
Senyuman kecil itu masih membekas di bibir Rara, entah apa penyebab Rara tersenyum. Namun, mampu membuat Rendy menahan emosi.
Rendy menggelengkan kepala, menghempaskan nafas sekuat mungkin.
"Pernikahan ini hanya palsu, kamu bebas bertemu dengan siapa pun, begitu juga saya!" Ucap Rendy meneguk minuman di gelas yang di pegangnya
"Baiklah" Sahut Rara dan berlari ke arah kamar
Tidak berselang lama, Rara kembali keluar dari kamar. Ia sudah mengganti pakain dan membawa tas kecil. Seraya mempercepat langkah kaki, Rara menoleh ke belakang dan terpaksa menghentikan langkahnya.
Ia melihat Rendy sedang menatap aneh ke arah dirinya.
"itu kamar untuk aku sendirikan?" Tanya Rara dan langsung mendapatkan anggukan dari Rendy
"Oke!"
Rara berlari ke arah pintu keluar. Ia sudah tidak sabar untuk menemui Angga dan Raisa. Hanya saja, ketika Rara sampai di gerbang bercat hitam itu. Gerbang sudah di kunci oleh satpam penjara rumah. Dan ketika Rara meminta untuk di bukakan, Pak Budi nama satpam di rumah itu hanya menggelengkan kepala.
"Buka gerbangnya" Suruh Rara melihat Pak Budi masih duduk
"Maaf non, tapi kuncinya sama tuan!"
"Apa?"
Rara merasa geram ketika mengetahui itu semua. Di saat ia kembali ke dalam rumah. Rendy sudah mengenakan handuk dan membiarkan dada bidangnya terlihat begitu saja.
"Wah!" Ucap Rara kagum begitu melihat badan pria itu
"Rara" Sambungnya memukul kepala sendiri
"Tadi kamu bilang aku bebas bertemu dengan siapa saja, tetapi kenapa gerbang di kunci?" Omel Rara seraya menelan ludah
"Ya!"
"Kuncinya mana?"
"Tetapi saya tidak bilang, kamu boleh berkeliaran kemana saja!"
"Kamu adalah seorang wanita penjamin dalam keluarga mu, bisa saja kamu melarikan diri,dan saya rugi dong!"
"Lebih tepatnya, simpanan saya!"
Lagi-lagi Rara seperi di permainankan Rendy. Tidak cukup rasanya tadi malam Rendy sudah membuat malu diri Rara. Kini Rendy menguncinya di rumah kosong itu
"Lunasi hutang mu dengan cara bekerja di rumah saya!"
"Rendy aku bukan pembantu kamu"
"Kamu tidak punya hak seenaknya atas diri aku,aku akan melunasi dengan cara aku sendiri"
"Masuk kamar!" Teriak Rendy seraya menunjuk ke arah kamar tamu
Rara masih berdiri, ia tidak peduli sekeras apa suara Rendy saat ini. Bagi Rara jika Rendy bisa berlaku seenaknya,maka ia juga bisa berlaku seenaknya.
"Aku tidak mau!" Bela Rara bersikeras
"MASUK!" teriak Rendy dan kini tangannya sudah menekan bahu Rara
"Orang tuamu sudah menjual kamu ke saya, jadi masuk!" Seru Rendy semakin kasar
"Tapi kamu sudah menikahi aku!"
"Aku juga bisa menceraikan mu suatu saat"
"Wanita seperti kamu ini banyak berkeliaran di luar sana!" Ucap Rendy tersenyum jahat
"Dan sungguh kamu tidak pantas mendapatkan wanita baik, kamu tahu kenapa? Karena orang seperti kamu tidak layak di cintai!" Balas Rara merasa Rendy sudah menginjak-injak harga dirinya
"Satu lagi kamu tidak berhak melarang aku,kamu salah orang jika ingin membalaskan dendam!" Sambung Rara seraya mengambil kunci yang terletak di meja samping Rendy
Rendy terdiam dan membiarkan Rara pergi begitu saja. Rara menepis air mata yang jatuh tiba-tiba, semua yang keluar dari mulut Rendy terasa menyakitkan baginya.
Rara yang saat ini tidak mempunyai mobil terpaksa harus menunggu taxi online di depan pagar rumah. Rendy mengintip Rara dari jendela, dan tidak lama kemudian ia memanggil Pak Joko untuk mengantarkan kemana Rara ingin pergi.
Baru saja Pak Joko mengiyakan suruhan Rendy, Rara sudah lebih dulu menaiki taxi dan berlalu pergi .
Bersambung