
Setelah berhasil menikahi Rara, Rendy merencanakan niat jahat. Dua hari setelah acara sakral itu. Rara masih di rumah orang tuanya. Rendy tidak pernah mengunjungi dengan alasan lagi sibuk mempersiapkan acara pesta pernikahan mereka.
Rara tidak mengambil pusing soal itu. Ia tidak mengharapkan sesuatu dari Rendy.
Dan siang ini, Rendy menjemput Rara untuk tinggal bersama. Tidak ada Pak Joko, hanya Rendy seorang diri.
Keluarga Rara juga tidak mengantarkan anaknya ke rumah menantunya.
Dengan berat hati dan tidak ada yang menahan Rara mengikuti Rendy.
Rara biasanya si wanita pemberani. Namun, tiba-tiba saja ketakutan menghampiri. Ia takut dengan ancaman Rendy yang akan menghancurkan hidupnya. Rara mencoba tersenyum. Namun, tetap saja ketakutan itu tidak bisa di sembunyikan.
Butuh satu jam perjalanan untuk sampai ke rumah Rendy.
Dan di rumah itu sudah ada keluarga Rendy yang terlihat sibuk membantu mengurus acara untuk nanti malam.
Rara seperti orang asing, tidak ada yang menyambut kedatangannya termaksud ibu mertuanya.
"Ikuti saya" Ucap Bu Silvi membawa Rara ke lantai dua.
Rara mengikuti ibu mertuanya yang terlihat tidak menyukainya. Dan ketika Rara sudah masuk ke dalam kamar itu. Bu Silvi mengunci pintu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Rencana mereka berjalan sesuai harapan.
Mendekati waktu pesta, Rara kembali di dandani oleh beberapa orang. Rara juga di berikan gaun bewarna gelap. Dan beberapa menit kemudian seorang pelayan memberikan Rara minuman yang sudah di campur dengan alkohol.
Gaun panjang yang sampai menyentuh lantai itu sudah sobek di bagian belakang. Itu rencana Bu Silvi tanpa memberitahu Rendy. Sedangkan untuk minuman alkohol itu adalah rencana Rendy. Ia ingin memperlihatkan kepada tamu-tamu betapa buruknya anak Pak Adit.
Rara yang sudah menghabiskan minuman itu, tanpa meninggalkan setetes pun. Mulai merasakan badan mulai panas dan pipi sudah memerah.
Rara tersandar di ranjang tidur,ketika ia mencium aroma alkohol yang keluar dari mulut.
Orang-orang sudah meninggalkannya. Dan saat itu juga Rendy menghampiri Rara.
Ia tersenyum jahat melihat Rara mulai hilang keseimbangan.
"Ayo keluar, biar orang-orang pada tahu kelakuan anak Adit Wijaya"
Rara yang sudah merasakan pusing, terlihat mencoba sekeras mungkin untuk berdiri. Ia sempoyongan dan kembali terjatuh ke lantai. Rendy tidak mempedulikan dan malah meninggalkan Rara seorang diri.
Rara sekuat tenaga mencoba untuk berjalan menuruni anak tangga. Sedangkan di lantai dasar tamu undangan sudah berkumpul. Rendy berdiri dengan senyuman jahat. Ia tidak sabar ingin mempermalukan Rara.
Begita juga keluarga Rara yang baru datang terlihat menunggu Rara untuk keluar.
Rara mulai menuruni anak tangga dengan berjalan sempoyongan. Ia mulai menarik perhatian tamu yang datang. Bahkan ada juga yang mulai bergosip ria.
"Astaga kamu minum alkohol karena menolak perjodohan ini" Ucap Rendy ketika ia sudah mendekati Rara
Pak Harris dan Pak Adit langsung kaget mendengar kata-kata Rendy. Rara menepis tangan Rendy yang bertengger di bahunya.
Ia mencoba kembali berdiri dan tersenyum aneh.
Rara berjalan ke arah keluarganya, ia terduduk dan menangis ketika melihat Bu Silvi ikut berjongkok.
"Ma, mereka sengaja melakukan ini semua" Ujar Rara menepis air mata
"Tidak, kalian juga sengaja melakukan ini semua" Sambung Rara berdiri dan mulai mengacak-acak pesta itu
Rendy tersenyum licik ketika melihat Rara semakin hilang kesadaran. Gelas dan piring mulai berjatuhan, Rara berteriak kesana kemari. Tamu-tamu mulai berbisik-bisik. Pak Adit mencoba menenangkan Rara, tapi tetap saja Rara mengoceh dan menghancurkan semuanya.
Pak Harris menekan-nekan kepala melihat tingkah laku menantunya. Rendy hanya menjadi penonton dan menikmati kehancuran istrinya.
Rara kembali terjatuh, tangannya mengenai serpihan kaca. Ia meringis kesakitan. Dan ketika Rendy melihat itu. Ia mulai merasa iba. Namun, tangan Bu Silvi menahan untuk tidak pergi.
Bersambung