CEO, MY HUSBAND

CEO, MY HUSBAND
CHAPTER 16



Rara mengingat hari dimana ia mulai menyukai Rendy tetapi ia tidak yakin untuk perasaannya saat itu.


Kala itu, dihari minggu pagi setelah beberapa hari berjalannya pernikahan mereka.


Rendy keluar dari kamarnya, memakai kaos polos bewarna hitam, rambutnya juga terlihat acak.


Seraya membuka kulkas dan mengambil segelas susu, Rendy tersenyum manis, Rara belum pernah sekali pun melihat senyuman termanis suaminya.


Entah berapa menit lamanya Rendy tersenyum. Namun, itu mampu membuat Rara menjatuhkan hati kepada pria itu.


Rara ikut tersenyum menatap Rendy dari balik sudut dapur.


Rara memilih menyembunyikan perasaannya


Dan nyatanya, mencintai itu bukan sebuah kesalahan. Hanya saja dalam memilih waktu untuk mengungkapkannya harus berhati-hati, hanya ada dua kemungkinan. Pertama Waktu keberuntungan dan kedua waktu yang salah.


Semakin hari rasa itu semakin dalam. Rara selalu mencari waktu demi bisa melihat senyuman Rendy. Seperti sabtu sore, Papa Rendy mengundang mereka untuk menghadiri acara keluarga dirumah Om Raffi adik dari Bu Silvi.


Pak Harris menghubungi Rara dan Rara langsung saja mengiyakannya.Dan ketika sabtu mulai menyapa Rara tersenyum bahagia seraya menunggu suaminya pulang dari kantor.


Jam empat sore Rendy bersama Pak Joko sampai dirumah. Rara tersenyum didepan pintu menunggu suaminya keluar dari mobil. Namun, Rendy tidak membalas senyuman Rara. Ia hanya memberikan jas bewarna Biru tua dan langsung masuk kedalam kamarnya.


Rara mengernyitkan keningnya dan bergegas mengikuti langkah Rendy. Setelah sampai dikamarnya, Rendy merebahkan badannya seraya memainkan ponsel. Rara hanya berdiri mematung, wajahnya seperti ditekuk, mengiba menatap Rendy.


Persekian menit Rendy menyadari bahwa Rara ingin memberitahukan sesuatu kepadanya, karena tidak seperti biasa gadis itu mengikutinya.


"Astaga, ada apa?" Tanya Rendy melemparkan ponselnya kesamping tempat tidur


Rara tersenyum manis dan mendekat kearah Rendy


"Papa menyuruh kita kerumah Om Raffi, bagaimana?" Tutur Rara menunggu jawaban suaminya


"Tapi..."


"Sekarang keluar!"


"Kamu jahat!" Ucap Rara dan berbalik meninggalkan kamar suaminya


Rara masuk kedalam kamarnya, dan mulutnya tidak berhenti mengomeli sikap cuek Rendy. Ia merasa tidak enak sama keluarga suaminya. Setelah lelah mengomel sendiri pada akhirnya Rara ketiduran.


Tepat jam tujuh malam Rendy mengetuk pintu kamar Rara beberapa kali.


Matanya yang masih mengantuk, memaksa dia untuk bangun. Dan ketika didepan pintu ia melihat Rendy sudah rapi. Mengenakan kemeja hitam yang digulung sampai lengan dan celana jeans hitam yang terlihat cocok di padukannya.


Rara kesal melihat Rendy bisa keluar menemui wanita lain sedangkan kerumah keluarganya ia bermalas-malasan.


"Kamu jahat ya.....


Apa teman-teman kamu lebih penting dari pada keluarga kamu!"


"Kalau kamu tidak mau kita berangkat bersama setidaknya kamu sendiri yang menemui keluarga kamu!" Omel Rara, sedangkan matanya sudah berkaca-kaca


"Mandi, saya tunggu 15 menit!" Balas Rendy setelah mendengar omelan istrinya


Mendengar jawaban Rendy, Rara tersenyum manis dan spontan memeluk suaminya. Rendy kaget bukan main, untuk beberapa saat Rendy terdiam didalam pelukan Rara. Sedangkan Rara masih tersenyum lebar. Ia mencium wangi khas Rendy dan merasa nyaman didalam dekapan suaminya.


"Hmmm!" Dehaman Rendy menyadarkan Rara atas apa yang dilakukannya. Ia membulatkan bibirnya dan perlahan menjauhi Rendy


Tanpa berkata apa-apa, Rara mundur secara perlahan dan menutup pintunya sekencang mungkin. Melihat sikap Rara, Rendy menggelengkan kepala seraya tersenyum kecil.


Bersambung