CEO, MY HUSBAND

CEO, MY HUSBAND
CHAPTER 50



Orang-orang kembali berdatang. Rumah itu semakin ramai di kunjungi karyawan Pak Harris dan rekan bisnisnya.


Juga terlihat kedatangan Angga dan Raisa, Clara, dan Aurel.


Aurel berpura-pura ikut bersedih tetapi matanya selalu menatap Rendy dan Rara.


"Maafin aku Ren?" Pinta Rara menghapus air mata suaminya


"Aku juga minta maaf dan jangan tinggalin aku!" Pinta Rendy seperti mencari celah agar Rara tidak pergi dari hidupnya


Tepat jam 10 pagi Pak Harris di kebumikan di pemakaman keluarga mereka. Semua berjalan lancar dan pihak keluarga juga sudah mengikhlasnya. Satu persatu perziarah mulai meninggalkan tanah perkuburan itu. Begitu juga keluarga Rendy. Rara kembali ikut bersama suaminya.


Setelah kepergian Pak Harris, Rendy dan kakak sulungnya bekerja keras untuk menaikkan perusahaan itu. Ia tidak ingin mengecewakan Papanya.


Kini, dua minggu sudah berlalu. Rumah tangga Rara dan Rendy berjalan semakin baik. Mereka tidak lagi tidur terpisah, Rara mencoba memaafkan semua kesalahan Rendy.


Tetapi penyelidikan tentang kematian Pak Harris terus berlanjut. Rendy ingin menemukan pelaku yang membunuh Papanya.


Dan ketika malam tiba, Rara sudah mempersiapkan makan malam untuk suaminya.


Ia tersenyum menatap ikan bakar yang berhasil di masaknya untuk Rendy, karena beberapa hari yang lalu Rendy menceritakan makanan favoritnya.


Rara berlari keluar ketika mendengar suara mobil Rendy. Rara selalu menyambut kedatangan pria itu. Rendy sudah berubah, Perempuan-perempuan aneh yang selalu mendekati Rendy kini tidak pernah muncul lagi.


Selesai mandi Rara dan Rendy menikmati makan malam bersama. Rendy menceritakan kesibukannya seharian dan Rara menjadi pendengar yang baik.


Baru beberapa suapan terdengar suara mobil berhenti di halaman rumah mereka.


Bu Silvi menyambangi kediaman anaknya. Bu Silvi tidak berubah ia tetap membenci Rara


"Mama" Ucap Rara berjalan mendekati mertuanya


"Rendy" Tutur Bu Silvi dan tidak menghiraukan Rara


"Sekarang Mama kasih kamu pilihan, menceraikan istri kamu atau meninggalkan perusahan Papa!"


"Ma!" Jawab Rendy kaget dengan ucapan Mamanya


"Jawab Mama, Mama tidak ingin berdebat!"


"Dan kamu suami saya sudah tidak ada lagi, tidak ada yang akan membela kamu!"


"Tinggalkan anak saya!"


"Aku tidak akan meninggalkan istri aku Ma!"


"Sekalipun aku hidup susah"


"RENDY!" teriak Bu Silvi


"Kamu lebih memilih dia dari pada keluarga kamu?"


"Rara keluarga aku Ma!"


Bu Silvi menghentakkan kakinya, mendengus kesal dan berlalu meninggalkan mereka berdua.


Rara hanya diam memandangi lantai dan melihat itu Rendy memeluk istrinya.


Rendy mencium kening Rara berulang kali dan mengatakan.


"Tidak ada yang berubah, sesulit apapun tetap di sisi aku"


Rara mengangguk dan membalas memeluk Rendy. Pak Joko dari sudut dapur tersenyum manis melihat Rendy sudah berubah, Rendy tidak lagi kasar. Begitu juga Rara. Mereka seperti pasangan yang sedang di mabuk cinta.


Rara mengajak Rendy untuk melanjutkan makan kembali. Namun, raut wajah Rendy tidak bisa berbohong. Ia tersenyum tetapi memendam kecewa yang sangat dalam kepada Mamanya.


Bu Silvi sampai di rumah dan meneriaki anak sulungnya. Andre yang sedang bekerja di taman belakang langsung menghentikan dan menghampiri Mamanya.


"Mulai hari ini saham Papa kamu yang handle, kita tidak membutuhkan Rendy lagi!"


"Ma, tanpa Rendy saham Papa akan anjlok, Mama lupa Rendy telah berhasil menjadi CEO muda tanpa bantuan papa. Gerai kosmetiknya bahkan menembus pasar internasional!"


"Mama berhenti ikut campur urusan rumah tangga mereka" Bu Silvi yang sedari tadi kesal langsung menumpahkan kepada Andre. Tangan Bu Silvi mendarat di pipi anaknya. Andre tersenyum simpul dan meninggalkan Mamanya yang masih di liputi emosi.


Betsambung