CEO, MY HUSBAND

CEO, MY HUSBAND
CHAPTER 19



Pagi itu Rendy baru melihat ponselnya. Dan tidak ada apa-apa disana, karena Clara sudah menghapus pesan dan panggilan dari keluarga Rendy.


Rendy dan Clara menaiki mobil terpisah. Dan sepanjang perjalanan Rendy membuka sebuah kotak yang berisik kalung yang akan di hadiahkan kepada Rara. Ia tersenyum manis ketika membuka kotak itu kembali.


Satu jam dari bandara karena macet perjalanan. Rendy sampai di gang perumahannya. Namun, sepanjang gang. Karang bunga bertuliskan duka cita memenuhi jalan itu. Sampai pada titik karang bunga itu semakin banyak dan menumpuk di depan gerbang rumahnya.


Berkat ide Pak Harris semua berjalan sesuai rencana. Dan ia juga mengancam keluarganya jika memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi kepada Rendy.


Rumah itu sepi, hanya ada Pak Budi satpam di rumah itu. Dan ketika melihat Rendy kembali. Pak Budi berlari membukakan gerbang.


"Siapa yang meninggal?" Tanya Rendy masih baik-baik saja


Mendengar suara Rendy, Pak Joko berlari keluar dan memeluk tuan mudanya. Hal yang tidak pernah di lakukan Pak Joko sebelumnya.


Pak Joko menangis untuk meyakinkan Rendy.


"Tuan, Bapak minta maaf!"


"Joko ada apa?" Tanya Rendy mendorong badan Pak Joko untuk menjauhinya


"Non Rara sudah pergi!"


"Siapa yang mengizinkan dia kabur dari rumah saya?" Teriak Rendy penuh amarah


"Tiga hari yang lalu, Non Rara kecelakaan dan meninggal sebelum operasi selesai"


Rendy tersandar ke tiang pos satpam. Ia terduduk dan tanpa sadar sebulir air mata membasahi pipinya. Air mata itu tidak berhenti walaupun Rendy sudah menipisnya beberapa kali. Rendy tidak sanggup lagi untuk bangun dari duduknya. Tenaganya terasa hilang. Semuanya nampak berantakan.


Dan beberapa menit kemudian Pak Harris bersama sopirnya mengunjungi rumah anaknya. Ia sudah melihat kedatangan Rendy. Dan ketika Rendy baru saja berhasil bangun dari tempat sandarannya. Ia sudah mendapatkan tamparan kanan dan kiri oleh Pak Harris. Pak Harris benar-benar emosi melihat tingkah laku anaknya.


"Dasar pembunuh!" Teriak Pak Harris dan langsung membuat Rendy terduduk kembali


"Belum genap pernikahan kamu dua bulan, kamu sudah membunuh anak orang!" Sambung Pak Harris dan di saat ia ingin memukul Rendy kembali. Pak Joko langsung menahannya.


Pak Harris tidak bisa lagi mengontrol emosinya dan pada akhirnya ia meninggalkan rumah Rendy.


Persekian menit kemudian Rendy bangkit lagi, dan masuk ke dalam rumahnya, dan ruangan yang di tuju pertama kali adalah kamar Rara. Ia masih melihat obat yang di berikannya beberapa hari yang lalu. Bahkan gelas berisi air itu masih ada disana. Rendy membuka lemari, pakain Rara masih tersusun disana. Bagaimana Rendy pergi saat itu, jendela kamar istrinya masih terbuka lebar.


Pak Harris sudah memanipulasi berita di TV dan sosial media. Rendy membuka ponselnya dan mncari kecelakaan di hari itu. Ia terduduk ketika melihat Rara di keluarkan dari mobil. Ia melihat Rara sudah di penuhi darah. Dan beberapa serpihan kaca juga menempel hampir di seluruh tubuhnya.


Rendy mengingat betapa kesakitannya Rara saat itu terkena serpihan kaca kecil. Dan hari kemarin hampir di semua tubuhnya di kenai serpihan kaca mobil. Lagi-lagi air mata Rendy menitik. Kali ini ia menangis histeris, Rendy memukul-mukul dadanya yang terasa sangat sesak.


Bersambung