CEO, MY HUSBAND

CEO, MY HUSBAND
CHAPTER 67



Seperti halnya malam kemarin, malam ini sedikit berbeda, Rara menatap siapa pria yang datang. Ia tidak peduli siapa dia, jika saja dulu aku mudah mencintainya, di sakiti bahkan di jadikan tempat bersenang-senangnya. Rara masih memaafkannya, tapi untuk sekarang. Hatinya yang berhak memiliki. Orang lain tidak bisa mengatur hatinya, dan hati Rara memilih untuk mencintai dia. Dia adalah Rendy dengan segudang prestasinya.


"Maaf telat sayang" Ucap Rendy seraya tersenyum dan memeluk istrinya


"Ya wajar sayang, namanya kamu dari kantor belum lagi macet"


"Ayo kita masuk ke dalam" Ajak Rara


"Mau berjalan kaki denganku,setidaknya hargai dulu waktu kita hari ini" Ajak Rendy tidak seperti biasanya. Rara mengangguk setuju, kaki mereka melangkah bersamaan, tangan mereka saling menggenggam satu sama lain


"Ra aku minta maaf?" Kata Rendy dengan tulus


"Minta maafnya udah basi, aku aja udah lupa perihal apa?" Balas Rara seraya tersenyum


"Maaf, aku telah membuat kamu terlibat dalam hidupku yang berantakan di hari kemarin"


"Oooooo! Kamu lupa? Aku Rara Wijaya, wanita yang mudah melupakan hal-hal buruk"


"Ra...."


"Rendy, hari ini kita nggak hidup di masa lalu, seberantakan apapun kita di masa lalu, kita punya hak untuk bahagia di masa depan"


Rara langsung terdiam memikirkan omongannya, kenapa tiba-tiba ia sok puitis. Dan kenapa juga ia sebahagia ini? Aneh, dan memang benar kata orang jika kamu sudah berusia dua puluh tahunan keatas, yang kamu butuhkan hanya memaafkan, mengikhlaskan dan belajar menerima. Pikir Rara


"Heoool" Sahut Rendy seperti ingin menerkam istrinya


Mereka berjalan kaki di pinggiran kompleks perumahan menikmati indahnya langit malam, bintang bertaburan dengan cahaya kerlap-kerlipnya, angin berhembus sepoi-sepoi, yang perlu mereka lakukan hanya bersyukur. Karena, bisa jadi esok hari mereka tidak bisa melihat keindahan ini lagi.


Mereka berjalan bersama dengan langkah terasa ringan, tertawa, bercerita, saling menggoda adalah definisi untuk menghibur diri dari sedikit masalah pelik yang bersemayam di otak.


Bintang yang menghiasi langit seperti ikut tersenyum menatap kebahagia mereka.


Rara memeluk tubuhnya sendiri seraya menengadahkan wajahnya ke langit yang hitam pekat. Namun indah jika di pandang.


Rendy tersenyum manis menatap istrinya cukup lama. Rendy tersenyum manis meyakinkan hati sudah memilih wanita di depannya.


"Sayang apa di atas sana lebih indah dari pada aku ?" Tanya Rendy membuyarkan pandangan Rara


"Tidak" Ucap Rara menggelengkan kepala


"Aku? Tidak mungkin" Balas Rara menyentuh wajahnya yang memerah


"Rara..."


"Aku tidak khawatir karena apa yang aku khawatirkan dia baik-baik saja di sisiku" Ucap Rara memotong pembicaraan Rendy


"Sayang?"


"Maaf aku belum juga hamil?"


"Rara aku tidak peduli itu, terpenting adalah kita selalu bersama?"


"Rendy..."


"Rendy berhenti membohongi perasaan kamu, apa kamu tidak lelah menyimpan itu sendiri"


"Hi wanitaku, dengarkan. Istri yang aku cintai, Rara Wijaya, teman tidurku, wanita barbar, wanita yang tidak pernah berfikir dulu sebelum bicara, wanita pemalas, Wanita separuh hidupku.."


"Kamu menghina aku?" Tanya Rara begitu mendengar kata pemalas


"Tidak, Aku mencintai kamu"


"Rendy lalu...."


"Aku tidak memikirkan itu, mungkin Tuhan belum mempercayakan seorang anak kepada kita, jika nanti sudah di percayakan kita akan memiliki anak 10 orang"


Rara terdiam memandangi Rendy,


Rendy mengeluarkan kotak hitam kecil yang di balut pita pink. Ia mendekat ke arah Rara yang tidak menduga sama sekali.


Rendy menggenggam tangan Rara, dan menatap wanita itu. Tidak ada kebohongan, hanya saja matanya berkaca-kaca menahan bahagia.


"Rara Wijaya, terimakasih sudah memilih aku dan menghabiskan sisa hidup bersama aku?"


"Berbagi cerita tentang kesedihan, kesenangan dan keluh kesah bersamaku... Tetaplah tertidur dan terbangun di sampingku untuk selamanya?" Ucap Rendy memberikan cincin kepada istrinya, Rara tersenyum haru dan langsung memeluk Rendy.


Bersambung