
Dan satu hari sudah kepergian Rendy keluar kota. Ia tidak mengabari Rara seditik pun. Rara hanya berdiam diri di rumah.
Dan tiba-tiba menjelang sore Rara mendapatkan telepon dari Angga. Angga mengajaknya bertemu di restoran cepat saji tempat ia sering menghabiskan waktu bersama dulu.
Merasa bosan Rara mengiyakan permintaan Angga. Rara langsung mengganti baju dan sedikit memoles wajah cantiknya.
Satu jam sudah berlalu, Rara berniat mengajak Pak Joko untuk pergi bersamanya. Namun, ketika melihat sopir itu tertidur pulas. Rara tersenyum kecil dan memilih mengendarai mobil sendiri.
Angga sudah menunggunya sedari tadi. Kira-kira sudah lima belas menit. Dan gelas di depannya itu adalah minuman keduanya. Dan makin sore ini restoran itu semakin ramai oleh pengunjung. Angga tidak memberitahukan Raisa bahwa ia akan menemui Rara.
Karena macet Rara menghabiskan waktu setengah jam perjalanan.
Begitu turun dari mobil ia merapikann baju dan rambutnya, tidak lupa ia tersenyum manis ketika melihat Angga melambaikan tangan kepadanya.
Jantung Angga kembali berdetak ketika melihat cinta pertamanya. Sudah 8 tahun, dan Rara semakin cantik. Sayang saja dia sudah di miliki pria lain.
"Maaf telat, macet tau" Ucap Rara seraya menarik kursi di depan Angga
"Iya, aku merindukan kamu!" Ucap Angga langsung di sertai gelak tawanya
"Heol! Raisa mana?"
"Sibuk kerja" Ucap Angga kembali tersenyum manis
"Bagaimana rasanya menikahi pria yang tidak kamu cintai?" Tanya Angga, dan Rara hanya membalas dengan senyuman kecil
"Oh iya, bagaimana bisa kamu bisa berlabuh di hati Raisa?" Tanya Rara mengalihkan pembicaraan mereka
"Haha, panjang ceritanya!"
"Intinya?" Tanya Rara
"Dia mencintai aku!" Balas Angga masih tersenyum
Mereka berdua bernostalgia kembali. Mulai dari ia masuk SD sampai berpisah. Rara dan Angga tidak berhenti tertawa mengingat kepolosan mereka dahulu.
Dan entah kenapa juga, saat itu Raisa mengunjungi restoran itu. Ia bersama rekan kerjanya terlihat memesan minuman dingin, dan sambil menunggu Raisa melihat pemandangan sekeliling. Dan tiba-tiba matanya menangkap pemandangan yang membuatnya emosi. Angga dan Rara sedang tertawa bersama.
"Raisa?" Ucap Rara masih tersenyum
"Kamu sudah da..." Belum sempat Rara melanjutkan ucapannya, air di dalam gelas itu sudah berpindah ke wajah Rara
"Raisa!" Teriak Angga
"Aku tahu kamu sahabat dia dan aku, tapi kamu seharusnya tahu batas!" Omel Raisa kepada Rara
"Rara kamu itu sudah menikah, dan dia sudah milik aku! Kita bukan hidup di zaman 8 tahun yang lalu!" Sambung Raisa memarahi Rara
"Raisa aku tidak bermaksud apa-apa!"
"Udahlah Ra!"
Langsung saja Angga menarik Raisa dari tempat itu. Angga berusaha menahan marahnya dan membawa Raisa ke mobilnya. Walaupun Raisa memberikan perlawanan tetap saja Angga menariknya untuk keluar. Sedangkan Rara tersenyum sumbang, ia membersihkan wajahnya dengan tissu. Dan orang-orang mulai menertawakannya kembali.
Rara terlihat geram ketika langit ikut menertawakannya. Tiba-tiba saja di luar hujan begitu deras. Rara membayar minuman yang belum sempat di bayar Angga.
Karena hujan juga, langit mulai gelap. Rara mulai beranjak pergi meninggalkan restoran itu.
Dan ketika di tengah jalan, ponselnya berdering. Tertulis Rendy di layar ponselnya. Dan tidak biasanya Rendy melakukan panggilan Video Call dirinya.
Rara sedikit tersenyum dan menepikan mobilnya sebelum menjawab telepon dari Rendy.
Belum sempat Rara bicara, ia sudah di suguhkan dengan pemandangan yang mengerikan. Rendy sedang bercium dengan Clara bahkan ia terlihat penuh nafsu mencium wanita itu. Dada Rara sesak melihat pemandangan itu. Rendy juga mendorong Clara ke ranjang tidur, dan satu persatu kancing di kemeja putih itu mulai terbuka.
Brrraaakk!
Ponsel Rendy terjatuh dan semua tampak gelap.
Rara tertawa dalam tangisannya, dalam satu waktu, dua orang sekaligus menyakitinya. Rara tanpa berfikir apa-apa lagi kembali melajukan mobilnya. Tangan dan kakinya mulai gemetar dalam waktu yang bersamaan. Telapak tangannya mulai perih, jalanan semakin buram karena hujan. Rara menambah laju kecepatannya sampai ia tidak menyadari sebuah truk pengangkut kebutuhan rumah tangga sama-sama melaju dengan kecepatan penuh. Rara tidak kuasa menginjak rem dan membiarkan semuanya terjadi. Mobil Rara langsung terbalik sedangkan truk itu tepat jatuh ke bahu jalan. Rara bersimbah darah dan sebelum ia menutup mata, Rara sempat mengingat kenangannya bersama Rendy.
Bersambung