CEO, MY HUSBAND

CEO, MY HUSBAND
CHAPTER 22



Beberapa hari kemudian Di rumah sakit, keluarga Rara, Angga dan Raisa sedang melihat keadaan Rara. Rara belum juga menunjukkan perubahan.


Pak Adit menepis air matanya melihat keadaan Rara saat ini. Tidak ingin berlama-lama ia mengajak anak dan istrinya untuk pulang, karena mereka juga butuh istirahat.


Kini hanya tinggal Raisa dan Angga. Raisa menggenggam tangan sahabatnya. Raisa ingin segera melihat senyuman Rara kembali.


"Ra kamu cepat bangun ya?"


"Kali ini aku berjanji tidak akan menyakiti kamu, terutama memisahkan kamu dengan Angga!"


"Raisa..." Ucap Angga dan langsung melihat keseriusan dari wajah Raisa


"Kamu hidup bahagia sama Angga ya? Cepat bangun, lupakan soal kamu yang sudah menikah"


Angga langsung menarik tangan Raisa untuk meninggalkan ruangan itu. Ia membawa Raisa ke arah taman rumah sakit.


Sesampai disana Angga menatap Raisa yang menundukkan kepalanya. Angga menghela nafas, sebelum menanyakan itu semua kepada Raisa.


"Apa maksud kamu?" Tanya Angga cukup serius


"Kita sudah putus dan kamu yang meminta itu, dan hari ini aku mengiyakannya!" Sambung Raisa tersenyum kecil dan pergi begitu saja meninggalkan Angga


Angga terdiam mengingat beberapa hari yang lalu. Karena keegoisannya kini Raisa benar-benar meninggalkannya.


Raisa kembali lagi ke ruangan tempat Rara di rawat. Ia mengecup kening Rara dan berpamitan untuk pulang.


Dan sebelum meninggalkan rumah sakit, Raisa sempat mengintip Angga yang masih terdiam di taman itu.


Raisa menipis air matanya. Namun, bibirnya tersenyum untuk hal yang ia tidak mengerti.


Tepatnya tiga tahun yang lalu. Malam dengan rintik hujan, dan riuhnya angin malam. Raisa berlari ketika melihat pria itu keluar dari kantornya.


Oh iya, perkenalkan saat ini Angga juga menjabat di salah satu perusahaan besar. Ia sebagai salah satu CEO disana. Angga melanjutkan bisnis itu karena mengganti posisi Ayahnya. Dan Angga juga anak pertama dari empat bersaudara. Adik-adiknya masih duduk di bangku sekolah dan itu berjenis kelamin laki-laki semua.


Raisa tidak mempedulikan rintik hujan yang semakin deras membasahi seluruh tubuhnya. Angga yang sudah menyediakan payungnya sedari tadi, sedikit menarik tubuh Raisa mendekatinya, agar wanita itu tidak bertambah basah.


Raisa tersenyum dan merasa yakin untuk menyatakan cintanya detik ini juga.


"Aku menyukai mu, Angga aku menyukai mu! Aku banyak menyukai tentang mu!" Ucap Raisa tersenyum manis


"Aku tidak peduli kamu sahabat aku, karena yang aku tahu, tidak ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan yang tidak menyimpan perasaan"


"Aku menyukai kamu satu tahun, dua tahun? Tidak! Ini sudah bertahan selama delapan tahun" Sambung Raisa dan Angga masih terdiam memandangi gadis itu. Ia tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


Bahkan Raisa juga tahu Angga sangat-sangat menyukai Rara. Tetapi Raisa tidak peduli. Rara sudah menghilang dan Rara tidak pernah kembali menemui Angga. Rara membiarkan begitu saja Angga menunggunya tanpa ingin menghampirinya.


Dan kini, Raisa berlari menghampiri Angga. Ia tidak peduli di terima atau di tolak. Raisa percaya hatinya akan di tenang jika sudah memberitahu pria itu.


Raisa menginjitkan sedikit kakinya. Ia tanpa ragu mencium bibir Angga yang masih terdiam. Angga kaget dan tanpa sengaja melepaskan payungnya. Kini mereka sudah basah bersama


Dan ketika Raisa tersenyum manis dan berniat meninggalkan Angga. Tangan Angga menahannya dan pria itu membalas ciuman Raisa. Mereka berciuman cukup panas sampai Raisa mendorong sedikit dada Angga.


Angga menghentikan ciumannya dan memeluk Raisa dengan senyuman khasnya.


"Mari kita berkencan!" Bisik Angga di telinga Raisa.


Bersambung