
Keributan di rumah sakit semakin menjadi ketika Bu Shireen datang. Ia tidak tinggal diam ketika Bu Silvi menyakiti anaknya.
Bu Shireen mendorong Bu Silvi agar menjauhi Rara.
Tidak berselang lama, ajudan Rendy juga mulai berdatangan. Bu Silvi menampar satu persatu ajudan Rendy. Ia kesal karena mereka di bayar untuk menjaga Rendy
"Apa kalian di bayar untuk bermain-main" Tanya Bu Silvi,
"Mama hentikan" Suruh Andre menarik Mamanya untuk duduk
Dua jam kemudian Rendy selesai di operasi. Tetapi dia belum juga sadarkan diri. Rendy di pindahkan ke ruangan transisi, ruangan yang masih butuh pantaun Dokter.
Kata Dokter, kemungkinan Rendy sadar belum bisa di pastikan,
Rara hanya bisa menepis air matanya mendengar itu.
Jam 1 malam, sebagian keluarga Rara dan Rendy mulai meninggalkan rumah sakit, kini hanya tinggal Rara dan ajudan Rendy.
"Buk Rara, Apa penyidikan kematian Pak Harris masih di lanjutkan atau menunggu Pak Rendy bangun dulu?" Tanya Bobby ketika melihat Rara duduk terdiam
"Lanjutkan dan selidiki juga orang yang menembak suami saya, beberapa CCTV terpasang di sudut jalan dan rumah"
"Baik Buk!"
"Dan diamkan ini dari keluarga Rendy, mulai besok pagi saya akan mengambil alih posisi suami saya untuk sementara dan laporkan bagian terkecil sekaligus kepada saya"
"Siap Buk!"
"Mulai besok pagi, selain Dokter dan keluarga tidak boleh ada yang masuk keruang Rendy"
"Laksanakan Buk!"
Malam harinya Rara tidak tidur sama sekali, ia menyuruh Pak Joko untuk mengambil laptop dan beberapa berkas Rendy di rumah. Rara mulai mempelajari cara kerja kantor Rendy. Dan mengenali beberapa bagian penting dari perusahaan itu.
Rara menatap suaminya cukup dalam. Kali ini Rara tidak akan menangis berlarut-larut, itu tidak akan menyelesaikan masalah. Ia juga tahu akhir-akhir ini suaminya sering kelelahan. Tidur larut malam. Bangun terlalu cepat. Rara akan menggantikan suaminya. Ia akan membiarkan Rendy beristirahat sejenak.
Beban berat Rendy, kini Rara juga ikut memikulnya.
"Sayang doain aku berhasil"
"Kamu tidur yang nyenyak dan cepat sadar" Ucap Rara mengelus pipi Rendy
Rara mengirimkan pesan kepada Clara untuk mengadakan meeting mendadak pagi ini bersama Manager setiap team.
Rara juga belajar berbicara soal bisnis agar besok ia bisa lancar menuangkan idenya
Dan ketika jam 6 shubuh Clara melihat ponselnya. Tidak seperti biasanya Rendy seperti itu, pikir Clara. Karena yang Clara tahu Rendy lebih suka melakukan meeting pada jam 9 pagi.
Clara langsung mengabari lewat chat grup.
Karena Meeting pagi Clara juga mempercepat berangkatnya.
Jam 8 seluruh manager di perusahaan itu sudah berada di ruang meeting. Begitu juga Clara sudah mempersiapkan semuanya di meja Rendy.
Karyawan yang ada di ruangan itu bertanya-tanya apa yang sedang terjadi,
Rara bersama Pak Joko menuju ke kantor, sedangkan Rendy di jaga oleh 4 orang ajudannya. Dan Bobby sudah menunggu Rara di pintu utama.
Jam 08.15 Rara sampai di kantor. Walaupun sekarang ia mengalami kegugupan yang luar biasa, tetapi Rara mencoba untuk bersikap tenang.
Beberapa karyawan yang melihat kedatangan Rara mulai mencuri perhatian dan bertanya apa yang terjadi.
Bobby mengantar Rara ke ruang meeting yang berada di lantai dua. Dan ketika sudah berada di depan pintu yang tertutup itu Rara tersenyum dan mengatur nafasnya.
Ketika Bobby membukakan pintu, semua orang di ruangan itu berdiri dan kaget melihat kedatangan Rara begitu juga yang dirasakan oleh Clara.
Rara berjalan dengan anggun ke arah kursi yang sudah di sediakan
"Silahkan duduk!" Suruh Rara ketika ia sudah duduk terlebih dahulu
Bersambung