
Hujan kembali turun membasahi setiap sudut kota. Rendy keluar dari rumah dan ia mengingat hari dimana ia masih bersama Rara. Dan kenangan manis yang sedikit itu. Cukup membuat ia merindukan kembali wanita itu.
Walaupun perasaan cinta itu belum tumbuh seratus persen. Tetapi, sedikit celah Rendy membuat Rara begitu spesial di hatinya karena hal sederhana yang di lakukan wanita itu.
Dua puluh hari pernikahan.
Langit malam sangat indah. Bintang bertabur dengan kerlap-kerlip cahayanya. Bulan juga ikut menghias langit yang hitam pekat. Rendy duduk di teras rumah membawa beberapa berkas kerjanya.
Rara yang baru selesai mandi sedikit berlari mencari Rendy.
"Rendy" Teriak Rara di setiap sudut ruangan. Mendengar teriakan istrinya Rendy bergegas masuk dan melihat Rara seperti orang yang sedang ketakutan
"Kenapa?" Tanya Rendy menggenggam tangan Rara yang mulai dingin dan gemetaran
"Lampu di kamar mati! Dan aku takut kegelapan" Rara langsung memeluk erat tubuh Rendy. Nafasnya terengah-engah, dia seperti merasakan dan mengingat masa lalunya. Entah kenapa dia pernah tidur panjang di kegelapan yang tidak ada siapa-siapa. Lebih tepatnya ketika ia di antarkan ke negara orang seorang diri oleh keluarganya.
"Tunggu disini" Rendy bergegas masuk ke kamar dan mulai memperbaiki lampu itu, karena mengingat Pak Joko dan satpam di rumahnya sedang mengunjungi pesta pernikahan teman mereka. Tidak menunggu lama Rendy keluar lagi dan menatap Rara yang masih berdiri pucat
"Kau tidak ingin memeluk saya lagi?" Tanya Rendy tersenyum aneh. Rara mengerutkan wajahnya dan berlalu ke dapur. Namun, ia menyembunyikan sedikit senyuman dari bibirnya.
Malam yang tadi indah perlahan rintik hujan turun membasahi bumi. Semakin lama semakin deras. Rendy masih di teras rumah tidak mempedulikan deras hujan yang turun.
Rara membawakan secangkir kopi hangat dan melihat Rendy sedang asyik dengan laptopnya. Angin malam terlihat membelai kulit halusnya Rendy bersamaan dengan parfum yang terbang dari tubuh suaminya. Rara tersenyum mencium aroma yang begitu lembut terbawa angin.
"Masuk sana! Tidak baik angin malam untuk perempuan"
"Sebentar saja" Jangan tanya sebentar Rara berapa lama. Rara tertidur seraya melipat kedua tangannya. Dan membuat Rendy menggelengkan kepala ketika menoleh ke arah istrinya.
Rendy mengangkat badan kecil itu ke kamar. Badan yang mulai terasa dingin. Dia tahu persis Rara yang suka tidur. Bahkan setiap hati kerjaan Rara hanya tidur, kadang kala Rara tidak mengetahui kepulangan suaminya dari kantor. Entah bagaimana dengan kedua matanya yang selalu tertidur di saat situasi apapun.
Rendy meletakkan badan Rara di kasur dan menyelimutinya. Bibir merah Rara begitu menggoda iman Rendy. Tanpa sadar Rendy menempelkan bibirnya ke bibir Rara yang masih tertidur.
Rendy tersenyum dan meninggalkan kamar itu.
Dan lamunan Rendy tersadar ketika kilat dan petir menyambar secara bersamaan. Rendy menghela nafasnya dan menatap ke atas langit sana.
Apa kamu merindukan aku juga? Aku telat melakukan beberapa hal. Aku hanya bisa menyakiti kamu dengan kata-kata! Maaf! Tetapi sekali lagi aku bertanya, apa kamu merindukan aku? Aku kesepian. Setidaknya ketika kita berantem rumah ini tetap hidup. Aku sunyi, aku memilih mengingat hari dimana kamu tersenyum kecil dan menyembunyikannya dari aku!
Dan di saat itu juga di rumah sakit Rara menggerakkan jari jemarinya dan menitikkan air mata dalam tidurnya.
Bersambung