CEO, MY HUSBAND

CEO, MY HUSBAND
CHAPTER 30



Dua jam sebelum kejadian.


Rara masih duduk di ranjang tidurnya. Entah kenapa setiap hari ia selalu memandang keluar jendela seperti ada seseorang yang sedang di tunggunya.


Rendy sedari tadi memperhatikan Rara, dan tanpa sengaja Rara menoleh ke arah pintu dan menangkap sesosok pria yang memeluknya tadi pagi.


Rendy menundukkan kepalanya. Ia tidak tahu memikirkan apa. Sedangkan Rara semakin penasaran melihat pria itu sedari tadi berdiri disana.


Rara mencoba berjalan sendiri dan berdiri di depan Rendy. Hanya saja Rendy tidak menyadari itu.


"Kamu siapa?" Tanya Rara memecahkan kesunyian Rendy


Rendy tersenyum menatap istrinya. Lagi dan lagi Rendy kembali memilih memeluk Rara. Dan ketika pelukan Rendy cukup kuat, Rara sedikit meringis kesakitan. Karena jahitan di tubuhnya masih terasa nyeri.


"Terimakasih kamu masih hidup"


"Ya, tetapi kamu siapa?" Tanya Rara


Rendy menyadari Rara menanyakan hal yang sama, dan Rendy mencoba untuk meyakinkan kembali apa yang ada di pikirannya saat ini


"Kamu tidak ingat aku?" Tanya Rendy.


Jika Rara menjawab tidak, maka pertanyaan atas jawaban Rendy adalah benar bahwa Rara hilang ingatan


"Tidak!" Rara menggelengkan kepala


Rendy sedikit tersenyum lega, dan ia menggunakan kesempatan ini untuk membawa Rara pergi bersamanya. Rendy mengajak Rara untuk masuk ke dalam ruangannya lagi.


Rendy juga menggenggam tangan Rara dan menatap wanita itu


"Aku Rendy suami kamu!"


"Apa? Aku sudah menikah?"


"Ya kita menikah karena saling mencintai"


"Tetapi kenapa mereka berbohong?" Tanya Rara


"Aku minta maaf, sungguh minta maaf"


"Untuk apa?"


"Aku mencintai kamu dan mari kita pulang" Ajak Rendy


Rara melepaskan genggamannya dan menatap Rendy. Ia tidak mengingat orang-orang di sekelilingnya. Dan karena itu juga yang membuat Rara penuh kebimbangan.


Rendy masih menunggu jawaban Rara, satu menit, lima menit dan akhirnya Rara mengiyakan dan setuju untuk pergi dengan Rendy.


Rendy membawa Rara ke Villa pribadinya yang tak seorang pun dari keluarganya yang tahu. Sepanjang perjalanan kesana Rendy tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.


Sedangkan di rumah sakit kedua keluarga itu mulai ribut dan tidak ingin memperkeruh suasana Pak Adit dan Pak Harris mencari Rendy dan Rara diam-diam. Mereka kembali ke rumah masing-masing sedangkan Pak Adit dan Bu Shireen mulai geram dengan sikap menantunya itu.


Sesampai di Villa itu, Rendy menyuruh tukang bersih-bersih di tempat itu untuk menyiapkan semua keperluan mereka. Mereka adalah sepasang suami istri yang tinggal dan di suruh merawat Villa itu oleh Rendy.


Rendy membeli Villa itu diam-diam dari keluarganya karena dulu dia Aurel sering menghabiskan waktu disana. Dan itu juga keinginan Aurel yang menyukai tempat sepi. Jauh dari hiruk pikuk kendaraan.


Ketika malam tiba Rendy membuka jendela Villa itu. Hamparan pohon dan kolam renang menjadi pemandangan yang menyejukkan. Belum lagi semilir angin dan riuhnya udara dingin memasuki ruang itu.


Kerlap-kerlip bintang juga menambahkan kekaguman mereka.


Rara baru saja selesai mandi, ia duduk di tepi ranjang menatap keluar yang di hiasi oleh lampu-lampu taman.


Tidak berselang lama Rendy masuk dan membawakan Rara segelas cokelat hangat kesukaan istrinya. Rendy duduk di samping Rara, ia tersenyum manis dan jari jemarinya membelai kulit halus Rara.


Rendy sudah tidak kuasa menahannya dan untuk pertama kalinya juga Rendy mencium bibir Rara tanpa penolakan dari wanita itu. Rendy semakin ganas, tidak hanya bibir kini Rendy juga menciumi telinga dan leher Rara.


Rendy merebahkan tubuh istrinya, satu persatu ia berhasil membuka kancing baju tidur Rara. Dan untuk pertama kalinya juga Rendy membuka segel Rara.


Dan ketika pagi menyapa, mereka saling berpelukan di dalam selimut yang sama tanpa memakai apa-apa.


Bersambung