya. Tidak ada beban hanya kebahagiaan yang di rasakan Rendy saat ini. Pak Joko senyum-senyum sendiri mengintip kebahagiaan mereka.


Bersambung